Rabu, 21 Agustus 2013

Bukan Cinta Permanen

Pagi ini siswa kelas XII IPA a SMA PUTRA PUTRI Bangsa mengadakan ulangan lisan mendadak untuk melatih menghadapi Ujian Nasional mendatang, semua siswa kaget dan bingung. Mereka membuka-buka buku MAPEL yang akan diujikan sembari menunggu giliran. Christy dan Willy malah asik bermain lempar kertas yang diremas-remas menyerupai bola kecil. Mereka terlihat santai dan cuek maklumlah Christy dan Willy terkenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang luar biasa makanya mereka tidak peduli mau ada ulangan mendadak ataupun tidak.
“Willy…” Ibu guru yang terlihat masih berumur sekitar 25 tahunan itu memanggil Willy untuk maju kedepan menghadapi pertanyaan pertanyaan darinya.
“Sukses ya Will!” Menepuk pundak Willy.
            “Pasti…” Dengan santainya melangkahkan kaki yang bersepatu warna biru menuju meja guru.
            10 pertanyaan mampu Willy jawab dengan benar dan sekarang giliran Christy. Wajahnya tidak menampakkan rasa takut sama sekali. Yaa.. Karena ulangan seperti ini Christy tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 100.
            “Kamu siap Christy?” Tanya Ibu guru sembari membolak balik buku mencari soal untuk Christy.
            “Siap!” Dengan tegas Christy menjawabnya.
            “9 Pertanyaan sudah kamu jawab dengan tepat, sekarang pertanyaan terakhir, dan ini sangat mudah. Disini siapa yang berperan sebagai Konsumen III?” Memperlihatkan gambar rumput, belalang, katak, ular dan jamur.
            Mendengar pertanyaan itu Christy nampaknya bisa menjawab dengan mudah, namun apa yang terjadi?
            “Belalaaaaaaang”. Willy dengan sengaja melempar Belalang mainannya dari plastic tepat mengenai tangan Christy. Alhasil Christy berteriak.
            “Belalang????” Ibu guru yang mendengar jawaban Christy langsung kaget dan mempersilakan Christy untuk duduk kembali.
            Alhasil Christy hanya bisa menjawab 9 pertanyaan dan Willy cengengesan menertawakan Christy, wajah Christy nampaknya sangat kesal dengan ulah Willy.
            “Jail banget!!!” Geregetan dan hampir menonjok muka Willy.
            “Eiits….” Willy terus menertawakan Christy.
            “Baik anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat”.
            Para siswa berlari menuju kantin dengan sigap.
            “Kali ini yang harus nraktir kayaknya Christy si cewek jutek”. Meledek Christy.
            “Gak mau”. Cemberut.
            “Kok gak mau? Ini kan sudah perjanjian, Chris”.
            “Tapi kan loe curang”. Melototi Willy.
            “Gak papa kali, Chriiiiis”. Mengusap muka Christy dengan telapak tangannya.
            “Iwwhhh bau’…” Menyingkirkan tangan Willy.
            “Ahhh enggak”. Mencium tangannya sendiri.
            “Gue mau pulang!” Menarik Tasnya yang ada diatas meja.                                               
            “Lohh, kok pulang sich, jangan donk!”
            “Mau ikut apa gak?” Memandangi Willy kesal.
            “Ikut ikut”. Membopong Tasnya dan mengikuti Christy.
            Begitulah ulah mereka setiap hari, mengikuti pelajaran hanya sampai ditengah-tengah. Kecerdasan mereka mungkin kelewat batas jadinya guru yang menegurnya pun selalu kalah dengan kata-kata cerdas dari mulut mereka, badung sich tapi tidak pernah mendapat nilai jelek sama sekali.

SKIP………………………………………………..

            “Loe mau ketemu siapa disini, Chris?” Memburu pemandangan sekitar.
            “Pacar?” Santai.
            “BhEEpb ebbbh,, hahaha pacar?” Menertawakan  Christy meledek.
            “Kok ketawa sich!” Kesal.
            “Sejak kapan  loe pacar baru sejak si Chrisjon yang plaboy itu mutusin loe?”
            “Namanya Christian buat Chrisjon”. Tambah kesal.
            “Ya terserah gue donk! Ehh ehh ngomong-ngomong siapa sich pacar baru loe itu?” Berjalan sedikit tertinggal oleh langkah Christy.
            “Liat aja ntar!” Terus melangkah mencari keberadaan pacarnya.
            “Chris, Chris, kenapa loe bengong?”
            Tanpa berkata-kata lagi Christy berlari meninggalkan tempat itu.
            “Wahhh pasti gara-gara cowok itu tu”. Menunjuk ketua genk motor yang sedang bermesraan dengan cewek.
            “DUaaagh,,, loe jangan mainin Christy ya?!!!” Willy lalu menghampiri cowok itu dan memukulnya.
            “Stop-stop!!! Willy apa-apaan ini?” Kak Dinda yang tak sengaja lewat langsung menghentikan perkelahian itu.
            Cowok yang dipukuli Willy langsung berlari bersama ceweknya menjauh dari tempat itu.
            “Seharusnya kakak tidak menghentikannya tadi”.
            “Willy,, terjadi apa lagi dengan Christy? Apa itu cowok yang ke 5 yang loe pukul gara-gara menyakiti Christy? Kalau emang itu benar kakak berterima kasih sama loe, tapi ini bahaya buat loe, Will”.
            “Willy gak peduli kak, Willy Cuma mau ngasih pelajaran buat semua cowok yang sudah nyakitin Christy, biar mereka tau kalau Christy tidak sepantasnya dibuat mainan”.
            “Kalau mereka semua akhirnya balas dendam sama loe gimana coba? Loe kan bisa babak belur dikroyok sama semua mantan-mantan Christy”.
            “Willy gak takut kak”.
            “Ya sudah sekarang kita cari Christy terus pulang”.
            “Hmmmm Hmmm”. Willy mengangguk.

SKIP……………………………………………………..

