Jumat, 16 Agustus 2013

Cintaku Untukmu Bersandar Dihatinya



                Malam ini tepat hari minggu, sudah genap seminggu Anisa si cewek cantik, tinggi dan terlihat sempurna dimata para cowok yang melihatnya itu kehilangan kekasihnya yang entah pergi kemana. Suasana hati Anisa tak kunjung mereda dari rasa galau bak keong yang kehilangan rumahnya. Hatinya sesak tak leluasa dia bernafas seperti hari saat dia ditemani kekasih yang sangat dicintainya.
          Hari-hari tanpa sang kekasih membuat dia tak semangat menjalani hidup, aktifitasnya pun terhambat bahkan dia tak lagi menginjakkan kakinya diKampus idaman para mahasiswa Indonesia itu. Tubuhnya tak bertenaga seperti tanpa tulang yang tak bisa berdiri tegak. Setiap hari Anisa hanya berdiam diri sembari meneteskan mutiara-mutiara indah dari matanya bersandar ditiang rumah yang sudah lama ia huni bersama adik dan Bibi pembantunya.
          Perutnya tak lagi ia hiraukan sama sekali walau sang perut sering kali merengek meminta suapan kecil dari tangan Anisa. Bibi yang melihat keadaan Anisa hanya bisa berdoa semoga Anisa bisa bangkit dari keterpuruknya.
          Bagaimana Anisa tidak demikian? Cowok yang selangkah lagi menjadi pendamping hidup Anisa dan anak-anaknya kelak tak kunjung datang menghampirinya setelah membatalkan pernikahan mereka.
          “Non, Makan dulu! Bibi sudah buatkan nasi goreng kesukaan Non Nisa”. Menyodorkan nasi goreng dan susu hangat yang tertata rapi diatas benda berbentuk kotak bergambarkan kucing imut yang tak lain adalah binatang kesukaan Anisa.
          Anisa tidak merespon sama sekali seperti sudah tidak bisa berkomunikasi dengan suara-suara yang bernaung syahdu ditelinganya. Dia hanya membuka matanya dengan tatapan kosong tanpa arah dan tujuan.
          “Hmmmmm, kasihan Non Nisa, saya tidak boleh membiarkannya terus-terusan seperti ini”. Gumam bibi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
          Bibi kembali kedalam dan meletakkan makanan Anisa diatas meja didalam kamar Anisa. Berharap Anisa akan memakanya jikalau dia masuk kedalam kamarnya nanti.

SKIP……………………………………………………..

          Kita pindah ke cewek satu ini ya reader. Namanya Christy, cewek penyayang, perhatian dan cantiiik pastinya. Dikampusnya dia sangatlah populer. Tak jarang cowok terpesona melihat kecantikanya apalagi kalau dia tersenyum bisa jatuh bangun cowok yang memandangnya.
          Christy sangat dikagumi semua penghuni Kampusnya, karena kepandainya dalam bidang akademi. Salah satunya Yuda, cowok bertampang keren, berbodi gagah dan cukup populer dikampusnya sesudah Derry.
          “Haiii Chris, aku Yuda!” Memperkenalkan diri dengan pedenya.
          “Christy”. Mengulurkan tangan dan mendekap uluran tangan Yuda.
          “Nama yang bagus”. Mengeluarkan jurus pertamanya meluluhkan hati cewek.
          “Thanks!” Membalas dengan senyum yang membuat hati Yuda mencair bagai Musim salju berganti dengan musim Semi.
          “Sayang, ternyata disini”. Muncullah sosok cowok keren levelnya diatas Yuda yang terlihat sedang mencari cewek yang berjabat tangan dengan Yuda.
          “Ehhh Derry, Iya aku lagi mau ke kantin”. Spontan melepaskan uluran tangannya dan menunjuk arah dimana kantin berada.
          “Siapa???” Bertanya pada Christy menunjuk muka kesalnya si Yuda.
          “Oh iyaa, ini emmm ini Yuda. Kita baru ajha kenalan”. Dengan nada patah-patah karena masih kaget dengan kedatangan Derry.
          “MMmmm”. Menutup rapat-rapat mulutnya dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
          “Iya… aku Yuda”. Melotot menggaruk-garuk kepalanya.
          “Jangan macem-macem sama cewekku”. Membisikkan kata itu ditelinga Yuda.
          “Ya udah, kita kekantin dulu ya, Yud?” Tersenyum dan menarik Derry yang masih melotot dihadapan Yuda.
          “Hmm, silakan!” Menggunakan tangan kanannya dengan sopan mempersilakan dua pasangan kekasih itu berjalan meninggalkannya.
          “Apees!” Menepuk keningnya sendiri.

SKIP…………………………………………………………………………………
         
          Karena rasa penasaran dengan Christy yang sangat amat tinggi, Yuda mengikuti Christy sampai kerumahnya. Plonga-plongo dia dibalik gerbang rumah Christy. Yuda memperhatikan Christy yang masuk kedalam rumah dan kembali keluar rumah dengan bergaun indah berwarna merah muda dan wajahnya sedikit dipoles mikeup yang membuat Yuda tambah mengagumi Christy.
          “Piiiphhh…. Lakson Moge yang dikendarai Derry berbunyi dan mengagetkan Yuda hingga melompat dan terjatuh.
          “Rese’…...” Sembari kembali berdiri tegak.
          Derry nampaknya ingin menjemput Christy, melihat hal itu Yuda kembali merubah wajahnya yang awalnya sumringah menjadi kusut dan kesal. Derry dan Christy yang melintas dihadapan Yuda tak menyapa Yuda sama sekali dan Yuda akhirnya memutuskan untuk pulang.
          “Nasiipp… tampang keren kayak aku masih saja tidak laku-laku. Sebaiknya aku pulang saja!” Mengacak-acak rambutnya berjalan meninggalkan gerbang yang dia peluk erat saat memandang wajah Christy.
          “Aaaauuuu”. Anisa yang berlari mundur menabrak Yuda dan terjatuh dipelukkan Yuda.
          Waktu seperti berhenti, mata mereka saling memandang satu sama lain. Bibi yang berlari mengejar Anisa pun ikut terdiam melihat kejadian itu. Sejenak suasana menjadi romantic dan wajah Yuda yang semula kusut kembali sumringah bak pakean yang sudah distrika licin.
          “Non, mau kemana sich?”. Bibi kembali menjalankan waktu yang tadi sempat berhenti.
          “Maaf.. Maaf..” Yuda membantu Anisa berdiri tegak dan melepaskan dekapannya.
          “Saya yang harus minta maaf atas kesalahan non Nisa menabrak Aden”. Tutur kata bibi sopan kepada Yuda.
          Anisa kembali berlari dan masuk kedalam rumahnya. Tanpa melontarkan satu katapun dari mulutnya. Ya begitulah Anisa sejak pernikahannya batal.
          “Dia siapa bik??” Tanya Yuda penasaran.
          “Itu Non Anisa Den, kakak tiri Non Christy. Aden ini temanya Non Christy ya? Non Christynya sudah pergi sama Den Derry, baruuu saja”. Menjelaskan.
          “Panggilnya Yuda ajha bik, Iya saya temanya Christy. Emmm itu makanan buat siapa bik?” Melihat makanan yang dibawa bibik.
          “Ini buat Non Anisa, Den. Mari silakan masuk!”
          “Iya bik”.
          “Begitulah Non Anisa. Sudah sebulan dia tidak mau berbicara sama siapapun sejak kepergian  Den miko”. Menjelaskan dengan logat jawa kepada Yuda yang sedang memperhatikan Anisa yang duduk sendiri diayunan tempat favorit Anisa dan Miko berduaan dulu.
          “Miko siapa bik?” Menoleh ke bibik.
          “Den Miko itu calon suaminya Non Nisa, Den. Dia pergi saat pernikahan mereka akan dilaksanakan. Itu yang membuat Non Nisa jadi seperti ini”.
          “Pergi kemana bik?”
          “Semua orang juga tidak tau keberadaan Den Miko sekarang”.
          “Boleh Yuda bantu Bik untuk suapin Anisa?!”
          “Boleh Den Boleh”. Memberikan sepiring nasi goreng kesukaan Anisa.
          “Makasih bik”. Menerima piring yang disodorkan Bibi dan mendekat kearah Anisa duduk.
          “Hy Cantik. Yuda bawa nasi goreng nih. Enaaaakkkk sekali hlooo. Cantik suka kan? Yuda suapin ya?” Jongkok didepan Anisa yang duduk terdiam diayunan.
          Anisa memandang Yuda dan mau membuka mulutnya yang amat berat menerima makanan apapun itu dengan pelan.
 Setelah makan selesai Anisa diajak jalan-jalan ditaman rumahnya yang sangat luas dan indah. Mereka berhenti dijembatan kolam ikan yang amat sangat sejuk untuk bersantai.
“Kita duduk disini yuk!” Membantu Anisa duduk.
“Kalau Cantik butuh teman, Yuda ada kok buat Cantik. Nanti Yuda ajak Cantik jalan-jalan dan beli Nasi goreng yang banyaaaakkkk sebanyak yang Cantik mau”. Melebarkan tangannya hingga menyentuh kening Anisa.
“Apaan sich J ”. Menghempas tangan Yuda dan tersenyum seakan hidup kembali dari keterpurukkan yang membuatnya seperti mayat hidup.
“Cantik tersenyum?” Senang sekaligus heran.
“Namaku Anisa bukannya Cantik”. Berkata-kata dengan senyum gembira.
“Memang kamu ithu cantik kok!” memandang wajah Anisa kagum.
J”… Dengan malu-malu Anisa membalas senyum Yuda.
“Hy Nis….” Sapa Cherly sahabat karib Anisa dari kejauhan.
“Hy Cher…” berdiri dan mendekati Cherly.
“Kamu sudah move on”. Memeluk Anisa yang sudah ada dihadapanya.
“Yaaa….” Tersenyum melepas pelukkan memandang wajah Cherly lalu kembali memeluk Cherly.
“Yeee.. Aku senang melihatnya”. Bersorak melompat lompat bersama Anisa.
Yuda yang melihat itu merasa kalau dia sudah tidah dibutuhkan lagi dan Yuda pun meninggalkan rumah Anisa dengan senyum bahagia.
“Cowok yang tadii mana, Nis?” Menengok jembatan yang sekarang sudah kosong tanpa penghuni.
“Namanya Yuda… tapi kemana ya dia?” tolah toleh kekanan ke kiri mencari keberadaan Yuda.
“Ya sudah lah… yang penting kamu sudah ceria lagi.. yeee”. Kembali melompat-lompat bersama-sama Anisa.


