My Friend My Sister
Pagi hari di Rumah Felly Nampak suasana
sangat ramai hanya dengan suara teriakkan mamanya saja. Kenapa demikian? Ya
jelas gara-gara Felly yang amat sangat susah dibangunkan ketika dia sudah
tertidur lelap. Beginilah sarapan pagi mamanya yang wajib dan tidak bisa
ditinggalkan, kecuali buru-buru dan takut terlambat bekerja.
“Felly….” Panggil Mama Felly
dari ruang depan berjalan menuju kamar Felly berteriak bagaikan sedang mengadu
suara dengan Mpok Nori yang amat sangat nyaring.
“Iya Ma,” Jawabnya menutup
mukanya dengan bantal kesayangan Felly sesekali mengusap mukanya yang kusut
itu.
“Mama dan Papa punya kejutan
buat kamu.” Berharap Felly akan senang. Menarik Felly yang nampak malas bangun
dari tempat tidurnya.
“Ya ampun, berantakkan sekali
kamar kamu, semalam habis ngapain? Ayo bangun!” menarik bantal yang dipegang
erat Felly menutupi mukanya.
“Bangun Felly!!!” Kesal namun
berhasil mendapat bantal Felly.
“Hari ini kan Libur, Ma.
Ngapaen Felly harus bangun? Kampusnya tutup”. berbicara tanpa membuka matanya
dan wajah tanpa tertutup bantal yang semula menutupi wajah malasnya itu.
“Ikut
Mama! Cepet.” Menarik Felly hingga terjatuh dari kasur empuknya yang baru dia
beli karena mengikuti tren masa kini.
“Mama, sakit.” Memegang
pinggang yang nampaknya kesakitan.
“Makanya bangun. Apa perlu
Mama panggilkan Anjing punya tetangga sebelah?” Mengancam dengan tawa sumringah
menakuti Felly yang sampai detik ini tidak mau meninggalkan kamarnya yang
sangat mirip dengan kapal TITENIC alias berantakannya bukan main.
“Jangaaaaaaaaaaan!” Teriak
Felly langsung membuka matanya lebar walaupun sangat sipit.
Maklum masa kecil Felly umur sekitar 7tahun pernah
disruduk Anjing waktu jalan tepat didepan rumah tetangganya. Kebetulan waktu
itu Anjingnya sedang dilepas untuk dimandikan tapi malah lari mengejar Felly
hingga jatuh disruduk. Sampai sekarang segede ini akhirnya masih trauma dan gak
pernah mau tau soal binatang satu ini.
“Kejutan apa sich, Ma?” Berjalan menuruni
tangga berpakaian baju tidur berwarna biru dengan muka sangat lesu dan rambut
acak-acakan bagai tertiup angin puting beliung.
“Liat aja Fell, Pa tunjukkan kejutannya sama
Felly.” Sampai diruang tamu dan memegangi Felly tepat didepanya dengan senyum
berharap Felly menyukainya.
“Ini dia.” Papanya membuka pintu dan
tersenyum pada Felly.
Nampak gadis cantik, berambut pirang mirip
Felly berdiri didepan pintu. Bajunya sederhana membawa tas tempat
pakaian-pakaiannya. Tasnya tidak begitu besar, cukup untuk baju sekitar 3-5
pasang saja.
“Ha?????” Felly kaget.
“Siapa dia, Pa? Felly gak kenal. Gembel dari
mana Papa bawa kesini. Pembantu baru ya Pa?” Tanya Felly sombong.
“Hussst ngawur kamu ini.” Sahut Mama Felly.
“Dia ini yang akan menemanimu selama Papa dan
Mama bertugas di Paris. Papa dan Mama tidak Percaya kamu mampu menjaga rumah
ini dan menjaga diri kamu. Sekarang dia juga anak Mama dan Papa. Kakak kamu”.
Sambung Papa Felly menjelaskan.
“Apa? Kakak??? Gak akan Pa, gak mau aku punya
kakak gembel, Dia pasti dari panti yang dipungut Mama dan Papa kan”. Dengan
sombongnya mulut Felly memaki Gadis itu.
“Plaaaak.” Tamparan mendarat tepat dipipi
kiri Felly.
“Jaga omongan kamu! Sentak Papanya.
“Pa…” Mamanya bingung berusaha menyetop
pertengkaran antara anak dan papa itu.
“Lihat, Ma… baru satu menit si gembel ini
masuk dirumah kita, Papa sudah berani menampar Felly. Bagaimana kalau dia
disini selamanya? Bisa Mati Felly, Ma”. Lari menaikki anak tangga satu per satu
dan masuk kamar, menggebrakkan pintu kamar dengan keras.
“Om, Christy pulang saja ya om?. Felly tidak
bisa menerima Christy”. Dengan perasaan sedih dan takut.
“Panggil Papa nak, jangan Om, disini saya
sudah menjadi Papamu”. Jawab Papa Felly halus.
“Jangan pulang kamu harus tetap disini, besok
Mama dan Papa sudah berangkat, kami hanya bisa percaya sama Christy untuk
menjaga Felly, nak”. Sambung Mama Felly.
“Sekarang kamu Istirahat! Ma antar Felly ke
kamarnya!”
Mama Felly mengantar Christy ke kamar
barunya. Christy menata kamarnya dengan rapi. Christy anak baik, rajin, ramah
dan cantik. Karena kelelahan dari perjalanan jauh Christy istirahat sejenak.
SKIP……………………………..
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Mama dan
Papa Felly bersiap berangkat ke Bandara tanpa memikirkan Felly karena dia masih
tidur. Tau sediri kan kalau tidur gak bisa dibangunin. Terlihat Christy yang
asik dengan sapu lantai menyapu dengan lihai.