            “Berapa kali kakak bilang, gak usah gampang percaya sama sembarang cowok, akhirnya gini kan? Loe sakit hati lagi”.
            “Christy Cuma mau punya pacar aja kak, biar gak diremehin sama Willy”.
            “Emang Willy ngremehin gimana?”
            “Katanya Christy itu cewek jutek yang gak mungkin punya cowok, tapi nyatanya mantan Christy banyak kan kak? ganteng-ganteng pula walau yang bertahan lama Cuma satu bulan”.
            “Hmmm,, mungkin dia bercanda kali”.
            “Mungkin”. Menganggukan kepalanya.
            “Ya sudah… tidur sana. Besok kan harus berangkat kesekolah”.
            “Iya kak”.
            “Selamat malam Christy”. Mengecup kening Christy.
            “Selamat malam juga kakak”. Memperhatikan Kakaknya yang mulai tak keliatan melewati pintu kamarnya.
            Keesokkan harinya pagi-pagi sekali Willy mengahampiri Christy seperti biasa numpang sarapan, karena masakan Kak Dinda sangat enak dan lezat untuk mengisi semangat dipagi hari.
            “Kak dinda masak apa sekarang?” Dengan PeDenya duduk dimeja makan.
            “Cuma nasi goreng, kebetulan tadi kakak telat bangun jadi gak sempet bikin sarapan yang macem-macem”.
            “Walaupun Cuma nasi goreng, kalau yang buat kak Dinda tu rasanya ISTIMEWA banget dech! Coba aja kalau Christy bisa masak seenak kak Dinda, pasti aku mau nikah sama dia”. Menyantap makanan yang disajikan kak Dinda didepannya.
            “Yeee siapa juga yang mau nikah sama loe”. Juteknya berlebihan.
            “Emangnya loe kira gue mau apa”. Jawab Willy  dengan mulut penuh nasi goreng buatan kak Dinda.
            “Sudahh sudahh, pagi-pagi sudah ribut. Habisin dulu sarapannya ntar telat”.
            “Kak dinda gak ikut sarapan?”
            “Kakak sarapannya ntar siang aja, lagian hari ini kakak libur kok”. Duduk menemani mereka.
            “Ya jelas kak Dinda gak ikut makan lah, jatah makan kak Dinda dihabisin sama loe kan?”
            Willy memasang wajah bengong sembari melepas sendok dan membiarkan sendoknya nyangkut dimulutnya.
            “Hmmm,,, Christy…” Mengusap-usap rambut Christy.
            Selesai sarapan mereka langsung berangkat sekolah, biasa jalan kaki niatnya sich agar telat gitu biar seru katanya, Emang badung banget mereka.
            Ditengah jalan Christy melihat Robbi teman SMPnya dulu.
            “Christy ya???”
            “Loe siapa ya?” Christy sedikit lupa dengan wajah teman SMPnya itu.
            “Gue Robbi, temen SMP loe dulu. Ingat kan?”
            “Robbi??? Loe jadi secakep ini? Emang sich loe dulu cakep tapi gak secakep sekarang, sekolah dimana loe?”
            “Gue? Kebetulan gue sekolah di Inggris, yaahh Papa Mama gue kan udah menetap disana, gue sekarang lagi liburan aja dirumah nenek gue disini, loe makin cantik aja”.
            “Maaciiyyhhh”.
            “Ayo Chris, ntar kita telat loh!” Menarik Christy yang nampaknya keliatan cemburrruu.
            “Sejak kapan loe peduli telat atau gak? Biasanya juga kita gak pernah mikirin itu kan?” Jawab Christy.
            “Udah ayooo!!!” Menarik Christy yang nampaknya tak mau buru-buru meninggalkan Robbi.
            “Duluan ya Robbi, nanti kita ngobrol lagi”.
            “Okey, bay”.
            “Siapa sich dia?” Nada Kesal.
            “Dia itu temen SMP gue, Will, yahh dulu gue naksir sich sama dia, tapi karena gue kalah cantik sama Sarah yang statusnya idola si SMP gue, jadi gue gagal buat dapetin dia”.
            “Terus sekarang loe mau pacarin dia gitu?” Semakin kesal.
            “Yaa kalau bisa sich!”
            “Loe itu gak ada kapoknya ya pacaran? Padahal yang loe pilih tu ya satupun gak ada cowok yang bener ”.
            “Ya biarin lah, dari pada loe? Gak pernah punya cewek satupun”.
            “Gue seperti ini karena gue cinta sama loe Chris, dan gue gak mau punya cewek selain loe”. Gumamnya dalam hati.
            “Yeee malah bengong ayo jalan!”

SKIP……………………………………….

            “Kak Dinda, Christynya ada?” Dengan sopan.
            “Baru aja pergi”. Sembari membaca majalahnya.
            “Malam-malam kok baca majalah kak? Ohya Christy Sama siapa kak?”
            “Ya nich, lagi hobi ajha! Sama??? Siapa ya tadi… Robbi kayaknya Will”.
            “Robbi??? Kakak gak cegah?”
            “Buat apa kakak cegah Will? Kan mereka sudah pacaran”.
            “Pacaran? Baru 2 hari ketemu udah pacaran?”
            “Hmmm,, setau kakak sich gitu?”
            “Ya sudah kak, Willy permisi dulu?”
            “Iya Will”.
            Belum sempat melewati gerbang rumah Christy, Robbi dan Christy sudah kembali, Willy yang melihat itu langsung melemparkan tubuhnya ke semak-semak dekat gerbang rumah. Setelah Robbi keluar dari halaman rumah Christy, Willy mengikutinya. Mungkin karena rasa curiga yang mendalam yang merasuki hati Willy. Dilihat dari penamplannya Willy menilai kalau Robbi bukan cowok baik-baik.
            Ya memang betul adanya, Robbi adalah segerombolan remaja yang berada dilingkungan para pecandu obat-obatan terlarang, Robbi juga termasuk pengedarnya. Mengetahui hal tersebut, Willy akan bertindak tegas kepada cowok yang bernama Robbi itu.
            “Chris, Robbi itu cowok gak bener, loe putusin aja dia”.
            “Loe iri kan sama gue, Will?”
            “Iri?? Ya gak lah Chris, loe itu sahabat gue, gue gak mau sahabat gue salah pilih”.
            “Kali ini loe gak usah ikut campur urusan gue, atau capek-capek nyuruh gue buat putusin Robbi, karena itu gak akan pernah mungkin”.
            Keesokkan harinya Willy menemui Robbi.
            “Gue minta loe putusin Christy sekarang juga dan jangan pernah ganggu dia!”
            “Loe siapanya Christy berani nyuruh gue buat mutusin dia?”
            “Gue sahabatnya, kalau loe gak mutusin Christy nasib loe bakalan sama, sama mantan-mantanya Christy”. Sekejab tangannya berubah menjadi pukulan yang siap diluncurkan.
            “Willy????”
            “Christy?” Belum sempat mendaratkan pukulannya Christy sudah menghalanginya.
            “Jadi? Semua mantan-mantan gue itu loe yang bikin mereka mutusin gue? Loe tega ya Will nyakitin hati gue, loe boleh jailin gue, loe boleh bersaing sama gue, tapi tidak dengan mainin perasaan gue”.
            “Chris, Semuanya gak seperti yang loe lihat, loe salah paham Chris, gue bisa kok jelasin semuanya”.
            “Gak perlu, ayo Robbi. KITA PERGI dari SINI”.
            “Chris, Tunggu! Ach!!!” Menendang kaleng yang berada dibawahnya.
            Sejak kejadian itu Christy tidak lagi mau menemui Willy, Willy selalu berusaha mendekat dan menjelaskan semuanya tapi Christy tidak memberikan kesempatan berbicara sama sekali kepada Willy.
            “Willy kenapa akhir-akhir ini dia tidak pernah sarapan disini lagi?” Menyiapkan sarapan pagi dimeja makan.
            “Tau diri kali dia kak”.
            “Maksud loe apa, Chris?”
            “Ternyata yang bikin mantan-mantan gue mutusin gue itu Willy kak, ini semua ulah dia”.
            “Willy? Loe gak salah?”
            “Gak kak”.
            “Setahu kakak Willy itu baik dan sangat peduli sama perasaan loe”.
            “Gue kira juga gitu kak, tapi apa yang gue lihat dan gue denger Willy lah yang bikin semuanya mutusin gue, kemaren dia nyuruh Robbi buat mutusin gue kak”.
            “Masak sich? Pasti Willy punya alasan melakukan itu semua”. Menyodorkan piring mendekati Christy.
            “Christy!” Willy tiba-tiba datang.
            “Ya udah kak, Christy berangkat dulu”.
            “Loeehh habisin dulu sarapanya, belum juga dimakan”.
            “Christy buru-buru kak!” Berdiri meninggalkan kursi yang semula dia duduki.
            “Chris, Christy!” Mengejar Christy.
            “Willy tunggu! Gue tau semuanya itu salah paham. Apa yang Christy katakan tentang loe ke gue itu salah”. Menghentikan langkah Willy.
            “Iya kak, tapi Christy tidak pernah mau memberikan sedikit waktu buat gue jelasin semuanya”. Mendekati Dinda.
            “Kenapa loe nyuruh Robbi mutusin Christy?”
            “Robbi pecandu dan pengedar narkoba dikalangan pelajar kak, gue melihatnya sendiri”.
            “Will, Loe cinta kan sama Christy? Gue bisa ngerasain betapa besar cinta loe sama Christy, setelah apa yang loe lakuin ke Christy selama ini. Semuanya udah buktiin kalau kepedulian loe ke Christy itu lebih dari sahabat”.
            “Willy emang cinta kak sama Christy, tapi Christy hanya menganggap Willy sebagai seorang sahabat. Bukannya gue gak berani ngungkapin kak, tapi karena gue menghargai persahabatan kita, gue gak mau persahabat kita jadi hancur kalau Christy tau gue mencintainya”.
            “Jangan pernah takut ngungkapin perasaan loe,, apapun yang terjadi nanti yang penting loe udah jujur sama perasaan loe, gue yakin kalaupun Christy akan menolak loe dia pasti akan menghargai perasaan loe, tapi kakak tau betul apa yang akan terlontar dari mulut Christy kalau loe bilang cinta ke dia”.
            “Apa kak?”
            “Dia akan bilang kalau dia juga mencintai loe”.
            “Sungguh itu kak?”
            “Hmm hMmm… Matanya gak pernah bisa bohong, dan gue ini kakak kandungnya gue tau apa yang ada dalam hatinya”.
            “Kalau gitu Willy kejar Christy, kak”.
            “Good Luck!”
            “Makasih kak!!!”
            “…..” Kak Dinda tersenyum.
            Ditengah perjalanan langkah Willy dihentikan oleh segerombolan cowok-cowok yang tak lain adalah mantan-mantan Christy yang diketuai oleh Robbi. Mereka membalas pukulan Willy yang mendarat dimuka mereka. Willy akhirnya babak belur dan tidak sadarkan diri. Willy dibuang ke sungai yang airnya sudah nampak kering, hanya bebatuan yang ada disana.
           