SKIP……………………………………………………………………………….

“Non Nisa!” kaget melihat Anisa yang berdandan cantik dan berpakaian rapi.
“Kenapa bik? Ada yang aneh?” memantau sekujur tubuhnya yang berbalut drees dan celana jins memeriksa apakah ada yang salah dengan dirinya.
“Tidak Non”.
“Kak Nisa?” Christy pun heran dan tersenyum melihat kakaknya yang sepertinya sudah bangkit dari hal yang menyedihkan sebulan yang lalu.
“Pasti ini gara-gara Den Yuda”.
“Yudaa?”
          “Iya Non”.
“Boleh kan kakak ikut dimobil kamu?”
“Hh, tentu kak”. Memeluk Anisa.
Sampai dikampus Yuda melihat Anisa dan Christy turun dari mobil mewah berwarna silver. Lalu Yuda menghampiri mereka.
“Makasiih ya Yud, kata bibi kamu yang membuat kak Nisa jadi seperti ini”.
“Ahhh itu Cuma kebetulan ajha, Chris”.
“Mungkin karena muka kamu yang unik kali Yud”. Ledek Christy.
“Muka keren kayak gini dibilang Unik”.
J”……. Anisa tersenyum dan melangkahkan kaki mengikuti Christy meninggalkan Yuda yang sedang berkaca dispion mobil mereka.
“Loo looo aku kok ditinggal”. Tak melihat siapa-siapa saat menoleh kearah dimana Anisa dan Christy berdiri tadi. Yuda pun akhirnya berlari dan mengejar langkah Anisa dan Christy.
“Kak Nisa, Christy tinggal dulu ya”.
“Derry pinjem Christy sebentar ya Kak Nisa?” menggandeng Christy dan melangkah meninggalkan Anisa.
“Oh ya silakan!”
“Mau kemana mereka Nis?” Tanya Yuda ngos-ngosan karena kelelahan berlari mengejar Anisa dan Christy.
“Ya berduaan lah biasa orang pacaran. Kenapa? Kamu cemburu?”
“Iyaa sich. Tapi kayaknya aku gak bakalan bisa dapetin Christy”.
“Kenapa?”
“Dia kan begitu mencintai Derry”.
“Mmmm…. Just like that, sabar ajha ya?”. Menganggukan kepala lalu berjalan menuju kelasnya.
“Nisaaaa”. Cherly yang muncul dari dalam kelas langsung memeluk Anisa.
“Aku senang Nis mendengar kabar kamu kemarin”. Saut Dimas.
“Memangnya aku kenapa sich? Sampai kalian segitunya melihat aku sekarang?”
“Sudah lah lupakan!” jawab Dimas.
“Ini yang namanya Yuda?” Tanya Cherly melirik ke Yuda yang gerak geriknya seperti orang yang kebelet pipis saja.
“He hemm…” Jawab Anisa mengangguk.
“Ya sudah, aku pergi dulu ya?” pamit Yuda yang ingin mengejar langkah Christy.
“Mau kemana?” teriak Anisa namun Yuda tak mendengarnya.
“Untuk merayakan kembalinya Anisa dikampus ini bagaimana kalau kita makan bersama?” Ajak Dimas.
“Okee siapa takut”. Jawab Cherly.
“Sekarang niich?” Tanya Anisa yang agak sedikit lemah dan kurang semangat mungkin karena baru menjalankan aktifitasnya yang pertama.
“Ya iya donk Nisa… Ayoo buruan!” Menarik Anisa yang masih sedikit bingung.

SKIP……………………………

Dari kejauhan Yuda selalu memperhatikan gerak gerik Christy yang sedang berdua dengan Derry. Hatinya sediih melihat cewek yang dia kagumi tidak menoleh sedikitpun padanya.
“Huhuhuhu… inikah nasipku TUHAN”. Dengan wajah lucu dia menggeleng-gelengkan kepalanya menatap langit meratapi nasip buruknya itu.
“Kamu kenapa?” Anisa menepuk pundak Yuda yang sedang menyembunyikan dirinya sibalik semak-semak.
“Lihat Nis, pupus lah sudah harapanku”. Menunjuk kearah dimana Christy dan Derry sedang asyik ngobrol.
“Hmmm…” berjalan meninggalkan Yuda.
“Nis, nis.. tunggu. Kalau menurut kamu gue ini gimana? Pantas gak buat Christy?” Menarik tangan Anisa menghentikan langkahnya.
“Kamu ithu baik, perhatian dan Christy bakalan nyesel kalau nolak kamu”. Menjawab pertanyaan Yuda setelah sejenak memandang tangannya yang disentuh oleh Yuda.
“Lalu kenapa Miko ninggalin cewek sebaik kamu”. Memandang mata Anisa.
Mata Anisa berkaca-kaca mendengar pertanyaan Yuda yang menurutnya membuat hatinya kembali bersediih. Anisa meninggalkan Yuda dan berlari entah kemana. Yuda memang sempat bingung namun dia tak segan mencari keberadaan Anisa yang menghilang dari hadapanya karena pertanyaan itu.
“Cantik, maafin aku ya?” Memberikan coklat yang tak lain itu adalah kesukaan Anisa.
“Kamu tau aku disini?” Menerima coklat yang diberi Yuda.
“Kalau aku sedang marah, sedih, kesel aku juga datang ketaman ini, saat aku melihat kupu-kupu yang hinggap dibunga satu sama lain rasanya hatiku jadi damai”. Duduk disamping Anisa dan memandang warna-warni bunga dan kupu-kupu yang indah.
“Aku makan ya coklatnya”.
“Silakan, berarti kamu sudah maafin aku?”
“Hmmmm…” mengangguk.
“Aku antar kamu pulang ya?”
“Boleh….”. Sembari tertawa kecil.
Ditengah perjalan pulang Anisa dan Yuda melihat Derry dan teman-temannya yang sedang membicarakan sesuatu. Anisa dan Yuda sengaja menguping pembicaraan mereka.
          “Aku bisa kan dapetin Christy dan bertahan sampai 5 bulan? Sekarang Aku minta kumpulin kontak motor kalian”. Menadahkan tangan diantara teman-temanya.
          “Hebat juga kamu, Derr. aku salut kamu bisa dapetin cewek terpopuler dikampus kita ini dengan mudah”. Kata salah satu teman Derry.
          “Derry!!!” Teriak Anisa yang mendengar pacar adiknya itu ternyata hanya mempermainkan adiknya.
          “Buuuuegg… dasar cowok kurang ajar!” Yuda memukul Derry dengan power full.
          “Kak Nisa, dengerin Derry dulu kak, Derry bisa jelasin”. Memegang kedua tangan Anisa memohon agar Anisa mau mendengarkan penjelasan Derry.
          “Aku sudah tau semuanya Derr”. Christy yang tadinya ingin menjemput Anisa melihat semua kejadian itu.
          “Plaaaakkk…” Tamparan kekecewaan Christy mendarat dipipi Derry dan berlari meninggalkan semua orang yang ada diTKP.
          “Chris… tunggu!” Yuda mengejar Christy.
          Tiba-tiba Christy berhenti dan memeluk Yuda. Awalnya Yuda terdiam namun lama-lama Yuda berbalik memeluk Christy. Yuda merasa kalau dia bahagia saat itu. Anisa yang melihat Yuda dan Christy merasa sakit, hatinya nyesek sepertinya dia tak rela dengan itu semua. Namun Anisa hanya terdiam karena dia tau Yuda mencintai Christy yang tak lain adalah adiknya sendiri.
          Anisa lalu berjalan menjauh dari mereka, dia tidak mampu memendam airmatanya. Sepanjang jalan Anisa hanya bisa menangis dan kembali bersedih saat dia sudah mulai bisa bangkit kembali.
          “Anisa??” Sapa Cherly yang sedang jalan berdua dengan Dimas yang tak sengaja berpapasan dengan Anisa.
          “Kamu kenapa, Nis?” tanya Cherly menegakkan wajah Anisa yang dia tundukkan disepanjang jalan.
          “Kamu menangis? Siapa yang menyakiti kamu?” tanya Dimas yang khawatir melihat Anisa yang bersedih sampai meneteskan airmata.
          Anisa menutup mulut rapat-rapat dan hanya menggeleng-gelengkan kepala menyembunyikan isi hatinya.
          “Nisa, kalau ada apa-apa cerita sama kita”. Masih memegang kedua pipi Anisa dengan kedua tangannya agar wajah Anisa mampu mereka lihat.
          Anisa tetap menutup mulutnya dan berjalan kearah dimana rumah Anisa berdiri tegak.
         
          SKIP………………………………………………………………..

          “Aku bodoh ya Yud, aku sangat bodoh”.
          “Kamu tidak bodo Chris”.
          “Seharusnya aku tidak percaya dengan Derry”.
          “Sudah lah Chris, janganlah kamu menangis untuk cowok seperti itu!”
          “Kalau saja aku mendengar kata kak Nisa, aku pasti sudah meninggalkan Derry dari dulu dan memilih kamu”.
          “Aku??? Memangnya Anisa bicara apa padamu?”
          “Kak Nisa bilang kalau kamu adalah cowok yang baik dan sangat mencintaiku”.
          “EMmmmm….” Salah tingkah menggaruk kepalanya dan menggerakkan semua badanya sesekali mengusap wajahnya.
          “Kenapa Yud? Kamu mencintaiku kan?” Tanya Christy yang bingung dan mulai ragu saat melihat ekspresi Yuda .
          “EMmmmmm, aku memang sangat kagum padamu Chris. Kamu cantik dan kamu baik. Tapi rasa itu ternyata hanya sekedar rasa kagumku saja. Dihatiku belum ada rasa CINTA untukmu, maafkan aku, Chris”.
          “Jadi kamu tidak mecintaiku?”
          “Aku mencintai cewek lain, Chris. Hatiku sudah mengatakan kalau aku jatuh cinta padanya”.
          “Siapa cewek yang beruntung itu?”
          “Christy……” Derry memotong pembicaraan mereka.
          “Ayo Yuda kita pergi dari sini!” Menarik tangan Yuda.
          “Chris aku mau menjelaskan semuanya”. Menarik tangan Christy.
          “Gak perlu Derr, aku mau kita putus!” Menatap penuh benci.
          “Aku mohon, Chris!”
          Tanpa berkata-kata lagi Christy dan Yuda meninggalkan Derry yang nampaknya bersungguh-sungguh ingin meminta maaf sama Christy.