“Rajin sekali kamu, nak.” Memuji dan mengelus
rambut indah Christy.
“Cuma nyapu kok,pa.” Jawabnya penuh senyum
bahagia.
“Mama dan Papa mau berangkat hari ini, Kami
titip Felly ya? Sebenarnya dia anak yang baik, karena dia belum tau arti sayang
jadi dia begitu. Buat dia bisa menghargai orang lain.” Menyampaikan pesan
kepercayaan pada Christy, memegang pundak Christy dan menatapnya.
“Iya, Pa. Christy akan menjaga Felly seperti
Adik kandung Christy sendiri.” Jawab Christy halus.
“Bantu Mama menyiapkan sarapan Pagi ini. Mama
ingin Masak buat kita. Katanya sebagai ucapan selamat datang dan perpisahan.”
Mengambil koper mini untuk dimasukkan kebagasi mobilnya.
“Biar Christy aja, Pa yang bawa.” Memegangi
koper yang dibawa Papa.
“Sudah. Bantu Mama sana!” Menolak dengan
senyum.
“Iya, Pa.” Berjalan meninggalkan Papa yang sedang
sibuk memasukkan barang-barang yang akan di bawa bertugas ke Paris.
Didapur terlihat Mama yang dibantu bibi
menyiapkan sarapan pagi ini, Christy menghampiri dan langsung membantu tanpa
rasa ragu.
“Felly belum bangun, Chris?” Tanya Mama tanpa
melirik Christy karena telah asik
memotong paprika hijau.
“Belum, Ma. Apa perlu Christy bangunkan?”
Mengambil pisau dan membantu bibi memotong daging.
“Tidak perlu, nanti dia bangun sendiri, Tanya
saja bibi bagaimana kalau Felly sudah tidur. Gak ada yang bisa bangunin
termasuk, Mama. Paling yang ada dia akan tambah ngambek karena tidurnya
terganggu. Iya kan bik?” Jelas Mama yang sibuk mempersiapkan bumbu masakan pagi
ini.
“Iya nyonya.” Jawab bibi malu-malu.
Setelah beberapa Menit Masakan yang
dibuat mereka sudah siap disajikan, Papa
sudah menunggu diruang makan dan tidak sabar menyantap makanan hasil masakan
istrinya dan anak barunya itu. Makanan pun sudah tertata rapi dimeja makan dan
nyammmmiii, sudah siap untuk disantap.
“Felly mana, Ma?” Tanya Papa menyambut piring
yang disodorkan Mama.
“Belum bangun, biar saja lah, Pa.”
mengambilkan nasi dan menaruhnya diatas piring Papa.
“Ambilkan itu, Chris.” Menunjuk lauk yang ada
didepan Christy.
“Christy bangunkan Felly ya, Pa, Ma?” sambil
memberikan piring yang ditunjuk papanya mendekat kearah tangan Papa.
“Kasihan Felly kalau dia bangun tau-tau Papa
dan Mama sudah pergi.”
“Sudah makan saja, Chris. Mengambilkan nasi
untuk Christy.
SKIP…………………………………..
Selesai makan Felly tak kunjung keluar kamar,
Papa dan Mama pamitan sama Christy. Mereka langsung berangkat menuju Bandara
tepat jam 08.00 WIB. Mama dan Papanya kini sudah meninggalkan halaman depan
melewati gerbang yang lebar dan tinggi dirumah mereka.
“Hati-hati Ma, Pa.” Teriak Christy
melambaikan tangan dari depan gerbang.
“Da….” Terlihat dari spion mobil Mama Christy
membalas lambaian tangan Christy.
Christy masuk rumah dan kembali mengambil
sapu untuk membersihkan halaman depan yang masih terlihat agak kotor, mungkin
bibi belum sempat membersihkannya karena terlalu sibuk menyiapkan barang-barang
Papa dan Mama. Dari dalam Rumah bibi keluar bermaksud untuk menyapu halaman.
“Sudah Non biar bibi saja yang bersihkan.”
Tawar pembantunya.
“Gak papa bik, saya bantu bibi. Lagian rumah
segede ini kalau dibersihkan sendiri gak akan selsai-selesai bik.” Mengayunkan
sapunya membersihkan daun-daun yang kering dihalaman depan rumah Felly.
“Kalau begitu bibi ke Dapur dulu ya non.”
Sopan.
“Iya bik. Ohya bik, Felly sudah bangun?”
menoleh ke bibik.
“Belum, Non. Non Felly masih tidur. Misi
Non.” Membelakangi dengan muka menoleh ke Christy dan menuju ke Dapur untuk
membereskan dapur.
“Hmmmmm… Mungkin Felly masih Marah. Apa perlu
aku bangunkan Felly?” Ngoceh sendiri menghentikan gerak tangan yang memegang
sapu mirip punyanya Herry Potter.
Christy akhirnya menuju kamar Felly tepat di
depan kamar Felly, Christy mengethok pintu sampai beberapa kali, namun tidak
ada jawaban dari Felly. Christy langsung masuk. Dilihatnya Felly masih tertidur
pulas.
“kreeeeeekkk….” Christy membuka korden
jendela Felly dan cahaya matahari menyorot kemuka Felly.
“emmmm…” Hanya berbelok arah membelakangi
jendela.
“Fell, bangun.” Memegangi tubuh Felly yang
mendekap erat gulingnya nyaman.
“Kamu?!” Terbangun dan memandangi Christy
penuh benci.
“Ngapaen kamu masuk ke kamarku, gak kethok
pintu, rese’ banget sich!” mendorong Christy hingga jatuh.