SKIP…………………………….
           
            Pulang sekolah Christy Nampak sedih dan memeluk Dinda dengan wajah basah yang tak lain adalah air matanya sendiri.
            “Kakak….”
            “Christy, loe kenapa sayang?”
            “Ternyata Robbi pecandu dan mengedar obat-obatan terlarang kak, Christy mutusin dia tadi”.
            “Bagus donk kalau kamu sudah tau”.
            “Tapi yang Christy sesali tu Christy udah salah sangka sama Willy kak”.
            “Sudah-sudah, sekarang kamu duduk dulu kakak ambilin minum”.
            “Kak, Apa Willy akan memaafkan Christy kalau Christy minta maaf sama dia kak?”
            “Daahhh, minum dulu ya?” Menyodorkan segelas air putih.
“ Willy sekarang sedang dirawat dirumah sakit”.
“Apa???”
“Iyaaa, tadi pagi setelah dari sini dia ingin nyatain perasaannya ke loe, Chris. Dan ditengah jalan dia digebukin sama Robbi dan Mantan-mantan loe yang lainnya. Hehh… Ini yang kakak takutin,, Willy dikroyok sama semua orang yang sudah pernah dia pukul karena nyakitin loe”. Mendekap wajah Christy dengan kedua tangannya.
            “Willy ngelakuin itu kak?”
            “Hmmm Hmmmm”. Mengangguk.
            “Antar Christy ke Rumah sakit sekarang kak!”
            “Hmmm…” Mengangguk.
            Sampai dirumah sakit Christy hanya bisa melihat Willy dari balik kaca jendela, Tubuh Willy penuh dengan balutan perban yang berhiaskan darahnya sendiri. Christy yang melihatnya Nampak tak tega dan terus meneteskan air matanya yang tak habis-habis.
            “Kata dokter kalau Willy sadar dia tidak akan ingat apa-apa”.
            “Benarkah itu tante?” Air matanya kian deras.
            “Iya, Chris. Tante juga sedih mendengarnya”.
            “………” Menjatuhkan tubuhnya kedekapan Dinda.
            “Sabar…” Memeluk erat Christy.
            Setelah Willy sadar semuanya berada disamping Willy. Namun Willy tak mengenali semua yang ada disitu, satu persatu Mama Willy memperkenalkan anggota keluargannya, mengenalkan Dinda dan tak ketinggalan cewek jutek yang selalu menemaninya setiap waktu yaitu Christy.
            Tapi Willy tak bisa mengingat mereka sama sekali. Christy memang tak sanggup menerima semua itu apalagi ternyata Christy juga mencintai Willy. Namun kak Dinda selalu membuat Christy kuat menghadapi semua itu.
            “Tante, Christy boleh kan mengajak Willy jalan-jalan?”
            “Boleehhh, silakan”.
            Willy duduk lemas bersandar dikursi rodanya, Christy dengan penuh semangat mendorong Willy menikmati indahnya pemandangan disekitar mereka. Walau kadang Christy tak bisa membendung air matanya tapi dia selalu berusaha terlihat tegar dihadapan Willy yang sekarang tak mengenal siapa-siapa.
            “Dulu kita sering bercanda disini, bolos sekolah bareng dan yang pasti kita selalu menghabiskan waktu bersama-sama disini”.
            “…….” Willy hanya terdiam tak ingat apa-apa.
            “Ya Tuhan, Willy tak ingat sama sekali tentang siapa gue dan siapa kita, apa lagi perasaannya ke gue?” Gumamnya dalam hati sembari terus meneteskan airmatanya.
            “Christy? Jangan menangis, gue tau loe adalah sahabat yang terbaik yang pernah hadir dalam hidup gue, dan gue tau loe pasti sosok sahabat yang luar biasa. Walaupun sekarang gue gak ingat siapa loe”.
            “……..” Christy memeluk Willy dari belakang kursi rodanya sembari mengalirkan air matanya yang Nampak terharu mendengar kata-kata Willy.
………………………………………
                “Yaaaa,,,, Itulah kesalahan terbesar gue yang  pernah berburuk sangka dengan orang yang sangat mencintai gue, gue memang menyesal tapi penyesalan gue tidak akan pernah merubah takdir yang TUHAN berikan sama gue dan Willy, sekarang apa yang terjadi pada Willy gak mungkin gue ubah, dia lupa sama gue dan dia juga lupa dengan cintanya ke gue. Tapi It’s Okey…. Meski cintanya bukan cinta permanen tapi gue bahagia pernah dicintai olehnya dan gue lebih bahagia karena kita akhirnya tetap bersahabat yaaaa BERSAHABAT itu yang membuat hari itu  lebih Istimewa”.

The End……………………..

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"