          SKIP………………………………………………………………………

          “Kak, Christy mau ajak kakak sama Yuda buat makan malam”.
          “Kakak?”
          “Iya kak”.
          “Kapan?”
          “Sekarang. Yuda sedang menuju kesini”.
          “Ting tung….” Suara bel rumah Christy berbunyi.
          “Itu sepertinya Yuda”.
          “Ya sudah kamu buka saja pintunya, kakak siap-siap dulu”.
          Christy membukakan pintu dan dia tidak melihat batang hidung Yuda, Namun yang dia lihat adalah Derry mantan kekasihnya.
          “Ngapain kamu kesini?” Dengan Nada kesal.
          “Aku mau menjelaskan semuanya, Chris. Tapi tidak disini. Aku mohon!” memegang kedua tangan Christy memohon agar mendapat kesempatan kedua.
          “Okee…” Amarahnya sedikit mereda.
          “Chris mana Yuda kok tidak disuruh masuk? Kakak udah siap nih”. Menunduk merapikan bajunya.
          “Kak Nisa”. Sapa Derry.
          “Derry? Bukanya yang mau kesini itu Yuda? Kok?” menunjuk muka Derry kebingungan.
          “Kak, Christy jalan sama Derry dulu ya? Nanti kalau Yuda kesini kakak ajak dia makan malam. Da kakak”.
          “A aaa akuuu.. sama akuuuu sama  Zzzzs emmmm Yu.. Yuda?”
          “Hm hm kak”. Sudah agak jauh duduk dibagian belakang moge milik Derry sembari menoleh kebelakang.
          Yuda berpapasan dengan mereka begitu sampai digerbang rumah Anisa. Yuda Nampak kebingungan karena melihat Christy bersama Derry.
          “Loooh, katanya mau makan malam denganku? Kok pergi sama Derry?” Gumamnya dalam hati.
          “Yuda… aku titip kak Nissa ya?” berhenti sejenak melihat Yuda sudah sampai dirumahnya.
          “Jadi kita pergi berdua nich?”
          “Hmmm hmmm…” Anisaa jadi salah tingkah hanya senyam senyum sendiri.
          “Ya udah, jalan Yuk!”
          “Hmmm Iyaa”. Lagi-lagi tersenyum.

          SKIP……………………………………………………………………………

          “Nisa, boleh gabung?” Cherly muncul bersama Dimas.
          “Boleeh…” sembari mengaduk isi gelasnya dengan sendok cantik berwarna merah muda.
          “Kalian berdua disini?” Tanya Dimas
          “Hmmm hmmm” Jawab Anisa yang sedang mengunyah makanan.
          “Akrab juga kalian”. Ledek Cherly.
          “Anisa????” Cowok berjas hitam bersepatu hitam dan berdasi tiba-tiba menghentikan obrolan mereka.
          “Uhuuuuukkk…” Anisa keselek makanan yang sedang dikunyahnya manja.
          “Minum minum…” Yuda mengambilkan minuman untuk Anisa.
          Mata Anisa sontak berkaca-kaca memandang cowok itu. Ternyata cowok yang membuat Anisa keselek adalah Miko yang tak lain adalah calon suaminya.
          “Siapa dia, Nis?” Tanya Yuda yang heran melihat pandangan Anisa yang nampaknya mengenal dekat cowok yang mendekati mereka itu.
          “Nisa? Kamu masih ingat aku?” Tanya Miko.
          Anisa langsung berdiri memeluk Miko, Nampak dihati Anisa massih tersimpan cinta untuk Miko. Yuda yang melihat itu ikut berdiri begitupun Cherly dan Dimas.
          “Aku merindukanmu Mik, kenapa kamu tega ninggalin aku?” memeluk erat Miko.
          Hati Yuda sangat panas, dia berusaha menutupi rasa itu. Dimas dan Cherly memperhatikan pandangan Yuda yang sangat terlihat kalau dia cemburu melihat semua itu. Akhirnya Dimas dan Cherly menarik Yuda meninggalkan tempat itu.
          “Aku tidak meninggalkanmu, Nis. Hatiku masih selalu menyimpan cinta kita”.
          “Lalu kenapa kamu pergi?”
          “Aku pergi dengan alasan. Orang tuaku menginginkan aku menikah dengan gadis pilihan mereka. Aku tidak bisa menolak, lalu aku putuskan untuk pergi dari kamu agar kamu tidak terluka mendengar semua itu”. Memeluk Anisa lebih erat.
          “Aku mencintaimu Mik, aku gak mau kehilangan kamu lagi”.
          Yuda ternyata masih tetap ditempat itu walau dia hanya memperhatikan Anisa dari jauh, melihat cinta Anisa begitu dalam Yuda memutuskan untuk menghilang dari hadapan Anisa untuk selamanya.
          “Lalu dimana gadis itu sekarang?”
          “Dia sudah meninggalkan dunia ini, Nis”.

          SKIP…………………………………………………………………………..
         
          “Kak, Christy punya kabar gembira. Christy balikan lagi sama Derry. Derry sudah minta maaf sama Christy dan berjanji akan menyayangi Christy. Dia bilang kalau dia benar-benar cinta sama Christy”.
          “Emmmm bagus donk!”
          “Kakak pulang sama siapa? Christy kok tidak mendengar mobil Yuda?”
          “Mau tau aja apa mau tau banget?”
          “Iiiiiiwwwh kakak gitu ya? Awas aja! Hayooo Christy Klitikin nich!”
           Terjadi candaan khas dikamar Anisa.
          Keesokan harinya Anisa jalan sama Miko, tapi Anisa tidak merasakan senyaman saat dia bersama dengan Yuda. Anisa pun merindukan Yuda yang selalu menemaninya saat Anisa tertawa ataupun menangis.
          Begitulah yang dirasakan Anisa setiap hari bahkan rindunya kepada Yuda semakin berat karena akhir-akhir ini Yuda tidak pernah menampakkan wajah uniknya itu dihadapan Anisa.
          “Maukah kamu menikah denganku?!” berlutut dihadapan Anisa sembari membuka kotak merah berisi cincin yang sangat indah.
          “Maafkan aku Mik, sepertinya hatiku sudah milik orang lain”. Berlari meninggalkan Miko.
          Sampai dirumah Anisa Nampak bingung dengan perasaannya. Dia mondar mandir dan membuat Christy pusing melihatnya.
          “Kak berhentii !!!, Kakak masih mencintai kak Miko? Jawab jujur kak”.
          “Ntahlah Chris. Kakak bingung. Kakak memang masih mencintai Miko tapi sepertinya kakak juga sedang jatuh cinta sama cowok lain”.
          “Siapa kak?”
          “Mungkin ini gila atau tidak masuk akal. Tapi rasa-rasanya kakak jatuh cinta sama Yuda. Kakak memang mencintai Miko tapi hati kakak sudah terlanjur bersandar didalam hati Yudaa, tapi sepertinya hati dia hanya untuk kamu, Chris”.
          “Yuda? Hmmmmm. Tidak kak, Yuda mencintai kakak bukan aku”. Christy tersenyum.
          Sampai dirumah Anisa, Cherly dan Dimas yang Nampak panic memanggil-manggil Anisa.
          “Nisa, Yuda Nis…”
          “Kenapa dengan Yuda?”
          “Dia mau berangkat ke Bali, dia mau pindah kuliah disana, sekarang dia dalam perjalanan Ke Bandara”.
          “Kak, Christy tau kakak sangat mencintai Yuda. Yuda juga sangat mencintai kakak. Sekarang kakak susul Yuda ya?”
          Merekapun menjalankan mobilnya menuju Bandara dengan kecepatan tinggi. Beruntung Yuda belum berangkat dan Anisa masih bisa bertemu dengan Yuda.
          “Yudaaa….” Berlari mengahampiri Yuda yang menenteng koper, lalu Anisa memeluknya.
          “Anisa…” Merespon pelukkan Anisa.
          “Jangan pergi”.
          “Aku takan pergi untukmu”. Memeluk erat Anisa.
          Dimas, Cherly dan Christy yang melihat ikut merasakan kebahagiaan mereka berdua.


The End…………………………………………….

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"


         
         




          
My Friend My Sister
*Never Knew……


Pagi hari di Rumah Felly Nampak suasana sangat ramai hanya dengan suara teriakkan mamanya saja. Kenapa demikian? Ya jelas gara-gara Felly yang amat sangat susah dibangunkan ketika dia sudah tertidur lelap. Beginilah sarapan pagi mamanya yang wajib dan tidak bisa ditinggalkan, kecuali buru-buru dan takut terlambat bekerja.