“Fell, Mama dan Papa sudah berangkat, aku
cuma mau nyampein itu. Mereka gak pamit sama kamu karena kamu tidur pulas.
Meraka takut mengganggu kamu.” Sembari membangunkan tubuhnya yang jatuh
kelantai.
“Apa??? Mama dan Papa sudah pergi. Kenapa
mereka tidak pamit sama aku. Aaahhh!” kembali mendorong Christy dengan kuat
hingga terpental ke tembok.
“Aku benci sama kamu!” berlari keluar kamar
dengan tergesa-gesa.
Merasakan hari ini Christy hanya
menghembuskan nafas dan dengan sabar Christy merapikan kamar Felly.
SKIP…………………………………………………………………….
Keesokan harinya mereka bersiap-siap untuk ke
kampus, sikap Felly benar-benar keterlaluan. Christy tidak boleh ikut naik ke
mobil mewahnya karena dianggap Christy tidak pantas duduk di dalam mobilnya
itu.
“Kenapa sich kamu jahat sama aku,Fell? Aku
kan Cuma mau berteman denganmu.”
“Biarkan dia naik, Non. Papa Non Felly
menyuruh saya untuk mengantarkan Non Christy ke kampus bareng sama Non Felly.”
Ujar sopir pribadi ayah Felly.
“Kalau begitu aku mau bawa mobil sendiri.”
Membuka pintu mobil dan satu kaki sudah diluar mobil mewahnya.
“Jangan Non. Papa Non melarang! Saya
takut.”
“Ya sudah, Fell. Aku naik busway aja. Pak
Ujang terima kasih ya.”
“Iya Non, Tapi Non, saya takut Tuan marah.”
“Cepat jalaaaaan!” Teriak Felly kembali
menutup pintu mobil yang terbuka..
“Iya iya Non, duluan ya Non Christy.”
“Iya…” Jawab Christy sembari berjalan kaki meninggalkan
rumah menuju terminal busway.
SKIP………………………………………………………………………….
Di Kampus Felly dan Chrity kuliah. Felly,
Anisa, dan Gigi sedang asyik ngobrol didepan kelas mereka, dari kejauhan
terlihat Christy yang bingung mencari kelasnya.
“Itu mahasiswi baru ya?” Tanya Anisa pada
Felly dan Gigi yang berdiri disampinya memperhatikan gerak gerik Christy dari jauh.
“Itu kan Christy, ngapaen dia.” Gumam Felly
dalam hati yang takut kalau Christy menghampirinya.
“Kayaknya sich iya, Nis. Kita samperin yuk!”
ingin melangkahkan kaki mendekati Christy yang sadang kebingungan.
Belum sempat melangkah, tangan Felly sudah
menghalangi langkah Gigi.
“Jangan! Gi. Buat apa?” memegangi tangan
Gigi.
“Loo, Aku kan mau bantu dia,Fell.” Memandang
Felly bingung sesekali melirik ke Anisa memberi isyarat dengan menggerakkan
kepalanya.
“Hmmmm....” Anisa hanya mengangkat kedua telapak
tangan sejajar dengan pundaknya.
“Pokoknya gak usah!” Kata Felly melarang, dan
melarikan diri masuk kekelasnya.
“Kok malah kabur sih. Kenapa dia, Nis. Coba
aku Tanya.” Masuk kelas.
Christy semakin dekat dan sekarang tepat
didepan kelas Felly.
“Permisi….” Menepuk pundak Anisa yang sedang
memperhatikan langkah Gigi.
“Eiiii iya.” Dengan kagetnya berbalik arah
dan tak sengaja menyenggol tumpukan buku yang dibawa Christy sampai berserakan
dilantai.
“Maaf maaf aku gak sengaja.” Jongkok dan
membereskan buku Christy.
“Gak papa.” Ikut jongkok dan memungut bukunya
satu persatu.
“Kamu cewek yang tadi nampak kebingungan itu
kan?” berdiri dan memberikan buku yang berhasil dirapikannya.
“Iya… aku lagi nyari kelasku, dan sekarang
ketemu, tu.” Menerima buku dari tangan Anisa dan menumpuknya diatas buku yang
sudah iya rapikan sendiri sembari menunjuk tulisan yang ada tepat diatas pintu
kelas.
“Jadi kita satu kelas donk! Anisa.”
Memperkenalkan diri.
“Sungguh? Christy.” Berjabat tangan.
“Christy…” menyentuhkan jari telunjuknya dan
mengetuk-ngetukannya tepat dimulutnya yang tak berbicara mungkin sedikit kenal
dengan nama itu.
“J……” Christy hanya tersenyum.
“Emmmm… ya sudah kita masuk aja yuk.”
Menggandeng Christy masuk kelas.
Felly asyik berbincang-bincang dengan Gigi
dan beberapa temannya yang lain meramaikan kelas. Felly hanya melirik Christy
tanpa berkata dan menyapanya. Christy memandang Felly dengan senyum. Dikelas
tak sedikitpun terjadi percakapan antara Christy dan Felly.
SKIP……………………………………………………………………………..
“Chris, sedang apa?” mendekati Christy yang
duduk sendiri ditaman depan kantin.
“Kamu,Nis. Ni lagi baca-baca buku.”
Memperlihatkan buku yang dibacanya.
“Gemar juga baca buku. Gak makan?”
mengangguk-anggukkan kepala.
“Sudah dirumah. Itung-itung iritkan.” Tersenyum.
“Christy!!! Iya kamu Christy kan?” sangat
keras dan mengagetkan Christy yang sedang asyik memperhatikan tulisan kecil
dibukunya.
“Aku kan emang Christy, kita kan sudah kenal
tadi.” Memegang kening Anisa.