Sabtu, 17 Agustus 2013

Janji Tiga Jari



          Seluruh siswa Sekolah Menengah Atas hari ini akan menerima pengumuman hasil Ujian Nasional mereka yang dilaksanakan beberapa minggu yang lalu. Semua siswa  hatinya tidak karuan dan takut apabila kertas yang beramplop putih itu bertuliskan kata buruk “Tidak Lulus”.
          Berbeda dengan siswa yang lainnya, Anisa justru santai dan tenang-tenang saja menunggu kepulangan Mamanya yang berada didalam kelasnya. Anisa duduk santai ditaman sekolahnya sembari bermain game yang ada di Ipad hadiah dari Ayahnya semester yang lalu karena menjadi bintang disekolahnya.
          “Nisa, mana Ayah kamu? Apa sudah datang kesini?” Tanya Kezia yang Nampak takut kalau orang tuanya tidak datang.
          “Bukan Ayah yang datang, tapi Mama”. Tak menoleh sedikitpun ke Kezia karena asik bermain game kesukaannya.
          “Memangnya Ayah kamu kemana? Untung Mama kamu datang. Sedang aku? Papa dan Mamaku tidak tau akan datang atau tidak”. Duduk mendekati Anisa.
          “Aku juga tidak mengharap Mama datang. Lebih baik hasil kelulusanku tidak diambil dari pada disentuh Mama”. Tetap asik memainkan Ipad nya.
          “Nis, rubah donk sikap kamu sama Mama kamu. Kamu beruntung masih punya Mama yang sangat perhatian sama kamu”.
          “Aku tidak minta kehadiran Mama dihadapanku”. Berdiri menatap Kezia dengan marahnya, lalu meninggalkan Keizha.
          “Nis… Kok marah sich!”
          “Nisaaa!” Berpapasan dan menghentikan langkah Anisa.
          “Alan?” memandang wajah Alan yang lebih tinggi dirinya.
          “Kamu sudah menerima hasilnya?”
          “Belum, Al”. Melanjutkan langkahnya.
          “Loh, semua orang tua murid kan sudah pulang”. Mengikuti langkah Anisa.
          “Mungkin Mamaku juga sudah pulang tanpa memberitauku”.
          “Pasti Mama kamu ingin memberi kejutan buat kamu”.
          “Lohh, Papaku kan belum datang kok sudah pada pulang sich? Lalu hasil punya aku gimana?” Sambung Kezia.
          Tanpa menghiraukan Kezia Alan dan Anisa pergi meninggalkannya sendiri dibawah pohon rindang yang amat sangat sejuk bila duduk dibawahnya. Mereka menuju rumah Anisa.
          “Nisaa, ini hasil ujian kamu sayang”. Menyodorkan amplop putih yang ukuranya tidak terlalu besar.
          “Aku mau Ayah yang ngambilin Ma, bukan Mama”. Mehempas tangan Mamanya hingga amplop itu terjatuh dan melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Mamanya.
          “Tante, sabar ya? Mungkin Anisa belum bisa menerima kehadiran tante untuk menggantikan posisi Bundanya dalam hatinya”.
          “Tante tau Al, tante memang tidak bisa menggantikan Bundanya tapi tante Cuma mau Anisaa sayang dan tidak kasar sama Tante”.
          “Alan ngerti kok Tan, sabar ya?”
          “Ya sudah kamu susul Anisa sana!”
          “Emmm Alan ada janji sama Mama Alan tante, Alan permisi dulu tante”.
          “Iya Alan, terimakasih ya sudah mengantarkan Anisa sampai rumah”.
          “Sama-sama Tante, ini sudah kewajiban Alan kok”.
          “Alan? Mau pulang?” Tanya Gigi yang baru pulang dari rumah temannya.
          “Iya Gi, duluan ya?”
          “Ohh, Iya.. hati-hati ya?”
          “Okey!”
          “Mama kenapa? Mama nangis?” Menegakkan wajah Mamanya.
          “Emmm tidak, tadi hanya kelilipan waktu duduk didepan rumah”. Membersihkan air mata yang belum sempat terjatuh sampai dipipinya.
          “Mama jangan bohong sama Gigi”.
          “Mama gak bohong”.
          “Pasti gara-gara Anisa kan?” Nampak ingin melabrak Anisa yang sekarang sedang ada dikamar.
          “Tidak Gi, tidak”. Mencoba menghalangi Gigi.
          “Biar Gigi kasih pelajaran sama dia, Ma”.
          “Jangan!” Melarang namun tak bisa menghentikan niat Gigi.
          “Brak brak brak”. Dengan kasar Gigi menggebrak-gebrak pintu kamar Anisa.
          “Buka Nis!”
          “Apaan sich Gi, aku capek mau istirahat”. Membukakan pintu.
          “Kapan sich kamu akan bisa menghargai Mama?”
          “Sepertinya tidak akan pernah”. Kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.
          “Nis, Buka!” menggedor-gedor pintu dengan keras.
          “Apa lagi sich, Gi. Aku kan udah bilang aku mau istirahat”. Membuka pintu.
          “Sini!” menarik Anisa keluar dari kamar yang tadi berada dibalik dipintu kamar yang sedikit terbuka.
          “Lepas. Sakit tau’, kenceng banget sich pegangnya”. Menghempaskan tangannya yang dipegang erat oleh Gigi.
          “Kamu boleh benci sama aku dan tidak menerima aku disini, tapi tolong! Jangan sakiti Mama”.
          “Gi, asal kamu tau! Gara-gara kamu dan Mama kamu yang tidak tau diri itu Bunda jadi pergi. Aku harus baik sama kalian? Tidak akan pernah”. Kembali masuk kamar dan mengunci pintu.
          “Nis Anisaaa… buka! Uuuchh..” menendang pintu kamar karena kesal tidak dibukakan.
          Mama mereka hanya melihat pertengkaran kedua anaknya itu dari bawah. Sembari mengelus-elus dadanya.

SKIP…………………………………………

          “Nis, aku mau ngomong sama kamu”. Berdiri didepan pintu rumah Anisa.
          “Mau ngomong disini atau diluar?” Saut Anisa yang baru saja keluar dari rumah mewahnya.
          “Kita ngomong ditaman saja ya?”
          “Oke, tapi aku ganti baju dulu ya?” Melangkahkan kaki jenjangnya kedalam rumah.
          “Okee”. Aku tunggu disini ya?” Duduk dikursi yang berada diteras.
          Anisa kelihatan cantik malam itu, rambutnya panjang hitam terurai dan memakai gaun warna merah muda yang membuatnya menjadi lebih istimewa dihadapan Alan. Mereka pun jalan menuju taman dengan mobil Alan yang cukup mewah. Belinya saja diluar negeri dan harganya pun pasti sangat mahal.
          “Kamu Lulus kan?” Tanya Alan setelah duduk ditempat yang mereka anggap special.
          “Iya donk, masak gak sich!” Sembari memakan donat yang diatasnya terhiasi oleh seres berwarna warni dan parutan keju yang nampaknya sangat lezat ia santap.
“Kemana kamu akan melanjutkan sekolah?” Menyodorkan jus sirsak karena melihat Anisa yang Nampak kualahan menelan donatnya.
          “Aku??? Sepertinya aku akan focus sama usaha Bundaku”. Mendekatkan gelas berisi jus ke mulutnya dan meminumnya pelan-pelan.
          “Kamu tidak akan melanjutkan ke Universitas impian kamu?”
          “Tidak Al, dulu aku sangat bermimpi bisa menjadi dokter seperti Ayah, tapi aku mengurungkan niatku”. Memungut satu persatu seres dan memasukkan kedalam mulutnya.
          “Kenapa?” Menyodorkan tisu ke Anisa yang sedang asik memakan donat sampai tak sadar kalau mulutnya belepotan.
          “Eiii Thanks, Emm Pekerjaan Ayah memang mulia tapi Ayah melupakan kewajibanya sebagai seorang Ayah untuk anaknya. Itu yang membuat aku benci dengan pekerjaan itu”. Sembari membersihkan sisa seres yang mengotori mulutnya.
          “Semoga kamu tidak sungguh-sungguh mengatakan itu Nis”.
          “Hmmm, aku sungguh-sungguh”. Menghentikan gerak tangannya dan menatap Alan.
          “Bukanya resto bunda kamu sudah diurus sama Mama kamu?”
          “Aku tidak mau usaha Bunda dikotori sama Mama, lalu kamu sendiri akan meneruskan kemana?” Pandangannya kembali terpaku ke seres yang berada diatas donatnya.
          “Itu yang ingin aku bicarakan sekarang, Nis”.
          “Bicara saja”. Tetap asik berburu seres yang menempel erat diatas donat berukuran sedang.
          “Orang tuaku akan mengirim aku ke Canada”.
          “Canada? Sejauh itu?” sejenak menghentikan perburuannya diatas donat lalu kembali memakan seres yang ia dapat ditangannya.
          “Iya Nis”.
          “Kenapa tidak di Indonesia saja? Kampus disini kan tidak kalah sama kampus-kampus diluar negeri”. Kali ini donatnya habis, Anisa focus memandang wajah Alan.
          “Ya itulah Nis yang membuat aku berat mengatakannya padamu. Papa dan Mama juga akan pindah kesana, kebetulan perusahaan mereka juga banyak disana yang belum mereka urus”.
          “Lalu kamu akan meninggalkanku?” Menatap mata Alan yang nampaknya sedang tidak main-main.
          “Aku pasti akan kembali kesini dan menjemputmu, Nis”. Mendekap kedua pipi Anisa dengan tangan hangatnya.
          “Apakah akan berakhir disini cinta kita Al?” Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Tidak Nis, aku berjanji padamu aku akan kembali untuk menyambung cinta kita yang nampaknya akan lama kita abaikan”. Menghapus air mata Anisa yang mengalir dari lubang matanya.
          “Janji? Jangan bohong padaku Al?” Menyentuh erat tangan Alan yang masih bersandar dipipinya.
          “Aku takkan bohong Nis, karena aku sangat mencintaimu”.
          “Aku berjanji akan menunggumu Al, dan menutup hatiku untuk cowok selain kamu, aku juga sangat mencintaimu”.
          “Jaga diri baik-baik ya sayang selama tidak ada aku disini”. Memeluk Anisa.
          “Kamu juga”. Membalas pelukkan Alan.
          Alan meneruskan kuliahnya jauh dari Negara kita, sedangkan Anisa bekerja meneruskan usaha Restoran yang tak lain adalah peninggalan Bundanya. Mereka sudah berpisah 5 tahun lamanya, tak satu kalipun Alan menengok dan menanyakan keadaan Anisa.
          “Nisa, besok bantu Ayah kebetulan daftar pasien Ayah meningkat pesat”. Sembari menyiapkan alat-alat kedokteran kedalam tasnya.
          “Itu karena penyakit yang akhir-akhir ini mewabah dikota kita ya Yah?” Memakaikan jas putih Ayahnya.
          “Sepertinya begitu, Nis”. Menatap Anisa sejenak.
          “Lalu Restoran Nisa gimana Yah?” Merapikan Jas yang sudah terpasang ditubuh Ayahnya.
          “Biar Mama yang ngurus untuk minggu-minggu ini”.
          “Baiklah, Yah”.
          “Tumben mau nerima Mama”. Ledek Gigi yang sedang asik memainkan remot TVnya.
          “Sudah!” Sahut Ayah.