“Felly….” Panggil Mama Felly dari ruang depan berjalan menuju kamar Felly berteriak bagaikan sedang mengadu suara dengan Mpok Nori yang amat sangat nyaring.
“Iya Ma,” Jawabnya menutup mukanya dengan bantal kesayangan Felly sesekali mengusap mukanya yang kusut itu.
“Mama dan Papa punya kejutan buat kamu.” Berharap Felly akan senang. Menarik Felly yang nampak malas bangun dari tempat tidurnya.
“Ya ampun, berantakkan sekali kamar kamu, semalam habis ngapain? Ayo bangun!” menarik bantal yang dipegang erat Felly menutupi mukanya.
“Bangun Felly!!!” Kesal namun berhasil mendapat bantal Felly.
“Hari ini kan Libur, Ma. Ngapaen Felly harus bangun? Kampusnya tutup”. berbicara tanpa membuka matanya dan wajah tanpa tertutup bantal yang semula menutupi wajah malasnya itu.
“Ikut Mama! Cepet.” Menarik Felly hingga terjatuh dari kasur empuknya yang baru dia beli karena mengikuti tren masa kini.
“Mama, sakit.” Memegang pinggang yang nampaknya kesakitan.
“Makanya bangun. Apa perlu Mama panggilkan Anjing punya tetangga sebelah?” Mengancam dengan tawa sumringah menakuti Felly yang sampai detik ini tidak mau meninggalkan kamarnya yang sangat mirip dengan kapal TITENIC alias berantakannya bukan main.
“Jangaaaaaaaaaaan!” Teriak Felly langsung membuka matanya lebar walaupun sangat sipit.
Maklum masa kecil Felly umur sekitar 7tahun pernah disruduk Anjing waktu jalan tepat didepan rumah tetangganya. Kebetulan waktu itu Anjingnya sedang dilepas untuk dimandikan tapi malah lari mengejar Felly hingga jatuh disruduk. Sampai sekarang segede ini akhirnya masih trauma dan gak pernah mau tau soal binatang satu ini.
“Kejutan apa sich, Ma?” Berjalan menuruni tangga berpakaian baju tidur berwarna biru dengan muka sangat lesu dan rambut acak-acakan bagai tertiup angin puting beliung.
“Liat aja Fell, Pa tunjukkan kejutannya sama Felly.” Sampai diruang tamu dan memegangi Felly tepat didepanya dengan senyum berharap Felly menyukainya.
“Ini dia.” Papanya membuka pintu dan tersenyum pada Felly.
Nampak gadis cantik, berambut pirang mirip Felly berdiri didepan pintu. Bajunya sederhana membawa tas tempat pakaian-pakaiannya. Tasnya tidak begitu besar, cukup untuk baju sekitar 3-5 pasang saja.
“Ha?????” Felly kaget.
“Siapa dia, Pa? Felly gak kenal. Gembel dari mana Papa bawa kesini. Pembantu baru ya Pa?” Tanya Felly sombong.
“Hussst ngawur kamu ini.” Sahut Mama Felly.
“Dia ini yang akan menemanimu selama Papa dan Mama bertugas di Paris. Papa dan Mama tidak Percaya kamu mampu menjaga rumah ini dan menjaga diri kamu. Sekarang dia juga anak Mama dan Papa. Kakak kamu”. Sambung Papa Felly menjelaskan.
“Apa? Kakak??? Gak akan Pa, gak mau aku punya kakak gembel, Dia pasti dari panti yang dipungut Mama dan Papa kan”. Dengan sombongnya mulut Felly memaki Gadis itu.
“Plaaaak.” Tamparan mendarat tepat dipipi kiri Felly.
“Jaga omongan kamu! Sentak Papanya.
“Pa…” Mamanya bingung berusaha menyetop pertengkaran antara anak dan papa itu.
“Lihat, Ma… baru satu menit si gembel ini masuk dirumah kita, Papa sudah berani menampar Felly. Bagaimana kalau dia disini selamanya? Bisa Mati Felly, Ma”. Lari menaikki anak tangga satu per satu dan masuk kamar, menggebrakkan pintu kamar dengan keras.
“Om, Christy pulang saja ya om?. Felly tidak bisa menerima Christy”. Dengan perasaan sedih dan takut.
“Panggil Papa nak, jangan Om, disini saya sudah menjadi Papamu”. Jawab Papa Felly halus.
“Jangan pulang kamu harus tetap disini, besok Mama dan Papa sudah berangkat, kami hanya bisa percaya sama Christy untuk menjaga Felly, nak”. Sambung Mama Felly.
“Sekarang kamu Istirahat! Ma antar Felly ke kamarnya!”
Mama Felly mengantar Christy ke kamar barunya. Christy menata kamarnya dengan rapi. Christy anak baik, rajin, ramah dan cantik. Karena kelelahan dari perjalanan jauh Christy istirahat sejenak.

SKIP……………………………..

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mama dan Papa Felly bersiap berangkat ke Bandara tanpa memikirkan Felly karena dia masih tidur. Tau sediri kan kalau tidur gak bisa dibangunin. Terlihat Christy yang asik dengan sapu lantai menyapu dengan lihai.
“Rajin sekali kamu, nak.” Memuji dan mengelus rambut indah Christy.
“Cuma nyapu kok,pa.” Jawabnya penuh senyum bahagia.
“Mama dan Papa mau berangkat hari ini, Kami titip Felly ya? Sebenarnya dia anak yang baik, karena dia belum tau arti sayang jadi dia begitu. Buat dia bisa menghargai orang lain.” Menyampaikan pesan kepercayaan pada Christy, memegang pundak Christy dan menatapnya.
“Iya, Pa. Christy akan menjaga Felly seperti Adik kandung Christy sendiri.” Jawab Christy halus.
“Bantu Mama menyiapkan sarapan Pagi ini. Mama ingin Masak buat kita. Katanya sebagai ucapan selamat datang dan perpisahan.” Mengambil koper mini untuk dimasukkan kebagasi mobilnya.
“Biar Christy aja, Pa yang bawa.” Memegangi koper yang dibawa Papa.
“Sudah. Bantu Mama sana!” Menolak dengan senyum.
“Iya, Pa.” Berjalan meninggalkan Papa yang sedang sibuk memasukkan barang-barang yang akan di bawa bertugas ke Paris.
Didapur terlihat Mama yang dibantu bibi menyiapkan sarapan pagi ini, Christy menghampiri dan langsung membantu tanpa rasa ragu.
“Felly belum bangun, Chris?” Tanya Mama tanpa melirik Christy  karena telah asik memotong paprika hijau.
“Belum, Ma. Apa perlu Christy bangunkan?” Mengambil pisau dan membantu bibi memotong daging.
“Tidak perlu, nanti dia bangun sendiri, Tanya saja bibi bagaimana kalau Felly sudah tidur. Gak ada yang bisa bangunin termasuk, Mama. Paling yang ada dia akan tambah ngambek karena tidurnya terganggu. Iya kan bik?” Jelas Mama yang sibuk mempersiapkan bumbu masakan pagi ini.
“Iya nyonya.” Jawab bibi malu-malu.
Setelah beberapa Menit Masakan yang dibuat  mereka sudah siap disajikan, Papa sudah menunggu diruang makan dan tidak sabar menyantap makanan hasil masakan istrinya dan anak barunya itu. Makanan pun sudah tertata rapi dimeja makan dan nyammmmiii, sudah siap untuk disantap.
“Felly mana, Ma?” Tanya Papa menyambut piring yang disodorkan Mama.
“Belum bangun, biar saja lah, Pa.” mengambilkan nasi dan menaruhnya diatas piring Papa.
“Ambilkan itu, Chris.” Menunjuk lauk yang ada didepan Christy.
“Christy bangunkan Felly ya, Pa, Ma?” sambil memberikan piring yang ditunjuk papanya mendekat kearah tangan Papa.
“Kasihan Felly kalau dia bangun tau-tau Papa dan Mama sudah pergi.”


“Sudah makan saja, Chris. Mengambilkan nasi untuk Christy.

    
SKIP…………………………………..

Selesai makan Felly tak kunjung keluar kamar, Papa dan Mama pamitan sama Christy. Mereka langsung berangkat menuju Bandara tepat jam 08.00 WIB. Mama dan Papanya kini sudah meninggalkan halaman depan melewati gerbang yang lebar dan tinggi dirumah mereka.
“Hati-hati Ma, Pa.” Teriak Christy melambaikan tangan dari depan gerbang.
“Da….” Terlihat dari spion mobil Mama Christy membalas lambaian tangan Christy.
Christy masuk rumah dan kembali mengambil sapu untuk membersihkan halaman depan yang masih terlihat agak kotor, mungkin bibi belum sempat membersihkannya karena terlalu sibuk menyiapkan barang-barang Papa dan Mama. Dari dalam Rumah bibi keluar bermaksud untuk menyapu halaman.
“Sudah Non biar bibi saja yang bersihkan.” Tawar pembantunya.
“Gak papa bik, saya bantu bibi. Lagian rumah segede ini kalau dibersihkan sendiri gak akan selsai-selesai bik.” Mengayunkan sapunya membersihkan daun-daun yang kering dihalaman depan rumah Felly.
“Kalau begitu bibi ke Dapur dulu ya non.” Sopan.
“Iya bik. Ohya bik, Felly sudah bangun?” menoleh ke bibik.
“Belum, Non. Non Felly masih tidur. Misi Non.” Membelakangi dengan muka menoleh ke Christy dan menuju ke Dapur untuk membereskan dapur.
“Hmmmmm… Mungkin Felly masih Marah. Apa perlu aku bangunkan Felly?” Ngoceh sendiri menghentikan gerak tangan yang memegang sapu mirip punyanya Herry Potter.
Christy akhirnya menuju kamar Felly tepat di depan kamar Felly, Christy mengethok pintu sampai beberapa kali, namun tidak ada jawaban dari Felly. Christy langsung masuk. Dilihatnya Felly masih tertidur pulas.
“kreeeeeekkk….” Christy membuka korden jendela Felly dan cahaya matahari menyorot kemuka Felly.
“emmmm…” Hanya berbelok arah membelakangi jendela.
“Fell, bangun.” Memegangi tubuh Felly yang mendekap erat gulingnya nyaman.
“Kamu?!” Terbangun dan memandangi Christy penuh benci.
“Ngapaen kamu masuk ke kamarku, gak kethok pintu, rese’ banget sich!” mendorong Christy hingga jatuh.
“Fell, Mama dan Papa sudah berangkat, aku cuma mau nyampein itu. Mereka gak pamit sama kamu karena kamu tidur pulas. Meraka takut mengganggu kamu.” Sembari membangunkan tubuhnya yang jatuh kelantai.
“Apa??? Mama dan Papa sudah pergi. Kenapa mereka tidak pamit sama aku. Aaahhh!” kembali mendorong Christy dengan kuat hingga terpental ke tembok.
“Aku benci sama kamu!” berlari keluar kamar dengan tergesa-gesa.
Merasakan hari ini Christy hanya menghembuskan nafas dan dengan sabar Christy merapikan kamar Felly.

SKIP…………………………………………………………………….

Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk ke kampus, sikap Felly benar-benar keterlaluan. Christy tidak boleh ikut naik ke mobil mewahnya karena dianggap Christy tidak pantas duduk di dalam mobilnya itu.
“Kenapa sich kamu jahat sama aku,Fell? Aku kan Cuma mau berteman denganmu.”
“Biarkan dia naik, Non. Papa Non Felly menyuruh saya untuk mengantarkan Non Christy ke kampus bareng sama Non Felly.” Ujar sopir pribadi ayah Felly.


“Kalau begitu aku mau bawa mobil sendiri.” Membuka pintu mobil dan satu kaki sudah diluar mobil mewahnya.

     “Jangan Non. Papa Non melarang! Saya takut.”
“Ya sudah, Fell. Aku naik busway aja. Pak Ujang terima kasih ya.”
“Iya Non, Tapi Non, saya takut Tuan marah.”


“Cepat jalaaaaan!” Teriak Felly kembali menutup pintu mobil yang terbuka..

     “Iya iya Non, duluan ya Non Christy.”
“Iya…” Jawab Christy sembari berjalan kaki meninggalkan rumah menuju terminal busway.

SKIP………………………………………………………………………….

Di Kampus Felly dan Chrity kuliah. Felly, Anisa, dan Gigi sedang asyik ngobrol didepan kelas mereka, dari kejauhan terlihat Christy yang bingung mencari kelasnya.
“Itu mahasiswi baru ya?” Tanya Anisa pada Felly dan Gigi yang berdiri disampinya memperhatikan gerak gerik Christy dari jauh.
“Itu kan Christy, ngapaen dia.” Gumam Felly dalam hati yang takut kalau Christy menghampirinya.
“Kayaknya sich iya, Nis. Kita samperin yuk!” ingin melangkahkan kaki mendekati Christy yang sadang kebingungan.
Belum sempat melangkah, tangan Felly sudah menghalangi langkah Gigi.
“Jangan! Gi. Buat apa?” memegangi tangan Gigi.
“Loo, Aku kan mau bantu dia,Fell.” Memandang Felly bingung sesekali melirik ke Anisa memberi isyarat dengan menggerakkan kepalanya.
“Hmmmm....” Anisa hanya mengangkat kedua telapak tangan sejajar dengan pundaknya.
“Pokoknya gak usah!” Kata Felly melarang, dan melarikan diri masuk kekelasnya.
“Kok malah kabur sih. Kenapa dia, Nis. Coba aku Tanya.” Masuk kelas.
Christy semakin dekat dan sekarang tepat didepan kelas Felly.
“Permisi….” Menepuk pundak Anisa yang sedang memperhatikan langkah Gigi.
“Eiiii iya.” Dengan kagetnya berbalik arah dan tak sengaja menyenggol tumpukan buku yang dibawa Christy sampai berserakan dilantai.
“Maaf maaf aku gak sengaja.” Jongkok dan membereskan buku Christy.
“Gak papa.” Ikut jongkok dan memungut bukunya satu persatu.
“Kamu cewek yang tadi nampak kebingungan itu kan?” berdiri dan memberikan buku yang berhasil dirapikannya.
“Iya… aku lagi nyari kelasku, dan sekarang ketemu, tu.” Menerima buku dari tangan Anisa dan menumpuknya diatas buku yang sudah iya rapikan sendiri sembari menunjuk tulisan yang ada tepat diatas pintu kelas.
“Jadi kita satu kelas donk! Anisa.” Memperkenalkan diri.
“Sungguh? Christy.” Berjabat tangan.
“Christy…” menyentuhkan jari telunjuknya dan mengetuk-ngetukannya tepat dimulutnya yang tak berbicara mungkin sedikit kenal dengan nama itu.
J……” Christy hanya tersenyum.
“Emmmm… ya sudah kita masuk aja yuk.” Menggandeng Christy masuk kelas.
Felly asyik berbincang-bincang dengan Gigi dan beberapa temannya yang lain meramaikan kelas. Felly hanya melirik Christy tanpa berkata dan menyapanya. Christy memandang Felly dengan senyum. Dikelas tak sedikitpun terjadi percakapan antara Christy dan Felly.

SKIP……………………………………………………………………………..

“Chris, sedang apa?” mendekati Christy yang duduk sendiri ditaman depan kantin.
“Kamu,Nis. Ni lagi baca-baca buku.” Memperlihatkan buku yang dibacanya.
“Gemar juga baca buku. Gak makan?” mengangguk-anggukkan kepala.
“Sudah dirumah. Itung-itung iritkan.” Tersenyum.
“Christy!!! Iya kamu Christy kan?” sangat keras dan mengagetkan Christy yang sedang asyik memperhatikan tulisan kecil dibukunya.
“Aku kan emang Christy, kita kan sudah kenal tadi.” Memegang kening Anisa.
“Eiiits….” Menyingkirkan tangan Christy.
“Maksud aku kamu Christy saudaranya Felly kan?” sok tau.
“Kamu tau?” memandang Anisa heran.
“Papanya Felly cerita sama sahabat-sahabatnya Felly kok. Om Edo kan percaya sama kita semua.”
J……” Christy hanya membalas dengan senyum.
“Aku cariin ternyata disini.” Langsung mendaratkan pantatnya dikursi mereka duduk tepat ditengan-tengah Christy dan Anisa, menepuk paha mereka dengan keras.
“Auuuuuu...” teriak mereka serempak.
“Gigi kamu makanya apa sich? Kuat banget.” Tanya Anisa sedikit meledek.
“Besi dan baja, hahahaha.” Becanda dengan tawa yang khas.
“Kamu bukan Felly?” Tanya Gigi menunjuk wajah Christy.
“Aku kira Felly, mirip juga ternyata.” Menggaruk kepalanya yang berambut tak panjang.
“Dia Christy, yang diceritakan sama Om Edo.
“Hmmm…..” Mendekatkan wajahnya kewajah Christy.
“Christy!” Memandang lebih dekat dan mencolek dagu Christy.
“Kamu Gigi.” Sontak ingat karena hanya gigi yang selalu bertingkah seperti itu.
“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Anisa yang keheranan dengan tingkah mereka berdua.
“Ini Christy sahabat dipantiku dulu,Nis. Kita sudah berpisah 5 tahun lamanya.”
“Bagaimana Ayah dan Bunda kamu? Mereka sudah kamu temukan?” Memandang dan memegang tangan Christy.
“Mereka ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa, Gi.” Jawabnya sedih menundukkan kepalanya.
“Christy, kamu masih punya kita, aku dan Anisa.” Memegang pipi Christy menegakkan kepalanya yang menunduk.
“Iya Chris, kita siap kok jadi sahabatmu, jangan sungkan-sungkan untuk menceritakan masalah kamu pada kami.” Memegangi tangan Christy.
“Hm. Hm.” Mengangguk kepala dan kembali melihat Christy yang tadi sempat memperhatikan pembicaraan Anisa.
“Makasih teman-teman.” Memeluk Gigi dan Anisa.

SKIP……………………………………………………………………………..

Asyik mengobrol disepanjang jalan menuju kelas Anisa, Christy dan Gigi menabrak Felly yang sama-sama tidak memperhatikan jalan.
“Braaaakkkkkk…………….” Mereka terdiam sejenak seperti waktu telah diberhentikan.
“Jadi dari tadi aku cariin ternyata begini, sahabat macam apa kalian?.” Dengan nada keras sangat marah.
“Fell, Jaga omongan kamu.” Saut Gigi.
“Kamu yang harus jaga kelakuan kamu.” Mendorong Gigi.
Gigi terlempar didepan Anisa dan Christy, mereka memegangi Gigi dengan kedua tangan mereka.
“Fell, Jangan kasar! Aku tau ini masalah kita. Jangan bawa-bawa mereka.” Melepas tangannya yang tadi memegangi Gigi.
“Kamu kenapa sich Fell? Kita ini ingin menemuimu. Kita kesini untuk menjemput kamu. Tapi kamu….”
“aachhhhhhh………….” Memotong pembicaraan Anisa dan meninggalkan mereka.
     “Kenapa Felly. Memangnya kita salah apa?.” Tanya gigi kepada Anisa dan Christy.
     “Kalian gak salah, yang salah itu aku. Felly gak pernah mau nerima aku. Dia benci sama aku, Gi. Maafin aku.”
     “Kamu gak salah Chris.” Sambung Anisa.