“Eiiits….” Menyingkirkan tangan Christy.
“Maksud aku kamu Christy saudaranya Felly
kan?” sok tau.
“Kamu tau?” memandang Anisa heran.
“Papanya Felly cerita sama sahabat-sahabatnya
Felly kok. Om Edo kan percaya sama kita semua.”
“J……” Christy hanya membalas dengan senyum.
“Aku cariin ternyata disini.” Langsung
mendaratkan pantatnya dikursi mereka duduk tepat ditengan-tengah Christy dan
Anisa, menepuk paha mereka dengan keras.
“Auuuuuu...” teriak mereka serempak.
“Gigi kamu makanya apa sich? Kuat banget.”
Tanya Anisa sedikit meledek.
“Besi dan baja, hahahaha.” Becanda dengan
tawa yang khas.
“Kamu bukan Felly?” Tanya Gigi menunjuk wajah
Christy.
“Aku kira Felly, mirip juga ternyata.”
Menggaruk kepalanya yang berambut tak panjang.
“Dia Christy, yang diceritakan sama Om Edo.
“Hmmm…..” Mendekatkan wajahnya kewajah
Christy.
“Christy!” Memandang lebih dekat dan mencolek
dagu Christy.
“Kamu Gigi.” Sontak ingat karena hanya gigi
yang selalu bertingkah seperti itu.
“Kalian sudah saling kenal?” Tanya Anisa yang
keheranan dengan tingkah mereka berdua.
“Ini Christy sahabat dipantiku dulu,Nis. Kita
sudah berpisah 5 tahun lamanya.”
“Bagaimana Ayah dan Bunda kamu? Mereka sudah
kamu temukan?” Memandang dan memegang tangan Christy.
“Mereka ditemukan dalam keadaan tidak
bernyawa, Gi.” Jawabnya sedih menundukkan kepalanya.
“Christy, kamu masih punya kita, aku dan
Anisa.” Memegang pipi Christy menegakkan kepalanya yang menunduk.
“Iya Chris, kita siap kok jadi sahabatmu,
jangan sungkan-sungkan untuk menceritakan masalah kamu pada kami.” Memegangi
tangan Christy.
“Hm. Hm.” Mengangguk kepala dan kembali
melihat Christy yang tadi sempat memperhatikan pembicaraan Anisa.
“Makasih teman-teman.” Memeluk Gigi dan
Anisa.
SKIP……………………………………………………………………………..
Asyik mengobrol disepanjang jalan menuju
kelas Anisa, Christy dan Gigi menabrak Felly yang sama-sama tidak memperhatikan
jalan.
“Braaaakkkkkk…………….” Mereka terdiam sejenak
seperti waktu telah diberhentikan.
“Jadi dari tadi aku cariin ternyata begini,
sahabat macam apa kalian?.” Dengan nada keras sangat marah.
“Fell, Jaga omongan kamu.” Saut Gigi.
“Kamu yang harus jaga kelakuan kamu.”
Mendorong Gigi.
Gigi terlempar didepan Anisa dan Christy, mereka memegangi Gigi dengan
kedua tangan mereka.
“Fell, Jangan kasar! Aku tau ini masalah
kita. Jangan bawa-bawa mereka.” Melepas tangannya yang tadi memegangi Gigi.
“Kamu kenapa sich Fell? Kita ini ingin
menemuimu. Kita kesini untuk menjemput kamu. Tapi kamu….”
“aachhhhhhh………….” Memotong pembicaraan Anisa
dan meninggalkan mereka.
“Kenapa Felly. Memangnya kita
salah apa?.” Tanya gigi kepada Anisa dan Christy.
“Kalian gak salah, yang salah
itu aku. Felly gak pernah mau nerima aku. Dia benci sama aku, Gi. Maafin aku.”
“Kamu gak salah Chris.”
Sambung Anisa.
SKIP…………………………………………………………………………………
Felly tak bisa menerima
kehadiran Christy yang dianggapnya akan merusak kasih sayang kedua orang tuanya
padanya. Tak jarang di Kampus Felly sering membuat ulah yang berdampak Christy
di hukum oleh dosen. Tak pernah ada capeknya Felly membuat Christy setiap hari
merasakan panasnya terik matahari siang ditengah lapangan.
“Apa yang kamu lakukan, Fell?”
Tanya Gigi yang melihat tingkah Felly.
“Sssstttt, diem jangan
keras-keras.” Mengolesi lem dikursi dosen.
“GILA kamu Fell, kalau di D.O
gimana?”
“Tenang…” Lirih.
“Ehh, ngapain kamu masukkan sisa
lem itu ke tas Christy? Jangan bilang kamu mau ngerjain Christy lagi.”
“Ayo keluar!” Berlari keluar
menarik Gigi yang masih ngoceh kayak burung beo.
“Selamat Siang!” Sapa Dosen
ber rok mini sexi yang tangannya penuh buku-buku tebal.
“Sssstt ssttt…. Gimana kalau
tu dosen roknya sobek.” Bisik Gigi.
“Itu yang aku mau, Gi.”
“Bener-bener gila kamu, Fell.
Aku gak tega, kasian Christy.”
“Kamu temenku bukan sich!”
“Ehm Ehm… Felly, Gigi.
Keluar!” Dosen marah mendengar mereka ngobrol sendiri.
“Aduuhhh, belum sempat lihat
tu orang duduk kita udah diusir, Gi.” Memegangi Keningnya.
“Ayuk yuk!” Mengajak Felly
meninggalkan kelas.
“Mereka berdua emang aneh.”
Anisa menggeleng-gelengkan kepala memegang bolpoin cantiknya.