SKIP…………………………………………………
         
          “Nisa tolong ambilkan tas ayah diruangan Ayah”. Sibuk memeriksa pasien.
          “Ini Yah, Yah Nisa capek. Nisa mau cari makan dulu ya?”
          “Kamu kembali saja ke restoran, Nis, Papa sudah selesai kok. Sekalian makan disana”.
          “Okey Yah”. Sembari memberikan tas milik ayahnya.
          Anisa yang terlihat kelelahan berjalan keluar tiba-tiba menabrak seorang cewek, yang tingginya tak lebih tinggi dari Anisa.
          “Aaaauuuu”.
          “Maaf… maaf”. Membereskan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.
          “Anisa?” Memperhatikan Anisa yang Nampak sibuk membereskan apa yang telah dia jatuhkan.
          “Christy?” Menoleh dan menghentikan gerak tangannya.
          “Apa kabar, Nis?”
          “Kabar aku Istimewa Chris, kamu sendiri?” Memberikan apa yang sudah dia rapikan.
          “Aku juga Istimewa donk!”
          “Kamu kerja disini?”
          “Iya, aku baru sampai. Dan sepertinya aku mulai bekerja besok”.
          “Kalau begitu kita makan siank yuk! Aku traktir dech!”
          “Dengan senang hati”.

SKIP…………………………………………………………………

          “Kezia, keluarkan menu yang paling enak disini”.
          “Siap Boz Nisa”.
          “Hahaha, Lebay kamu Ke”.
          “Ini restoran kamu Nis?”
          “Ya Ini peninggalan Bunda aku, Chris. Ohya kenalin ini Kezia teman SMA aku dan kita masih berteman sampai saat ini”. Memperkenalkan Kezia kepada Christy.
          “Bagus donk! Kalau punya teman yang sampai sejauh ini masih bareng”.
          “Dan Kezia ini Christy sahabat  kecil aku”.
          “Ohhh Christy yang sering diceritain sama kamu itu ya, Nis?” berjabat tangan dengan Christy.
          “Loh, Nisa sering cerita tentang aku ya? wahhhhh”
          “Iwh jadi Ge Er kan”. Tersenyum.
          “Hahaha…” Mereka tertawa serempak.
          “Ehhhh, berjabat tangan terus, makanan pesenan kita mana Ke?”
          “Ya Ampuunn, sampai lupa kan, tunggu-tunggu”.
          Sembari Kezia menyiapkan makanan, Anisa dan Christy mengobrolkan masa kecil mereka. Asik mengobrol tiba-tiba Hanphone Christy berbunyi.
          “Aku angkat dulu ya, Nis”.
          “Ohh iyaa”.
          “Ini makananya, Nis?” Merapikan makanan dimeja.
          “Makasih ya Ke”.
          “Iya aku kembali ke dapur dulu ya?”
          “Hallow? Sayang!”
          “Sayang kamu sekarang dimana?” Tanya seseorang yang menelfon Christy.
          “Aku ada direstoran Bunda Desy yang diseberang rumah sakit aku bekerja”.
          “Baik aku kesana ya?”
          “Iya sayang, aku tunggu. Hati-hati ya?” Menutup telfonya.
          “Siapa Chris?” Tanya Anisa yang mendengar percakapan mereka.
          “Cowok aku”.
          “Hmmmm… mentang-mentang udah punya cowok pantes aja gak pernah kabarin aku”.
          “Hee, bukan begitu Nis, aku gak kabarin kamu kan karena sibuk kuliah bukan karena cowok”.
          “Hmmmmm bisa aja ngelesnya, ya sudah ini makanannya udah dateng dimakan ya? Dijamin enakkk”. Memperlihatkan jempolnya yang mungil dihadapan Christy.
          “Okeey…  emmm ntar aku kenalin dech! Dia mau kesini kok, bentar lagi sampai”. Mencicipi makanan yang tertata rapi dimeja.
          “Enak kan?”
          “HhEmmmm enak-enak”.
          “Sayang!” Melambaikan tangan dari kejauhan.
          “Itu dia, hy sini sayang!”
          Saat Christy dan cowoknya saling cipika cipiki, Anisa memperhatikannya, nampaknya Anisa mengenal siapa cowok yang sedang bersama Christy itu.
          “Kenalin sayang ini Anisa sahabat kecil aku dulu”.
          “Alan…” Memperkenalkan diri dan memperhatikan Anisa dengan penuh rasa rindu.
          “Anisa..”  Menatap Alan dan matanya mulai berkaca-kaca.
          Mereka berdua pura-pura tidak saling mengenal, mungkin karena Alan yang sudah memiliki kekasih yang tak lain sahabat Anisa sendiri. Anisa Nampak sakit hati dan Alan merasa dirinya amat sangat bersalah.
          “Aaa.. aAaaku ketoilet bentar ya, Chris?” Dengan tergesa-gesa takut airmatanya jatuh dihadapan mereka berdua.
          “Jangan lama-lama, Nis. Alan, kamu mau pesan apa?”
          “Emmm,,, aaaku sudah makan tadi Chris”. Nampak gugup.
          “Kenapa sich Al? kok aneh gitu?” memperhatikan gerak gerik Alan yang tak seperti biasanya.
          “Emmmmm….. gaak papa Chris. Kita pulang aja yuk? Nanti sore kan kita mau beli perlengkapan kamu selama disini?”
          “Tapiiii….” Menunjuk kearah Anisa berlari.
          “Sudah Ayuk!” menarik Christy.
          Mereka meninggalkan restoran, sementara Anisa sedang menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit dia merasa dikhianati oleh cowok yang sangat dia cintai. Sekian lama Anisa menunggu dan menutup hatinya untuk orang lain, terbalaskan pengkhianatan yang membuatnya begitu kecewa.