SKIP…………………………………………………………………………………

     Felly tak bisa menerima kehadiran Christy yang dianggapnya akan merusak kasih sayang kedua orang tuanya padanya. Tak jarang di Kampus Felly sering membuat ulah yang berdampak Christy di hukum oleh dosen. Tak pernah ada capeknya Felly membuat Christy setiap hari merasakan panasnya terik matahari siang ditengah lapangan.
     “Apa yang kamu lakukan, Fell?” Tanya Gigi yang melihat tingkah Felly.
     “Sssstttt, diem jangan keras-keras.” Mengolesi lem dikursi dosen.
     “GILA kamu Fell, kalau di D.O gimana?”
     “Tenang…” Lirih.
     “Ehh, ngapain kamu masukkan sisa lem itu ke tas Christy? Jangan bilang kamu mau ngerjain Christy lagi.”
     “Ayo keluar!” Berlari keluar menarik Gigi yang masih ngoceh kayak burung beo.
     “Selamat Siang!” Sapa Dosen ber rok mini sexi yang tangannya penuh buku-buku tebal.
     “Sssstt ssttt…. Gimana kalau tu dosen roknya sobek.” Bisik Gigi.
     “Itu yang aku mau, Gi.”
     “Bener-bener gila kamu, Fell. Aku gak tega, kasian Christy.”
     “Kamu temenku bukan sich!”
     “Ehm Ehm… Felly, Gigi. Keluar!” Dosen marah mendengar mereka ngobrol sendiri.
     “Aduuhhh, belum sempat lihat tu orang duduk kita udah diusir, Gi.” Memegangi Keningnya.
     “Ayuk yuk!” Mengajak Felly meninggalkan kelas.
     “Mereka berdua emang aneh.” Anisa menggeleng-gelengkan kepala memegang bolpoin cantiknya.
     Tak lama dari itu dosen itu pun duduk. Saat ingin bangun tiba tiba.
     “weeeekkkkk,,,,” sobeklah rok mini milik bu dosen.
     “Waaaoouuuuu….” Teriak semua mahasiswa yang ada dikelasnya itu dan serempak menertawakan.
     “Hahahahha………” Felly dan Gigi tertawa ngakak mengintip dari jendela.
     “Diaaaaaaaaaaaaaam!” teriak dosen dan serempak semoanya diam.
     “Fellyiiiiiii……….. Gigi……………… kesiniiii! Kalian kan yang melakukan ini?”
     “Bukan Lah, Bu.” Jawab mereka kompak memasuki kelas.
     “Periksa aja tas kami kalau ibu tidak percaya pada kami.” Mengatakan dengan sombong.
     Dosen menyuruh Tristan untuk memeriksa semua tas, mungkin Ibu Dosen malu karena roknya sobek. Hehehehe,,, Felly hanya cengingisan saja sementara Gigi tak tega melihat Christy yang akan kena hukuman karena ulah Felly.
     Ditemukanlah sisa lem ditas Christy daaaaaaaaaaaaaaaaan…???
     “Christy?” Gumam Tristan dalam hati yang menemukan lem ditas Christy.
     “Liat bu, Lemnya ada ditas Christy. Bukan aku kan yang melakukannya.” Saut Felly.
     “Aaaaku…” Christy kaget.
     “Aku yakin bukan kamu, Chris.” Sambung Tristan.
     “Tapi udah jelaskan buktinya ada di tas Christy.” Nyolot.
     “Christy kan dari tadi sama aku, Fell.” Anisa meyakinkan.
     “Sudah-sudah. Christy kamu ikut keruangan ibu!”
     “Hahahaha…” Felly tertawa puas disamping Gigi yang nampaknya ingin memberi tau yang sebenarnya.

SKIP………………………………………………………………………………..

     “Fell, Kamu sudah keterlaluan. Mungkin ini peringatan terakhir buat Christy. Kamu sudah terlalu sering menjebak Christy. Monyonteklah, Mencuri soal ulanganlah sekarang kamu buat ulah dengan mengerjai Dosen. Apa kamu gak kasian sama Christy? Dia kan saudara kamu, Fell.” Menyadarkan Felly yang sudah keterlaluan.
     “Bukan. Dia hanya dipungut dari panti untuk menjaga rumahku selama Papa dan Mama pergi. Nanti kalau mereka pulang, Christy juga bakalan pulang ke panti.” Celoteh Felly yang asyik ngemil snack kesukaannya.
     “Apa sih salahnya anak Panti? Toh dia baik, selalu menutupi kesalahanmu, membela kamu, gak pernah marah dan sayang sama kamu, kamu ingat  kan saat kamu gak buat tugas dari Pak Joko? Siapa yang melindungimu, saat kamu telat masuk gara-gara nongkrong dikantin, siapa yang menyalahkan diri demi membela kamu? Udah banyak Christy berkorban untuk kamu. Aku gak mau temenan sama kamu lagi kalau kamu masih kayak gini  Fell.” Meninggalkan Felly.
     “Ok. Fine!” Teriak Felly membuang sisa snack yang sedang dimakanya.
     “Ok!” Dengan geram menoleh ke Felly.

SKIP………………………………………………………………………………….

     “Fell.” Memegang pundak Felly dari belakang.
     “Kamu menangis?” Tanya Tristan yang melihat air mata Felly.
     “Kamu tau kan ulah Christy?”
     “Kamu menangis karena dia? Tapi aku yakin itu bukan ulah Christy, gak mungkin dia melakukan itu, Selain dia baik dia juga cantik.” Membayangan wajah Christy tersenyum.
     Felly langsung lari dan meninggalkan Tristan. Dia berfikir kalau semua orang akan berbalik menyayangi Christy dan meninggalkan Felly.
     “Kok pergi.” Kebingungan.
     Christy datang dengan wajah penuh keringat berhenti tepat didepan Tristan.
     “Baru dihukum?” Berdiri dari duduknya.
     “Kamu lihat Felly?” Ngos-ngosan tanpa menghiraukan pertanyaan Tristan.
     “Felly…., tadi kesana.” Menunjuk kearah Felly Lari tadi.
     “Makasih.” Melanjutkan pencarian.
     “Chris, tunggu.” Mengejar Christy.
     “Kalian ini saudara?” Tanya Tristan yang mengikuti langkah Christy.
     “Menurut kamu?” menoleh memandang Tristan yang senyam-senyum sendiri.
     “Kayaknya sich iya. Dari muka kelihatan, tapi masih cantikan kamu kok.” Merayu.
     “Gombal.” Menggibaskan tangannya didepan muka Tristan.
     “Aku yakin tadi yang melakukan itu bukan kamu.”
     “TERUS siapa? Jelas itu bukti ada ditas aku.”
     “Tapi aku sangat yakin itu bukan kamu.”
     “Aku kan sudah sering dihukum, kenapa masih gak percaya kalau aku yang melakukannya.”
     “Chris,” Memegang pundak Christy menghentikan langkahnya.
     “Aku tau siapa kamu, dan aku yakin setiap kamu dihukum itu hanya ingin menutupi kesalahan Felly kan? Aku juga tau kamu sangat menyayanginya. Tapi tidak begini caranya, Chris.”
“Aku bisa melakukan dengan caraku sendiri, Tris.” Melepaskan tangan Tristan yang besandar dipundaknya.

SKIP…………………………………………………………………………………………………

     “Chris, yang melakukan kejailan kemarin itu Felly.” Gigi mengadu.
     “Benerkan Chris yang aku duga.”
     “Semuanya sudah terjadi kan? Aku sudah memaafkan siapapun yang memfitnahku, dan kejadian kemarin juga udah aku lupain.” Membolak-balik buku yang dibacanya sepanjang jalan.
     “Aku heran sama kamu Chris, gak pernah sedikitpun kamu marah sama Felly padahal kan Felly sudah begitu jahat sama kamu.” Celoteh Gigi yang tampak kualahan mensejajarkan jalannya dengan Christy dan Anisa.
     “Love Is U. itu yang selalu aku ingat ketika amarah mulai muncul sebelum akhirnya melewati ubun-ubun dah meluap.” Jawabnya dengan senyum sante mengalihkan pandangan kearah Gigi.
     “Cinta itu persaudaraan, Gi. Yang gak boleh dihadapi dengan amarah.” Sambung Anisa.
     Semua Nampak kagum dengan kebaikkan hati Christy. Memang apa yang ditakutkan Felly benar terjadi. Semua menyayangi Christy dan menjauh dari Felly. Siapa yang tidak akan menjauh kalau kelakuanya melukai Christy tak kunjung reda? Semua orang juga akan melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan Anisa, Gigi dan Tristan.

SKIP…………………………………………………………..……….
    
     “Chris, aku memang baru mengenalmu, tapi hatiku sudah berkata kalau aku mencintaimu”. Mengungkapkan rasa yang dirasakan hatinya dengan begitu lantang tanpa rasa canggung.
     “Aku tidak pantas buat kamu, Tris”. Menundukkan kepala merendah.
     “Sssssttt, kamu pantas buat aku Chris”. Menutup dua pasang bibir indah Christy dengan telunjuknya.
     “Aku hanya anak Panti yang dipungut oleh orang yang berbaik hati. Orang yang berhati malaikat”. Matanya berkaca-kaca seakan tidak mau mengatakan “TIDAK” dihadapan Tristan.
     “Aku akan membuat kamu bahagia, aku tidak peduli dengan status kamu yang mantan anak Panti. Bagiku kamu itu ISTIMEWA”. Menegakkan kepala Christy yang selalu menunduk dihadapan Tristan.
     “Aku juga mencintaimu”. Menatap Tristan dan meneteskan airmata yang sempat ia tahan sejenak.
     Anisa dan Gigi yang melihat mereka dari jauh langsung mendekati mereka ketika mereka sejak asik memeluk satu sama lain. Kedatangan mereka mengagetkan Christy dan Tristan.
     “WOwww. Kayaknya ada yang lagi LUPE-LUPE nich!” Ledek Gigi yang membawa es cream ditangan kiri dan sendok ditangan kanan.
     “Kita bakalan kenyang nich Gi, makan geratis selama seminggu”. Memegangi perut yang sedikit tak berisi karena belum sarapan pagi.
     “Kok seminggu sih Nis? Lama amat”. Celoteh Gigi yang sedang asik mengaduk-aduk es creamnya itu.
     “Tenang ajha, jangankan seminggu, sebulan, setahun pun aku traktir. Ini kan momen special yang harus dirayakan spesial juga”. Jawab Tristan dengan lantang karena kegirangan sembari tangan kananya memeluk Christy.
     Asik mengobrol Felly tiba-tiba datang dan menghentikan tawa canda mereka. Christy yang melihat Felly langsung melepaskan pelukkan Tristan. Dia takut kebahagiaannya itu kali ini akan menyakiti Felly. Salah salah dan salah serba salah dihadapan Felly, itu lah yang selalu Christy ingat.
     “Bahagia ya kalian, Dasar cewek gak tau trimakasih. Kamu tu udah dipungut papaku. Nasib baik aku masih membiarkan kamu tinggal dirumahku? Dan sekarang apa yang kamu lakukan? Kamu merebut semua milikku”. Dengan nada kesal memaki Christy yang dianggapnya merebut Tristan dan orang-orang yang dia sayang.
     “Fell, aku bisa jelasin semuanya”. Berusaha menghentikan amarah Felly yang jelas-jelas sudah memuncak.
     “Jangan Chris!”. Menghentikan langkah Christy yang ingin mengejar Felly.
     “Lapas!” Menghempaskan tangan hangat Tristan dan berlari mengkuti jejak kaki mungil Felly namun kehilangan.

SKIP………………………………………..