Tak lama dari itu dosen itu
pun duduk. Saat ingin bangun tiba tiba.
“weeeekkkkk,,,,” sobeklah rok
mini milik bu dosen.
“Waaaoouuuuu….” Teriak semua
mahasiswa yang ada dikelasnya itu dan serempak menertawakan.
“Hahahahha………” Felly dan Gigi
tertawa ngakak mengintip dari jendela.
“Diaaaaaaaaaaaaaam!” teriak
dosen dan serempak semoanya diam.
“Fellyiiiiiii……….. Gigi………………
kesiniiii! Kalian kan yang melakukan ini?”
“Bukan Lah, Bu.” Jawab mereka
kompak memasuki kelas.
“Periksa aja tas kami kalau
ibu tidak percaya pada kami.” Mengatakan dengan sombong.
Dosen menyuruh Tristan untuk
memeriksa semua tas, mungkin Ibu Dosen malu karena roknya sobek. Hehehehe,,,
Felly hanya cengingisan saja sementara Gigi tak tega melihat Christy yang akan
kena hukuman karena ulah Felly.
Ditemukanlah sisa lem ditas Christy
daaaaaaaaaaaaaaaaan…???
“Christy?” Gumam Tristan dalam
hati yang menemukan lem ditas Christy.
“Liat bu, Lemnya ada ditas
Christy. Bukan aku kan yang melakukannya.” Saut Felly.
“Aaaaku…” Christy kaget.
“Aku yakin bukan kamu, Chris.”
Sambung Tristan.
“Tapi udah jelaskan buktinya
ada di tas Christy.” Nyolot.
“Christy kan dari tadi sama
aku, Fell.” Anisa meyakinkan.
“Sudah-sudah. Christy kamu
ikut keruangan ibu!”
“Hahahaha…” Felly tertawa puas
disamping Gigi yang nampaknya ingin memberi tau yang sebenarnya.
SKIP………………………………………………………………………………..
“Fell, Kamu sudah keterlaluan.
Mungkin ini peringatan terakhir buat Christy. Kamu sudah terlalu sering
menjebak Christy. Monyonteklah, Mencuri soal ulanganlah sekarang kamu buat ulah
dengan mengerjai Dosen. Apa kamu gak kasian sama Christy? Dia kan saudara kamu,
Fell.” Menyadarkan Felly yang sudah keterlaluan.
“Bukan. Dia hanya dipungut
dari panti untuk menjaga rumahku selama Papa dan Mama pergi. Nanti kalau mereka
pulang, Christy juga bakalan pulang ke panti.” Celoteh Felly yang asyik ngemil
snack kesukaannya.
“Apa sih salahnya anak Panti?
Toh dia baik, selalu menutupi kesalahanmu, membela kamu, gak pernah marah dan
sayang sama kamu, kamu ingat kan saat
kamu gak buat tugas dari Pak Joko? Siapa yang melindungimu, saat kamu telat
masuk gara-gara nongkrong dikantin, siapa yang menyalahkan diri demi membela
kamu? Udah banyak Christy berkorban untuk kamu. Aku gak mau temenan sama kamu
lagi kalau kamu masih kayak gini Fell.”
Meninggalkan Felly.
“Ok. Fine!” Teriak Felly
membuang sisa snack yang sedang dimakanya.
“Ok!” Dengan geram menoleh ke
Felly.
SKIP………………………………………………………………………………….
“Fell.” Memegang pundak Felly
dari belakang.
“Kamu menangis?” Tanya Tristan
yang melihat air mata Felly.
“Kamu tau kan ulah Christy?”
“Kamu menangis karena dia? Tapi
aku yakin itu bukan ulah Christy, gak mungkin dia melakukan itu, Selain dia
baik dia juga cantik.” Membayangan wajah Christy tersenyum.
Felly langsung lari dan
meninggalkan Tristan. Dia berfikir kalau semua orang akan berbalik menyayangi
Christy dan meninggalkan Felly.
“Kok pergi.” Kebingungan.
Christy datang dengan wajah
penuh keringat berhenti tepat didepan Tristan.
“Baru dihukum?” Berdiri dari
duduknya.
“Kamu lihat Felly?” Ngos-ngosan
tanpa menghiraukan pertanyaan Tristan.
“Felly…., tadi kesana.”
Menunjuk kearah Felly Lari tadi.
“Makasih.” Melanjutkan
pencarian.
“Chris, tunggu.” Mengejar
Christy.
“Kalian ini saudara?” Tanya
Tristan yang mengikuti langkah Christy.
“Menurut kamu?” menoleh
memandang Tristan yang senyam-senyum sendiri.
“Kayaknya sich iya. Dari muka
kelihatan, tapi masih cantikan kamu kok.” Merayu.
“Gombal.” Menggibaskan
tangannya didepan muka Tristan.
“Aku yakin tadi yang melakukan
itu bukan kamu.”
“TERUS siapa? Jelas itu bukti
ada ditas aku.”
“Tapi aku sangat yakin itu
bukan kamu.”
“Aku kan sudah sering dihukum,
kenapa masih gak percaya kalau aku yang melakukannya.”
“Chris,” Memegang pundak
Christy menghentikan langkahnya.
“Aku tau siapa kamu, dan aku yakin
setiap kamu dihukum itu hanya ingin menutupi kesalahan Felly kan? Aku juga tau
kamu sangat menyayanginya. Tapi tidak begini caranya, Chris.”
“Aku bisa melakukan dengan caraku sendiri,
Tris.” Melepaskan tangan Tristan yang besandar dipundaknya.
SKIP…………………………………………………………………………………………………
“Chris, yang melakukan
kejailan kemarin itu Felly.” Gigi mengadu.