SKIP…………………………

          Hari ini Christy sudah mulai bekerja di Rumah sakit milik Ayah Anisa. Anisa melihat Christy yang turun dari mobil Alaan dan melihat mereka mesra sebelum berpisah. Hati Anisa hancur sangat-sangat hancur namun dia cukup pandai menyembunyikannya.
          “Hy Nis”.
          “Hy Chris”. Cium pipi kanan Cium pipi kiri.
          “Ohya ntar sore aku sama Alan mau pergi, kamu ikut ya?”
          Sejenak Anisa terdiam, sanggupkah Anisa melihat orang yang dia cintai bersama orang lain? Rasa-rasanya tidak.
          “Looh kok bengong”.
          “Emmm kalian berdua aja ya? Aku harus membantu Ayah kan?”
          “Alah… soal Om dedy mah gampang! Tenang aja biar aku yang minta ijin”.
          Jam kerja Christy selesai dan Christy menuju ruang Ayah Anisa, bertujuan ingin meminta ijin agar Anisa diperbolehkan ikut dengannya. Yahhh Ayah Anisa kan sudah cukup akrab dengan Christy. Jadi Anisa diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu.
          “Tukan apa aku bilang, diijinin kan?”
          “Tapi Chris. Nanti aku ganggu kalian lagi”.
          “Eiiitss. Ya tentu tidak lahh, Nis. Itu Alan sudah menunggu”.
          “Chris, aku gak ikut ya?”
          “Ayoooo!” menarik paksa Anisa
          Alan membukakan pintu mobil untuk Christy sementara Anisa membuka sendiri, Christy duduk didepan dengan Alan, sementara Anisa sendirian dibelakang. Alan Nampak takut karena merasa dirinya salah.
          “Nis, kita ke minimarket dulu ya? Aku mau beli pesanan Mama sama keperluan aku”. Menoleh kebelakang.
          “Iya Chris”. Jawab Anisa singkat.
          “Nanti jalan-jalannya setelah dari situ, sayang kok diem aja sich?”
          “Iya sayang, nanti kita jalan-jalan ya?” sedikit kaget karena telah focus melamun mikirin Anisa.
          Melihat kemesraan mereka Anisa seperti ingin menangis, untung air matanya mampu iya bendung walau nyaris menetes melewati bulu bawah matanya. Sampai ditempat perbelanjaan Anisa memilih untuk tetap dimobil karena takut hatinya akan semakin perih. Alan tau betul bagaimana perasaan Anisa, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa disitu. Selesai berbelanja mereka menuju pantai yang lumayan dekat dengan rumah Alan.
          “Nis, aku cari minum dulu ya?”
          “Iya Chris”.
          “Kalian disini saja jangan kemana-mana”. Meninggalkan Anisa berdua dengan Alan.
          “Kenapa kamu tega khianati aku?” tanya Anisa lirih.
          “Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu Nis, aku hanya tidak mampu membendung rasa cintaku pada Christy”.
          “Tapi kamu sudah janji kan sama aku akan menutup hati kamu untuk cewek lain?”
          “Iya Nis, tapi aku benar-benar tidak bisa. Aakuu akuu sayang sama Christy, dia baik dan perhatian sama aku”.
          “Aku tidak bisa menyalahkan kamu apalagi Christy, cinta memang munculnya tiba-tiba, aku hanya bisa berdoa semoga kalian bahagia, meski aku tidak akan pernah rela ”.
          “Nis, jujur aaku masih aku masiih cinta sama kamu”.
          “Tapi sekarang kamu milik Christy kan?”
          “Iii iiiyaa, tapiii aku aaku”.
          “Lagi ngmongin apaan sich serius amat, ni minum dulu! Ini buat Alan dan ini buat Anisa”. Memberikan minuman dingin kepada mereka berdua.

SKIP……………………………………………………….