Malam ini suasana dirumah Felly berubah menjadi sunyi senyap haru ditemani angin yang menghempas dedaunan ditaman rumah Felly. Felly yang terlihat sangat sedih duduk sendiri diayunan persis seperti milik sekolah Taman Kanak-kanak. Sembari mengeluarkan cairan bening dari mata indahnya.
     “Fell, aku ingin bicara padamu”. Mengahampiri Felly namun masih berdiri sedikit menjauh dari ayunan yang ditunggangi Felly.
     Felly tak berkata apapun, dia hanya terdiam dengan muka yang menggambarkan rasa kesalnya. Sangat-sangat kesal hingga Christy pun takut mendekati Felly. Namun dengan penuh keberanian Christy mencoba mendekat lebih dekat lagi.
     “Fell, aku minta maaf, tapi jikalau kamu menganggap aku merebut semua dari kamu itu salah. Aku tidak pernah bermaksud merebut apapun dari kamu. Papa, Mama itu Papa dan Mama kamu. Mereka tidak akan pernah berubah menyanyangimu. Anisa dan Gigi, mereka sayang sama kamu. Mereka selalu mencoba mendekati kamu tapi kamukan yang mengusir mereka untuk menjauhi kamu?” Menjelaskan.
     “Itu karena mereka sudah mengkhianati aku.” Menjawab namun tetap tak mau memandang wajah Christy yang penuh kasih sayang itu.
     “Mereka tidak mengkhianati kamu Fell, mereka hanya ingin kamu berubah. Kamu sudah keterlaluan membenci aku”.
     “Keterlaluan??? Kamu yang keterlaluan. Tristan juga kamu ambil”. Meninggalkan taman indah tempat mereka mengobrol.
     “Felly! Tunggu!” tak mampu menjangkau tangan Felly yang sudah terlanjur berlari menuju kamarnya.
     “Kehadiranku membuat semuanya kacau. Aku hanya membawa petaka buat Felly. Apa aku harus pergi meninggalkan Felly? Tidak tidak Papa dan Mama sudah percaya padaku kalau aku mampu menghadapi ini semua”. Celoteh dalam hati kecilnya.

SKIP…………………………………………………
    
     “Chris, apa kabar kamu?” Tanya Aldo yang tiba-tiba muncul dan berjalan mundur didepan Christy dan memandang wajah Christy.
     “Aldo???” Menghentikan langkah kakinya.
     “Iya ini aku Aldo. Aku sengaja kesini untuk menjemput kamu. Aku pernah janji kan kalau aku akan menjemput kamu”. Memegangi pundak Christy kegirangan. Maklumlah 10 tahun tidak ketemu.
     “Tapi aku gak bisa, Do”.
     “Kenapa? Karena aku kelamaan ya jemputnya?”
     “Bukan, karena aku sudah mempunyai keluarga baru yang gak mungkin aku tinggalkan”.
     Dahulu Aldo dan Christy adalah sahabat dari kecil dipantinya. Dan Aldo lebih beruntung dari Christy, Dia mendapatkan orang tua baru sebelum Christy dan dengan berat hati meninggalkan Christy. Tepat disaat mereka berumur 10 tahun. Namun seiring berjalanya waktu Christy mampu menerima itu semua walaupun pada awalnya Christy tak bisa berhenti menangis karena kehilangan sahabat karipnya itu.
     “Kamu tidak mau memeluk aku Chris?” Membuka kedua tangannya dengan percaya diri.
     “Tentu mau”. Memeluk Aldo untuk sejenak menghilangkan rasa rindu yang sudah menggebu sejak 10 tahun silam.
     “Christy!!!” Menarik tubuh Christy melepaskan pelukan eratnya bersama Aldo.
     “Plaaaakkkkkk………” Tamparan dahsyat mendarat dipipi mungil Christy.
     “Apa-apaan ini”. Mendorong Tristan yang terbawa emosi.
     “Jangan ikut campur! Duuuaggg…” Memukul Aldo yang ingin melindungi Christy.
     “Tristan Udahhhh!” Berteriak sembari memegangi pipinya yang mulai memerah.
     “Ternyata benar apa kata Felly. Kalau kamu itu cewek murahan. Setelah kamu merayu Papanya Felly kamu doyan juga ya sama cowok seusia kamu”.
     “Plaaakkkkkkk, jaga omagan kamu! Aku tidak sehina itu”. Menampar Tristan penuh emosi namun tak kuasa menahan airmata indah yang selalu dia simpan.
     Tiba tiba Christy yang terbawa emosi dan kesakitan akibat tamparan hebat dipipinya pinsan dipelukan Tristan.
     “Chris, Christy.. bangun Chris”. Dengan paniknya membangunkan Christy.
     “Bawa Christy ke UKS. Cepat!” Sambung Aldo tanpa berfikir panjang.
     Tristan membopong Christy menuju UKS. Setelah lebih dari 2 jam Christy tak sadarkan diri. Felly yang melihat kejadian itu malah merasa puas dan menang. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan akhirnya dipindahkan kerumah sakit terdekat. Dari balik jendela ruang ICU Tristan merasa bersalah, sedangkan Aldo hanya mondar-mandir menunggu dokter keluar dan memberikan keterangan. Anisa, Gigi dan Felly pun sampai dirumah sakit setelah jam kuliah mereka selesai.
     “Tristan, gimana keadaan Christy?” Tanya Anisa yang sangat panik.
     “Aku belum tau”. Menggelengkan kepala dan tetap merasa bersalah.
     Setelah 20 menit dokter yang memeriksa pun akhirnya keluar dari ruang dimana Christy dirawat. Nampaknya dokter memberi isyarat bagus soal keadaan Christy. Syukurlah kalau memang Christy tidak kenapa-napa.
     “Keluarga Christy?” Tanya dokter yang baru keluar dari ruangan dimana Christy telah tertidur sejenak.
     “Saya Dok”. Felly berdiri dari tempat duduknya.
     “Ikut saya keruangan”.
     “Baik”. Mengikuti dokter yang berjubah putih bersih rapi dan sangat licin.
     “Aku boleh ikut kan Fell?” Tristan menawarkan diri.
     “Silakan”. Jawab Felly enteng.
     Tak lama mereka berbincang-bincang akhirnya mereka berdua keluar.
     “Bagaimana keadaan Christy, Fell?” tanya Aldo yang paniknya sampai puncak kejayaan.
     “Pasien hanya butuh istirahat, dia hanya sedikit stress”. Jawab Dokter yang masih terlihat bersama Felly dan Tristan.
     “Syukurlah. Terimaksih, Dok”. Menghempas nafas lega.
     “Sama-sama, dan sebaiknya pasien dibiarkan agar beristirahat dahulu”.
     “Baik donk!”Jawab mereka serempak.
     Beruntung mereka tidak saling menyalahkan, kalau iya pasti ramaikan tuh depan ruang ICU. Bisa-bisa seisi rumah sakit pada usir mereka. Aldo, Anisa dan Gigi kemudian memutuskan untuk pulang. Keesokkan harinya Christy sudah diperbolehkan pulang kerumah. Anisa dan Gigi lah yang menjemput kepulangan Christy dari rumah sakit.
     “Lain kali jangan terlalu stress, bisa-bisa betah dirumah sakit”. Celoteh Anisa yang membukakkan pintu mobil untuk Christy.
     “Pasti gara-gara ulah Felly kamu jadi stress begitu”. Sambung Gigi yang sudah siap menyetir mobil idamannya itu.
     “Ya bukan lah”. Terlihat sedikit pucat dan lemas.
     Keesokkan harinya dikampus Tristan mencari-cari keberadaan Christy dan mendapatinya ditempat biasa Christy menghabiskan waktu untuk membaca buku.
     “Aku mau kita PUTUS!” Tanpa basa-basi Tristan mengatakan hal yang tidak mengenakkan didengar telinga Christy.
     “Gara-gara Aldo? Dia itu sahabatku,Tris”. Menutup buku yang sedang dibacanya.
     “Bukan, tapi karena aku sudah mencintai cewek lain”. Mengatakanya dengan wajah yang sepertinya menyimpan sesuatu.
     “Siapa?” Bediri dari tempat duduk yang semula didudukinya untuk membaca buku SAINS.
     “Felly”. Dengan lantang namun sedikit berat.
     Ntahlah apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka dan terutama Tristan, Christy hanya mampu besabar dan merelakan cowok yang dia cintai hidup bersama saudaranya.
     “Sejak kapan kamu mencintainya”. Bertanya sembari meletakkan buku yang dia bawa.
     “Memang aku baru-baru ini mencintainya, tapi aku akan segera melangsungkan pertunangan kami”.
     “Secepat itu?” Matanya berkaca-kaca menatap mata Tristan yang Nampak ragu dengan ucapanya sendiri.
     “Hmmm……..” Mengangguk dan berjalan menjauhi Christy.
     Aldo berpapasan dengan Tristan, melihat Tristan Aldo sendiri kebingungan. Dihampirinya Christy yang terduduk menghempaskan tubuhnya tanpa beban sembari menangisi Tristan yang memilih meninggalkannya.
     “Kamu menangis?” Menyodorkan sapu tangan miliknya.
     “Makasi, Do!” Mengulurkan tangan menerima sapu tangan yang disodorkan Aldo lalu menghapus airmatanya.
     “Air mata kamu terlalu berharga untuk cowok kasar seperti Tristan”. Menghibur.
     Christy hanya terdiam dan menatap mata Aldo yang duduk disebelahnya dan sesekali kembali mengusap air matanya.

SKIP………………………………..  