“Benerkan Chris yang aku
duga.”
“Semuanya sudah terjadi kan?
Aku sudah memaafkan siapapun yang memfitnahku, dan kejadian kemarin juga udah
aku lupain.” Membolak-balik buku yang dibacanya sepanjang jalan.
“Aku heran sama kamu Chris,
gak pernah sedikitpun kamu marah sama Felly padahal kan Felly sudah begitu
jahat sama kamu.” Celoteh Gigi yang tampak kualahan mensejajarkan jalannya
dengan Christy dan Anisa.
“Love Is U. itu yang selalu
aku ingat ketika amarah mulai muncul sebelum akhirnya melewati ubun-ubun dah
meluap.” Jawabnya dengan senyum sante mengalihkan pandangan kearah Gigi.
“Cinta itu persaudaraan, Gi. Yang
gak boleh dihadapi dengan amarah.” Sambung Anisa.
Semua Nampak kagum dengan
kebaikkan hati Christy. Memang apa yang ditakutkan Felly benar terjadi. Semua
menyayangi Christy dan menjauh dari Felly. Siapa yang tidak akan menjauh kalau
kelakuanya melukai Christy tak kunjung reda? Semua orang juga akan melakukan
hal yang sama dengan apa yang dilakukan Anisa, Gigi dan Tristan.
SKIP…………………………………………………………..……….
“Chris, aku memang baru
mengenalmu, tapi hatiku sudah berkata kalau aku mencintaimu”. Mengungkapkan
rasa yang dirasakan hatinya dengan begitu lantang tanpa rasa canggung.
“Aku tidak pantas buat kamu, Tris”.
Menundukkan kepala merendah.
“Sssssttt, kamu pantas buat
aku Chris”. Menutup dua pasang bibir indah Christy dengan telunjuknya.
“Aku hanya anak Panti yang
dipungut oleh orang yang berbaik hati. Orang yang berhati malaikat”. Matanya
berkaca-kaca seakan tidak mau mengatakan “TIDAK” dihadapan Tristan.
“Aku akan membuat kamu
bahagia, aku tidak peduli dengan status kamu yang mantan anak Panti. Bagiku
kamu itu ISTIMEWA”. Menegakkan kepala Christy yang selalu menunduk dihadapan
Tristan.
“Aku juga mencintaimu”.
Menatap Tristan dan meneteskan airmata yang sempat ia tahan sejenak.
Anisa dan Gigi yang melihat
mereka dari jauh langsung mendekati mereka ketika mereka sejak asik memeluk
satu sama lain. Kedatangan mereka mengagetkan Christy dan Tristan.
“WOwww. Kayaknya ada yang lagi
LUPE-LUPE nich!” Ledek Gigi yang membawa es cream ditangan kiri dan sendok
ditangan kanan.
“Kita bakalan kenyang nich Gi,
makan geratis selama seminggu”. Memegangi perut yang sedikit tak berisi karena
belum sarapan pagi.
“Kok seminggu sih Nis? Lama
amat”. Celoteh Gigi yang sedang asik mengaduk-aduk es creamnya itu.
“Tenang ajha, jangankan
seminggu, sebulan, setahun pun aku traktir. Ini kan momen special yang harus
dirayakan spesial juga”. Jawab Tristan dengan lantang karena kegirangan sembari
tangan kananya memeluk Christy.
Asik mengobrol Felly tiba-tiba
datang dan menghentikan tawa canda mereka. Christy yang melihat Felly langsung
melepaskan pelukkan Tristan. Dia takut kebahagiaannya itu kali ini akan
menyakiti Felly. Salah salah dan salah serba salah dihadapan Felly, itu lah
yang selalu Christy ingat.
“Bahagia ya kalian, Dasar
cewek gak tau trimakasih. Kamu tu udah dipungut papaku. Nasib baik aku masih
membiarkan kamu tinggal dirumahku? Dan sekarang apa yang kamu lakukan? Kamu
merebut semua milikku”. Dengan nada kesal memaki Christy yang dianggapnya
merebut Tristan dan orang-orang yang dia sayang.
“Fell, aku bisa jelasin
semuanya”. Berusaha menghentikan amarah Felly yang jelas-jelas sudah memuncak.
“Jangan Chris!”. Menghentikan
langkah Christy yang ingin mengejar Felly.
“Lapas!” Menghempaskan tangan
hangat Tristan dan berlari mengkuti jejak kaki mungil Felly namun kehilangan.
SKIP………………………………………..
Malam ini suasana dirumah Felly berubah
menjadi sunyi senyap haru ditemani angin yang menghempas dedaunan ditaman rumah
Felly. Felly yang terlihat sangat sedih duduk sendiri diayunan persis seperti
milik sekolah Taman Kanak-kanak. Sembari mengeluarkan cairan bening dari mata
indahnya.
“Fell, aku ingin bicara
padamu”. Mengahampiri Felly namun masih berdiri sedikit menjauh dari ayunan
yang ditunggangi Felly.
Felly tak berkata apapun, dia
hanya terdiam dengan muka yang menggambarkan rasa kesalnya. Sangat-sangat kesal
hingga Christy pun takut mendekati Felly. Namun dengan penuh keberanian Christy
mencoba mendekat lebih dekat lagi.
“Fell, aku minta maaf, tapi
jikalau kamu menganggap aku merebut semua dari kamu itu salah. Aku tidak pernah
bermaksud merebut apapun dari kamu. Papa, Mama itu Papa dan Mama kamu. Mereka
tidak akan pernah berubah menyanyangimu. Anisa dan Gigi, mereka sayang sama
kamu. Mereka selalu mencoba mendekati kamu tapi kamukan yang mengusir mereka
untuk menjauhi kamu?” Menjelaskan.