          “Alan? Itu kan Alan? Kok sama Christy?” Kezia melihat Alan dan Christy yang keluar dari rumah sakit.
          “Ada apa, Ke?” Tanya Anisa menghampiri Kezia yang clingak-clinguk memperhatikan Alan dan Christy.
          “Itu Alan kan, Nis? Kapan dia kembali? Lalu kenapa dia bersama Christy?”
          “Mereka sekarang pacaran”.
          “Apa???”
          “Iya, Ke”.
          “Sabar ya, Nis?” Menyandarkan telapak tangannya dipundak Anisa, menenangkan.
          “Aku pulang dulu ya, Ke. Badanku tiba-tiba gak enak”.
          “Iya, Nis. Apa perlu aku antar?”
          “Jangan, jangan. Aku bisa sendiri kok”.
          Sampai dirumah Anisa jatuh pinsan tepat saat Mamanya mendekatinya.
          “Anisa,,, Ya Tuhan”. Mendekap tubuh Anisa yang terjatuh dipelukan Mamanya.
          “Gi, Gigi… bantuin Mama. Anisa pinsan”. Berteriak minta tolong.
          “Ada apa Ma? Anisaa!….” Membantu mamanya menidurkan Anisa disofa.
          “Ambil minyak putih, Gi. Cepat!” Panik.
          “Iya Ma”. Berlari terburu-buru mencari pesanan Mamanya itu.
          Setelah Mama Anisa berhasil menyadarkan Anisa. Anisa disuruh untuk istirahat dikamar dibantu oleh Gigi.
          “Makasih ya, Gi?” Berbaring ditempat tidur.
          “Kamu itu kecapean. Pagi siang malem kerja terus. Waktu istirahat saja nyaris tidak ada. Ya sudah kamu istirahat dulu!” Menutup tubuh Anisa dengan selimut tebal.
          “Anisa… kok bisa sampai pinsan sich?” Christy berlari dan mendarat dikasur Anisa.
          “Aku gak papa kok, Chris”.
          “Kamu kesini sama siapa?”
          “Aku kesini sama Alan, tapi dia langsung pulang. Katanya sich ada urusan yang penting”.
          “Sepenting itu kah urusan itu? Hingga tidak kesini untuk sekedar melihat keadaanku”. Gumamnya dalam hati.
          “Ya sudah kamu istirahat dulu ya? Aku janji nanti kalau kamu udah sehat aku mau ajak kamu jalan-jalan. Tapi sekarang Aku harus kembali ke Rumah sakit, cepet sembuh Nisa”.
          “Makasih ya Chris”.
          Selang beberapa menit Alan datang.
          “Tante, gimana keadaan Anisa?”
          “Alan… kapan kamu kembali? Anisa baik-baik saja hanya butuh istirahat”
          “sekitar satu bulan yang lalu tante, Alan boleh menengoknya?”
          “Tentu, silakan!”
          “Terimakasih tante”. Melangkahkan kaki Menuju kamar Anisa.
          “Anisa? Kamu tidak apa-apa?”
          “Alan? Aku baik-baik saja kok”. Membuka matanya.
          “Aku khawatir mendengar kabar kamu dari Christy”.
          “Kamu tidak datang kesini sama Christy?”
          “Tidak Nis, aku ingin lebih leluasa bicara padamu”.
          “Memangnya kamu mau bicara apa?”
          “Aku mau minta maaf sama kamu Nis, soal Christy. Tapi sungguh aku tidak bisa meninggalkannya”.
          “Apa kamu mencintainya lebih dari kamu mencintaiku?”
          “Nisa? Separuh hatiku masih berada dimasa lalu dan separuhnya lagi berisi cinta untuk Christy. Christy kehilangan tunangannya, Nis. Dan dia sahabatku dia meninggal karena kecelakaan dan Hatinya? Hatinya berada dihatiku, Nis. Dia mendonorkan hatinya untukku. Dan aku berjanji padanya akan mencintai Christy seperti dia mencintai Christy”. Menatap Christy.
          “Jadi???” Mata Anisa mulai berkaca-kaca.
          “Iya Nis, aku tidak bisa memberitau Christy tentang hubungan kita, aku tidak mau dia terluka untuk yang ke dua kalinya”.
          Anisa memeluk erat Alan dan meneteskan air mata dipundak Alan. Hatinya begitu sakit bagai diiris-iris pisau yang sangat tajam. Beberapa hari kemudian Christy mengajak Anisa jalan-jalan tanpa Alan.
          “Kita mau kemana, Chris?”
          “Seperti janjiku kemarin kalau kamu sudah sehat aku mau mengajak kamu jalan-jalan”.
          “Kalau gitu kali ini biar aku yang nyetir ya?”
          “Eiiiitss jangan kan kamu baru aja sembuh, bahaya”.
          “Yeee tenang aja aku udah sehat kok”.
          “Bener ya?”
          “Udah tenang aja”.
          “Oke, yuk jalan”.
          “Siiiiaapph”.
          Ditengah jalan mobil mereka oleng karena menghindari laju motor yang ugal-ugalan. Tak disangka dari arah berlawanan ada sebuah Truk yang melaju kencang. Alhasil mobil mereka beradu dengan mobil Truk itu.
          “Awas Niiiisssss….” Teriak Christy dari dalam mobil.
          “Aaaaaaaa” anisa kaget dan tiba-tiba mereka tidak sadarkan diri.
          Mereka dibawa kerumah sakit terdekat oleh warga sekitar nampak darah merah memenuhi sekujur tubuh mereka.
          “Bagaimana keadaan Christy dan Anisa Tante?” Tanyanya kepada Mama Anisa yang sudah dulu sampai dirumah sakit”.
          “Tante belum tau Al”. Sedih.
          “Ya Tuhan, selamatkan mereka”.
          “Mama, bagaimana keadaan Anisa Ma?”
          “Mama tidak tau Yah”.
          “Kita doakan saja Anisa sama Christy Yah. Mama sabar ya? Alan, kamu sudah telfon orang tua Christy?”
          “Sudah, mereka sedang menuju kesini”.
          “Bagaimana Christy Alan?” Tanya Papa Christy yang baru saja sampai.
          “Alan belum tau Om”.
          Dokter yang memeriksa sudah keluar dari ruang dimana Christy dan Anisa dirawat.
          “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya ayah Anisa.
          “Dokter Dady. Anak anda baik-baik saja”.
          “Syukurlah”. Serempak.
          “Tapi Pasien yang bernama Christy kakinya mengalami patah tulang. Sehingga dia dinyatakan lumpuh”.
          “Apa, Dok? Lumpuh???” Tanya Alan kaget.
          “Anakku lumpuh? Tapi bisa sembuh kan, Dok?”
          “Kemungkinan sembuh sangat tipis pak,ya sudah saya permisi dulu”.
          “SAbar ya”. Ayah Anisa menguatkan Papa Christy.
          Mereka menengok Anisa dan Christy yang masih tertidur. Sementara Papa Christy menyelesaikan administrasi.
          “Alan, Om sama tante pulang dulu ya? Kami titip Anisa”
          “Baik Om, tante”.
          “Aku juga pulang, jaga Anisa ya Al?” meninggalkan ruangan.
          “Iya Gi”. Mengangguk.
          “Anisa? Kamu sudah sadar?”
          “Aku dimana Al?” memegangi kepalanya yang terasa pusing.
          “Kalian kecelakaan”.
          “Christy… Christy mana Al?” mencoba membangunkan tubuhnya yang masih lemah.
          “Ssssst, jangan banyak gerak dulu”. Memegangi Anisa dan menidurkannya kembali.
          “Aku ingin melihat Christy, Al”.
          “Baiklah, aku bantu Nis”. Membantu Anisa berdiri dan berjalan mendekati Christy yang berada disampingnya dengan dibatasi korden warna biru.
          “Christy gak apa-apa kan Al?”
          “Alan hanya diam tanpa kata”.
          “Jawab Al?”
          “Christy lumpuh Nis”.
          “Apa?????” meneteskan cairan putih bening memeluk Christy yang masih terpejam.
          Beberapa jam kemudian Christy sadarkan diri. Papa Christy, Anisa dan Alan telah siap sedia berada disamping Christy.
          “Papa, Anisa, Alan? Ada apa ini? Aku dimana?” Wajahnya Nampak bingung.
          “Kamu dirumah sakit, nak”.
          “Christy kenapa pa?”
          “Kamu kecelakaan”. Tak kuasa menahan airmata.
          “Papa kenapa menangis? Anisa??? Kamu baik-baik saja kan?”
          “Aku baik-baik saja, Chris”.
          “Kakiku… kenapa kakiku Pa?” Mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa bergerak.
          “Sabar Chris”. Anisa memeluk Christy yang terus berusaha menggerakkan kakinya.
          “Kaki kamu lumpuh, Nak”. Terus menangis.
          “Kakiiikuuu…. Kakiikuu lumpuh, Kakikuu tidak berguna lagi. Kaak kaakkiikuuuuu”. Berteriak sembari menangis.
          “Christy… Christy.. dengarin aku! Christy…” memeluk erat Christy.
          “Kakiiikiiii tidak bergunaaa, aku lumpuuhhh”. Memukul-mukul kakinya yang tidak bisa merasakan apa-apa.
          “Chris…. Dengerin aku Chris”.
          “Aku lumpuuhhh”. Terus meneteskan air mata kesedihan.
          “Christy… denger! Kamu masih punya kaki Chris”. Memeluk Christy lebih erat.
          “Tapi kakiku sudah tidak berguna, Nis”.
          “Kamu masih punya kaki, aku siap menjadi kakimu, Chris”. Saut Alan yang duduk didekat Christy.
          “Aku juga Chris, kami janji akan menemanimu kemanapun kamu mau”.
          Keesokkan harinya Christy dan Anisa sudah boleh meninggalkan Rumah Sakit. Alan terus menemani mereka. Untuk menghilangkan rasa sedih Christy, Anisa berniat mengajaknya berlibur Ke Villa milik Ayahnya. Mereka berangkat tepat saat mereka menginjakkan kaki keluar Rumah Sakit.
          “Bagaimana tempatnya Chris? Kamu suka?” tanya Anisa yang baru saja sampai di tempat tujuan.
          “Bagus”. Jawabnya singkat.
          “Alan kamu temani Christy jalan-jalan ya? Aku mau menyiapkan kamar untuk kalian!”
          “Iya Nis”.
          Lalu Alan mengajak Christy melihat pemandangan yang ada disekitar Villa. Christy yang awalnya bersedih sedikit mau tersenyum. Larut dalam candaan mereka akhirnya Christy melupakan sejenak tentang kakinya yang kini berwujud namun tak bisa dirasakannya.
          “Aku berjanji akan selalu ada untukmu”.
          Christy terdiam dari tawa kecilnya menatap mata Alan yang nampaknya sangat tulus mengatakan itu padanya.
          “Walaupun kini aku cacat?” Matanya yang indah mulai tertutup embun yang lahir dari matanya.
          “Itu tidak akan menyurutkan cintaku padamu Chris”.
          Christy yang terharu, tanpa kata-kata lagi langsung memeluk Alan yang duduk didepannya sembari merubah embun menjadi air mata yang mengalir deras dipipinya bak hujan yang turun dari langit.
          “Sepertinya cinta Alan memang buat Christy, aku hanya sebagian dari masa lalunya”. Guman Anisa yang memperhatikan mereka berdua dari balik pintu Villanya.
          Setiap hari Alan selalu melatih Christy berjalan, kadang Christy putus asa dan tak jarang mengeluarkan air matanya, namun semangat yang diberikan Alan membuat dia terus berlatih agar kakinya dapat pulih kembali. Kali ini Anisa mengerti keadaan dan dia selalu mencoba menahan rasa cemburunya walau hatinya tak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri.
          Sudah Seminggu lebih jatuh bangun Christy berlatih, tidak ada hasil untuk latihannya kali ini, wajahnya Nampak pucat kelihatan kalau dia sedang lelah dengan semua ini.
          “Alan? Mungkin kakiku memang harus seperti ini seumur hidupku”.
          “Ssstttt, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Takdir kali ini bisa kita ubah dengan semangat yang berkibar dari diri kamu sendiri, jangan pernah patah semangat, sayang”. Memeluk Christy membuat Christy merasakan nyaman saat dia mulai lelah.
          “Aku haus Alan”. Melepaskan pelukan Alan.
          “Ya sudah aku buatkan minum ya?”
          Alan masuk kedalam untuk membuatkan minum buat Christy, didapatinya Anisa yang namapak sedih memperhatikan dirinya dengan Christy tadi. Anisa yang melihat Alan melagkah mendekatinya langsung terburu-buru masuk kedalam rumah.
          “Anisa tunggu! Menarik tangan kanan Anisa, dan langsung mendekapnya erat”.
          “Aku mengerti apa yang kamu lakukan, aku paham apa yang terjadi saat ini”. Memeluk erat Alan yang nampaknya tidak mau melepaskanya.
          “Nisa, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untukkmu”.
          “Apa kamu sudah lupa dengan janji kita dulu?”
          “Aku tidak akan pernah lupa, Nis. Tapi janjiku pada Christy juga tidak mungkin aku ingkari”.
          Merasa Alan terlalu lama mengambil minum, akhirnya Christy menyusulnya walau dia sangat kualahan menggerakkan roda besar yang berada dikanan kiri tangannya itu. Dengan susah payah Christy berhasil sampai didalam Villa. Christy melihat mereka berdua dan mendengar sedikit pembicaraannya.
          Hatinya mulai kaku, Air matanya tak bisa dibendung lagi. Anisa yang melihat Christy langsung melepaskan pelukkannya, Alan yang tadinya tak melihat langsung membalikkan tubunnya kearah dimana Christy terduduk sedih diatas kursi rodanya. Tanpa berfikir panjang Christy langsung memutar balik kursi rodanya dan meninggalkan Villa. Christy berhenti ditaman yang biasa dia kunjungi saat dia akan berlatih berjalan bersama Alan.
          Anisa melihat Christy yang menangis dan penuh semangat bercampur emosi menggerakkan kakinya hingga terjatuh namun dia mampu bangun kembali dan terus berlatih dihiasi air mata kekecewaannya. Christy menangis tersedu-sedu saat dia terjatuh dirumput hijau Karena tak mampu berdiri dan menggerakkan kakinya. Christy berfikir Alan akan meninggalkannya kalau dia masih cacat seperti itu.
          “AYOOO… ayooo kakiiii jaaaalannnnn”. Tangannya Nampak berpegang erat dikursi rodanya airmatanya terus mengalir.
          Anisa berniat untuk menyusul Christy namun Alan menghalanginya.
          “Dia sedang emosi, biarkan dia luapkan dengan sesuka hatinya”.
          “Tapi Al? aku tidak tega melihatnya terjatuh”.
          “Dia wanita yang kuat aku yakin dia pasti bisa”.
          Anisa dan Alan terus memperhatikan Christy yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun.