Seminggu sudah berlalu, pertunangan Tristan dan Felly akhirnya terlaksana dengan tanpa halangan meski tanpa kehadiran Papa dan Mamanya. Felly hanya meminta restu fia telephon. Christy sudah benar-benar merelakan Tristan hidup bersama Felly. Karena Christy ingin melihat orang-orang yang dia cintai bahagia.
     “Sabar ya Chris, kamu pasti mendapatkan yang lebih baik dari Tristan”. Gigi mencoba menyemangati bagaikan Chilyders yang menyoraki para pemain basket.
     “Iya Chris, aku yakin kamu bisa!” Saut Anisa memeluk Christy penuh haru.
     “Ngomong-ngomong Aldo kemana, Chris?” Tanya Gigi yang memantau keadaan sekitar dengan kedua matanya.
     “Aldo, sudah kembali ke Bandung. Dia banyak tugas disana”. Jawab Christy.
“Non Christy, ada telefon.” Kata bibi yang menghampiri Christy.
     “Aku terima telfon dulu ya, Gi, Nis”.
     “Ok Chris.” Serempak.
Setelah selesai menerima telefon. Christy langsung berlari menuju ruang pesta berniat ingin mencari Felly.
     “Mana Felly?”
     “Tidak tau.”
     “Liat Felly”
     “Tidak.”
     Semua ditanyanya satu persatu.
     “Cari siapa, Chris?” Tanya Anisa menghentikan langkah Christy yang panik.
     “Felly.” Jawab Christy singkat.
     “Itu Felly.” Menunjuk kearah Felly duduk berdua dengan Tristan.
     “Fell,,,,,” Memanggil Felly dan mendekatinya.
     “Ada apa sich?!”
“Ada yang ingin aku sampaikan. Papa dan Mama kecelakakan dalam pesawat saat mereka menuju kesini. Papa dan Mama ditemukan dalam keadaan tak bernyawa”. Jelasnya sambil memegangi tangan Felly dengan mata yang berkaca-kaca.
Gigi yang tak sengaja mendengarnya langsung ikut berkumpul bersama mereka.
“Gi, aku cariin kamu tau gak. mintaaa dooonkk!” merebut minuman ditangan Gigi dengan nada sumringah namun lama kelamaan melemah setelah melihat Christy dan Felly menangis.
“Sssstttttt.”
“Apa? Papa…… Mama……….” Memeluk Christy sambil menangis.
Anisa menggerakkan kepalanya memberi isyarat kalau dia bertanya ada apa kepada Gigi.
“Sabar ya Fell, Aku juga sedih. Mereka sudah aku anggap sebagai Papa dan Mama kandungku sendiri.” Mengelus kepala Felly.
“Sabar ya?” Anisa dan Gigi serempak mengelus pundak mereka berdua.
Tristan hanya terdiam melihat keharuan suasana yang diciptakan cewek-cewek cantik itu.
“Semua gara-gara kamu. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”. Melepas pelukkannya dan mendorong Christy.
“Felly tenang Fell.” Memegangi Felly yang sesekali tanganya disingkirkan oleh Felly.
     Anisa, Gigi dan Tristan juga menenangkan Felly.
     Sore ini Papa dan Mama Felly dimakamkan, tampak suasana haru menyelimuti pemakaman orang tuanya. Hal yang sangat menyedihkan buat Felly karena dihari pertunangannya dia dihadiahi kematian orang tuanya. Setelah pemakaman selesai semua orang yang ikut melayat pun sudah pada meninggalkan makam. Namun Felly, Christy, Gigi, Anisa dan Tristan masih tampak menunggui makam.
     “Pa, Ma…. Felly sama siapa disini. Kenapa mama dan papa tinggalkan Felly.?” Menangis sambil memeluk nisan Papa yang sesekali pindah memeluk nisan Mamanya.
     “Fell, bibi menitipkan ini padaku setelah satu hari Papa dan Mama berangkat ke Paris. Bibi bilang ini untuk kamu dari Mama dan Papa. Kalau Papa dan Mama tidak sempat mengatakanya secara langsung”. Menyodorkan selembar Kertas.
……………………………………………
Untuk Anak Mama dan Papa Felly dan Christy….
          Sayang, maafkan Papa dan Mama apabila tidak sempat menyampaikan hal ini pada kalian, Mungkin Papa dan Mama tak sempat untuk mengatakannya langsung.
Felly, sebenarnya kamu bukan anak kandung Papa dan Mama. Kamu anak sahabat Papa, Mereka menitipkan kamu pada Papa dan Mama saat kamu masih berumur 3 tahun Mereka sudah meninggal karena kecelakaan mobil bersama kami. Saat itu Papa, Mama, Papa dan Mama kandung Felly, Felly dan Christy kalian masih berumur 3 tahun, berencana liburan bareng. Tapi kenyataannya mobil yang Papa bawa masuk kejurang karena rem blong. Papa, Mama dan Felly selamat, Mama dan Papa kandung Felly meninggal ditempat, sedangkan Christy entah kemana, kami tidak tau keadaannya.
          Sampai akhirnya sekian lama kita mencari, Christy kami temukan.
          Christy, kamu anak kandung Papa dan Mama, maafkan kami yang tidak bisa mememanimu lagi, Papa dan Mama akan selalu menyayangi kalian.
          Pesan Papa dan Mama untuk Christy : Jaga Felly seperti adik kandung kamu sendiri, dan untuk Felly : Terima Christy sebagai Kakakmu. Papa dan Mama ingin kalian saling menyayangi.
                                                                   With Love,
                                                                 Papa dan Mama
…………………………………………………………………

     Mengetahui isi surat itu Felly marah dan merasa sangat terpukul, dia selalu menyalahkan Christy. Sesekali dia bingung ntah dia harus marah sama siapa mengetahui kalau Papa dan Mama yang selama ini merawatnya bukanlah Papa dan Mama kandungnya.
     “Aku tidak punya siapa-siapa lagi”. Tangisnya memeluk nisan kedua orang tuanya.
      “Masih ada kita, Fell”. Christy menenangkan walau hatinya juga sedang menangis.
     Christy mencoba terus menerus menenangkan Felly namun dihempasnya tubuh Christy hingga terpental, untung ada Anisa dan Gigi yang tak sengaja menopang tubuh Christy. Tristan kemudian memeluk Felly dan mengatakan kalau dia tidak sendiri.


SKIP………………………………….


     “Kata Christy kamu sudah kembali ke Bandung?” Membawa es berwarna merah muda dalam plastik berbentuk gelas cantik bergambar tokoh kartun.
     “Rencana pulang besok, Nis. Sepertinya masih ada yang tertinggal kalau aku belum bilang sesuatu tentang Tristan dan Felly kepada kalian.
     “Maksud kamu, ohya kamu sudah tau kematian orang tua Christy dan Felly?”
     “Sudah, maaf aku tidak sempat ada disana waktu itu. Karena aku harus membeli tiket ke Bandung. Ohya Ada hal penting yang ingin aku sampaikan sama Christy, Aku mencintai dia. Tapi cintanya hanya buat Tristan. Aku harus tau diri soal itu”.
     “Al, Tristan itu sudah menyakiti Christy. Buat apa kamu takut nyatain perasaan kamu ke Christy. Mungkin kehadiran kamu bisa membuat Christy melupakan Tristan”.
     “Kamu salah, Nis. Tristan hanya mencintai Christy”.
     “Lalu kenapa Tristan meninggalkan Christy? Dan memilih tunangan sama Felly?”
     “Itu yang ingin aku sampaikan sebelum aku pulang ke Bandung. Tapi sepertinya Christy tidak boleh tau soal ini. Aku takut Felly tidak akan berhenti menyakiti Christy”.
     “Maksud kamu?” Melontarkan pertanyaan penuh rasa penasaran.
     “Kamu ingat sewaktu Christy masuk ruang ICU? Disitulah semua sandiwara dimulai. Sebenarnya Christy tidak hanya kelelahan atau stress. Tapi Christy mempunyai penyakit gagal ginjal yang membutuhkan pencakokan ginjal”.
     “Kamu tau dari mana?” Sesekali meminum es yang dibawanya.
     “Aku tidak sengaja mendengar percakapan Tristan dan Felly setelah kamu dan Gigi meninggalkan Rumah sakit. Christy harus segera dioperasi. Felly lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Christy. Tristan memohon kepada Felly karena ginjal Tristan tidak cocok untuk Christy dan Felly akhirnya mau dengan syarat Tristan mau bertunangan dengan Felly dan bersedia meninggalkan Christy. Disitu aku mulai mengerti arti cinta. Tristan benar-benar mencintai Christy, Nis. Aku tidak mungkin merusak hubungan mereka”.
     “Aku tau perasaan kamu, Al. Sebaiknya kita katakan ini semua sama Christy, Kita harus menyatukan mereka kembali”.
     “Jangan, aku takut ini akan membuat Felly semakin menyakiti Christy!”
     “Aku sudah mendengarnya, Do”. Muncul dari belakang yang nampaknya mendengar semua apa yang mereka bicarakan.
     “Christy!” Serempak kaget.
     “Kita berdua sudah ada disini sejak tadi, dan kita mendengar semua apa yang kalian bicarakan”. Lanjut Gigi yang berdiri sejajar dengan Christy.
     “Kalau seorang saudara rela memberikan anggota tubuhnya kepada kita? Kenapa kita tidak rela dan merasa berat untuk berbagi CINTA demi kebahagiaan saudaraanya? Apa yang Felly lakukan buat aku itu adalah CINTA. Dan aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan Felly. Aku memang bukan saudara kandungnya. Tapi apa yang Felly lakukan buat aku itu lebih dari saudara kandung”.
     “Christy…..?” Felly tidak sengaja mendengar kata-kata yang membuat hatinya luluh dan bersegera memeluk Christy.
     “Felly…” Memeluk balik Felly dengan erat.
     “Maafkan aku, Chris. Selama ini selalu berfikir buruk tentang kamu, aku tidak pernah menerima kamu sebagai saudaraku. Aku selalu menyakiti hati kamu, Chris. Bahkan aku sudah tega merebut CINTA kamu”.
     “Sssstttt…… apa yang kamu lakukan tidak salah. Akunya saja yang tidak pernah berterimakasih kepada kamu, Mama dan Papa, Fell. Tega membuat kamu menangis. Kamu, Papa dan Mama itu bagaikan malaikat yang merubah hidupku jadi lebih indah”. Meneteskan air mata memeluk Felly lebih erat.
     Aldo, Anisa dan Gigi terharu melihat mereka berdua. Dan Tristan akhirnya datang ditengah-tengah mereka.
     “Tristan itu buat kamu Chris, bukan buat aku. Maafkan aku yang telah membuat Tristan menamparmu waktu itu dan telah membuat Tristan meninggalkanmu, Hmmmm”. Mempersilakan Christy menghampiri Tristan.
     Daaaaaaaaaaaaaaaaaaan, akhirnya Christy kembali dipelukan Tristan.
     “Yeeee….” Anisa, Gigi, Aldo dan Felly Bersorak untuk Christy dan Tristan.
     Bahagiaaaanyaaaa………


The End………………………………………………..

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"



Penulis :