“Itu karena mereka sudah
mengkhianati aku.” Menjawab namun tetap tak mau memandang wajah Christy yang
penuh kasih sayang itu.
“Mereka tidak mengkhianati
kamu Fell, mereka hanya ingin kamu berubah. Kamu sudah keterlaluan membenci
aku”.
“Keterlaluan??? Kamu yang
keterlaluan. Tristan juga kamu ambil”. Meninggalkan taman indah tempat mereka
mengobrol.
“Felly! Tunggu!” tak mampu
menjangkau tangan Felly yang sudah terlanjur berlari menuju kamarnya.
“Kehadiranku membuat semuanya
kacau. Aku hanya membawa petaka buat Felly. Apa aku harus pergi meninggalkan
Felly? Tidak tidak Papa dan Mama sudah percaya padaku kalau aku mampu
menghadapi ini semua”. Celoteh dalam hati kecilnya.
SKIP…………………………………………………
“Chris, apa kabar kamu?” Tanya
Aldo yang tiba-tiba muncul dan berjalan mundur didepan Christy dan memandang
wajah Christy.
“Aldo???” Menghentikan langkah
kakinya.
“Iya ini aku Aldo. Aku sengaja
kesini untuk menjemput kamu. Aku pernah janji kan kalau aku akan menjemput
kamu”. Memegangi pundak Christy kegirangan. Maklumlah 10 tahun tidak ketemu.
“Tapi aku gak bisa, Do”.
“Kenapa? Karena aku kelamaan
ya jemputnya?”
“Bukan, karena aku sudah
mempunyai keluarga baru yang gak mungkin aku tinggalkan”.
Dahulu Aldo dan Christy adalah
sahabat dari kecil dipantinya. Dan Aldo lebih beruntung dari Christy, Dia
mendapatkan orang tua baru sebelum Christy dan dengan berat hati meninggalkan
Christy. Tepat disaat mereka berumur 10 tahun. Namun seiring berjalanya waktu
Christy mampu menerima itu semua walaupun pada awalnya Christy tak bisa
berhenti menangis karena kehilangan sahabat karipnya itu.
“Kamu tidak mau memeluk aku
Chris?” Membuka kedua tangannya dengan percaya diri.
“Tentu mau”. Memeluk Aldo
untuk sejenak menghilangkan rasa rindu yang sudah menggebu sejak 10 tahun
silam.
“Christy!!!” Menarik tubuh
Christy melepaskan pelukan eratnya bersama Aldo.
“Plaaaakkkkkk………” Tamparan
dahsyat mendarat dipipi mungil Christy.
“Apa-apaan ini”. Mendorong
Tristan yang terbawa emosi.
“Jangan ikut campur!
Duuuaggg…” Memukul Aldo yang ingin melindungi Christy.
“Tristan Udahhhh!” Berteriak
sembari memegangi pipinya yang mulai memerah.
“Ternyata benar apa kata
Felly. Kalau kamu itu cewek murahan. Setelah kamu merayu Papanya Felly kamu
doyan juga ya sama cowok seusia kamu”.
“Plaaakkkkkkk, jaga omagan
kamu! Aku tidak sehina itu”. Menampar Tristan penuh emosi namun tak kuasa
menahan airmata indah yang selalu dia simpan.
Tiba tiba Christy yang terbawa
emosi dan kesakitan akibat tamparan hebat dipipinya pinsan dipelukan Tristan.
“Chris, Christy.. bangun
Chris”. Dengan paniknya membangunkan Christy.
“Bawa Christy ke UKS. Cepat!”
Sambung Aldo tanpa berfikir panjang.
Tristan membopong Christy
menuju UKS. Setelah lebih dari 2 jam Christy tak sadarkan diri. Felly yang
melihat kejadian itu malah merasa puas dan menang. Takut terjadi hal yang tidak
diinginkan akhirnya dipindahkan kerumah sakit terdekat. Dari balik jendela
ruang ICU Tristan merasa bersalah, sedangkan Aldo hanya mondar-mandir menunggu
dokter keluar dan memberikan keterangan. Anisa, Gigi dan Felly pun sampai
dirumah sakit setelah jam kuliah mereka selesai.
“Tristan, gimana keadaan
Christy?” Tanya Anisa yang sangat panik.
“Aku belum tau”. Menggelengkan
kepala dan tetap merasa bersalah.
Setelah 20 menit dokter yang
memeriksa pun akhirnya keluar dari ruang dimana Christy dirawat. Nampaknya
dokter memberi isyarat bagus soal keadaan Christy. Syukurlah kalau memang
Christy tidak kenapa-napa.
“Keluarga Christy?” Tanya
dokter yang baru keluar dari ruangan dimana Christy telah tertidur sejenak.
“Saya Dok”. Felly berdiri dari
tempat duduknya.
“Ikut saya keruangan”.
“Baik”. Mengikuti dokter yang
berjubah putih bersih rapi dan sangat licin.
“Aku boleh ikut kan Fell?”
Tristan menawarkan diri.
“Silakan”. Jawab Felly enteng.
Tak lama mereka
berbincang-bincang akhirnya mereka berdua keluar.
“Bagaimana keadaan Christy,
Fell?” tanya Aldo yang paniknya sampai puncak kejayaan.
“Pasien hanya butuh istirahat,
dia hanya sedikit stress”. Jawab Dokter yang masih terlihat bersama Felly dan
Tristan.
“Syukurlah. Terimaksih, Dok”.
Menghempas nafas lega.
“Sama-sama, dan sebaiknya
pasien dibiarkan agar beristirahat dahulu”.