          SKIP………………………………………………….
         
          Nampak Christy yang duduk terdiam sendiri dibukit melihat pemandangan dibawahnya yang sangat indah namun menyeramkan apabila tergelincir kebawahnya. Emosinya tak kunjung reda dia mencoba menggerakkan kursi rodanya meluncur dari bukit ke jurang yang sangat terjal itu.
          “Chriss, apa yang mau kamu lakukan?”
          “Jangan halangi aku”.
          “Jangan Chris!”
          “Kamu sengaja kan, Nis merencanakan kecelakaan itu hingga membuat aku cacat seperti ini agar kamu bisa mengambil Alan dariku?”
          “Aaaakuuuu akuu tidak sepicik itu Chris”.
          “Alaaaahhh, jangan sok baik didepanku kalau dibelakangku saja hatimu sangat busuk”.
          “Kamuuu, kamuuu salah Chris, apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan sekarang”.
          Tiba-tiba kursi roda Christy tergelincir dan jatuh kebawah, untung Christy masih tersangkut ditangan Anisa yang memeganginya dengan erat.
          “Christy… pegang tanganku, pegang yang erat”.
          “Aku takut, Nis”. Sesekali menoleh kebawah melihat kursi rodanya yang tergelincir hingga remuk.
          “Ayoo naik Chris… Ayoo, kamu pasti bisa!”
          “Kakiku tidak bisa bergerak, Nis. Aku gak kuat”.
          “Kamu pasti bisa Chris, kamu pasti bisa”.
          “Tidak, Nis. Lepasin aku Nis, aku gak kuat, tanganku sakit… lepas Nisa, lepasin”.
          “Enggak Chris, aku gak akan pernah lepasin kamu”.
          “Bukannya kamu ingin aku mati, Nis? Lepasiin aku”.
          “Kamu salah Chris, kamu salah. Ayoo naik kamu pasti bisa”.
           Dengan penuh tenaga  Christy menggerakkan kakinya dan hasilnyaa???? Kakinya bisa bergerak dan akhirnya Christy mampu menopang tubuhnya dengan kakinya hingga sampai diatas. Christy berdiri dan langsung memeluk Anisa.
          “Kamuuu….. lihat Chris, kamu bisa berdiri?”
          “Haaaa,, kakiku.. aku sembuh, Nis aku sembuh”. Memandangi kakinya yang berdiri tegak dan kembali memeluk Anisa yang tadi sempat ia lepas sejenak.
          “Nis, kenapa kamu menolong aku? Bukannya kalau aku mati kamu bisa memiliki Alan?” melepas pelukkannya.
          “Sejahat itukah aku dimata kamu, Chris? Mana mungkin aku membiarkan sahabatku celaka didepan mataku? Aku lebih memilih untuk tidak bisa memiliki Alan dari pada kehilangan sahabat sepertimu”.
          “Maafin aku, aku sudah berprasangka buruk padamu, Nis”. Kembali memeluk Anisa.
          “Chris, kamu sekarang sudah mampu berjalankan? Dan seperti harapanmu selama ini, kamu berjalan untuk tetap bersama Alan. Aku tidak akan menghalangi itu”.
          “Tidaak, Nis. Sebenarnya akulah yang berada diantara kalian, kamu yang pantas buat Alan bukan aku, aku mohon Nis kembali sama Alan”.
          “Aku gak bisa Chris, aku selama ini memang merasakan sakit melihat kalian berdua, tapi aku tidak mau melukaimu, Chris. Aku berharap kalian bisa sama-sama lagi”.
          “Enggak Nis, Enggak, kamu mampu memendam rasa sakitmu demi aku, kenapa aku tidak?! kalau salah satu diantara kita ada yang terluka karena tidak mampu mendapatkan cintanya. Maka satunya lagi akan merasakan hal yang sama. Kita sama-sama mencintai Alan kalaupun harus meninggalkannya, kita juga harus sama-sama, Nis?”
          Anisa memeluk erat Christy, mereka tenggelam dalam haru hingga mengeluarkan air mata cantik dari mata indah mereka.
          “Kalian disini? Aku khawatir. Christy??? Kamu bisa berdiri?” Heran sekaligus bahagia melihat Christy.
          “Iya Al, aku bisa berdiri, ini semua berkat Anisa”. Melompat lompat kegirangan.
          Anisa dan Christy lalu bertatap tatapan dan tiba-tiba memeluk Alan secara bersamaan.
          “Kamu bisa memilih diantara kita, hMmmm?” Tanya Christy tersenyum.
          “Aku atau Christy?” Saut Anisa.
          Alan bingung dengan sikap mereka berdua yang tidak lagi bertengkar malah senyum-senyum tanpa ada rasa sedih sedikitpun.
          “Kaliaannn? Kalian serius mengatakan ini?” Tanya Alan yang masih kebingungan.
          “Yeeee GeEr, kita itu Cuma mau jadi sahabat kamu”. Jawab Christy sembari mencubit perut Alan.
          “AauUuuu,,,”. Alan berteriak.
          “Yaa, Al. aku juga maunya jadi sahabat kamu”. Mencubit Alan dan berlari bergandengan bersama Christy.
          “Aauauuu…. Kaliaaannnn!” mengejar Anisa dan Christy sembari bercanda jikalau berhasil menangkap mereka.
          Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menjadi sahabat dan janji Alan kepada mereka untuk selalu ada buat merekapun dapat ia tepati tanpa melukai satu hati diantara mereka. Senyum canda tawa menghiasi persahabatan Alan, Anisa dan Christy.



The End……

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"