“Baik donk!”Jawab mereka
serempak.
Beruntung mereka tidak saling
menyalahkan, kalau iya pasti ramaikan tuh depan ruang ICU. Bisa-bisa seisi
rumah sakit pada usir mereka. Aldo, Anisa dan Gigi kemudian memutuskan untuk
pulang. Keesokkan harinya Christy sudah diperbolehkan pulang kerumah. Anisa dan
Gigi lah yang menjemput kepulangan Christy dari rumah sakit.
“Lain kali jangan terlalu
stress, bisa-bisa betah dirumah sakit”. Celoteh Anisa yang membukakkan pintu
mobil untuk Christy.
“Pasti gara-gara ulah Felly
kamu jadi stress begitu”. Sambung Gigi yang sudah siap menyetir mobil idamannya
itu.
“Ya bukan lah”. Terlihat
sedikit pucat dan lemas.
Keesokkan harinya dikampus
Tristan mencari-cari keberadaan Christy dan mendapatinya ditempat biasa Christy
menghabiskan waktu untuk membaca buku.
“Aku mau kita PUTUS!” Tanpa
basa-basi Tristan mengatakan hal yang tidak mengenakkan didengar telinga
Christy.
“Gara-gara Aldo? Dia itu
sahabatku,Tris”. Menutup buku yang sedang dibacanya.
“Bukan, tapi karena aku sudah
mencintai cewek lain”. Mengatakanya dengan wajah yang sepertinya menyimpan
sesuatu.
“Siapa?” Bediri dari tempat
duduk yang semula didudukinya untuk membaca buku SAINS.
“Felly”. Dengan lantang namun
sedikit berat.
Ntahlah apa yang sebenarnya
terjadi diantara mereka dan terutama Tristan, Christy hanya mampu besabar dan
merelakan cowok yang dia cintai hidup bersama saudaranya.
“Sejak kapan kamu mencintainya”.
Bertanya sembari meletakkan buku yang dia bawa.
“Memang aku baru-baru ini
mencintainya, tapi aku akan segera melangsungkan pertunangan kami”.
“Secepat itu?” Matanya
berkaca-kaca menatap mata Tristan yang Nampak ragu dengan ucapanya sendiri.
“Hmmm……..” Mengangguk dan
berjalan menjauhi Christy.
Aldo berpapasan dengan
Tristan, melihat Tristan Aldo sendiri kebingungan. Dihampirinya Christy yang
terduduk menghempaskan tubuhnya tanpa beban sembari menangisi Tristan yang
memilih meninggalkannya.
“Kamu menangis?” Menyodorkan
sapu tangan miliknya.
“Makasi, Do!” Mengulurkan
tangan menerima sapu tangan yang disodorkan Aldo lalu menghapus airmatanya.
“Air mata kamu terlalu
berharga untuk cowok kasar seperti Tristan”. Menghibur.
Christy hanya terdiam dan
menatap mata Aldo yang duduk disebelahnya dan sesekali kembali mengusap air
matanya.
SKIP………………………………..
Seminggu sudah berlalu, pertunangan Tristan
dan Felly akhirnya terlaksana dengan tanpa halangan meski tanpa kehadiran Papa
dan Mamanya. Felly hanya meminta restu fia telephon. Christy sudah benar-benar
merelakan Tristan hidup bersama Felly. Karena Christy ingin melihat orang-orang
yang dia cintai bahagia.
“Sabar ya Chris, kamu pasti
mendapatkan yang lebih baik dari Tristan”. Gigi mencoba menyemangati bagaikan Chilyders
yang menyoraki para pemain basket.
“Iya Chris, aku yakin kamu
bisa!” Saut Anisa memeluk Christy penuh haru.
“Ngomong-ngomong Aldo kemana,
Chris?” Tanya Gigi yang memantau keadaan sekitar dengan kedua matanya.
“Aldo, sudah kembali ke
Bandung. Dia banyak tugas disana”. Jawab Christy.
“Non Christy, ada telefon.” Kata bibi yang
menghampiri Christy.
“Aku terima telfon dulu ya,
Gi, Nis”.
“Ok Chris.” Serempak.
Setelah selesai menerima telefon. Christy
langsung berlari menuju ruang pesta berniat ingin mencari Felly.
“Mana Felly?”
“Tidak tau.”
“Liat Felly”
“Tidak.”
Semua ditanyanya satu persatu.
“Cari siapa, Chris?” Tanya
Anisa menghentikan langkah Christy yang panik.
“Felly.” Jawab Christy
singkat.
“Itu Felly.” Menunjuk kearah
Felly duduk berdua dengan Tristan.
“Fell,,,,,” Memanggil Felly
dan mendekatinya.
“Ada apa sich?!”
“Ada yang ingin aku sampaikan. Papa dan Mama
kecelakakan dalam pesawat saat mereka menuju kesini. Papa dan Mama ditemukan dalam
keadaan tak bernyawa”. Jelasnya sambil memegangi tangan Felly dengan mata yang
berkaca-kaca.
Gigi yang tak sengaja mendengarnya langsung
ikut berkumpul bersama mereka.
“Gi, aku cariin kamu tau gak. mintaaa
dooonkk!” merebut minuman ditangan Gigi dengan nada sumringah namun lama
kelamaan melemah setelah melihat Christy dan Felly menangis.
“Sssstttttt.”
“Apa? Papa…… Mama……….” Memeluk Christy sambil
menangis.
Anisa menggerakkan kepalanya memberi isyarat
kalau dia bertanya ada apa kepada Gigi.
“Sabar ya Fell, Aku juga sedih. Mereka sudah
aku anggap sebagai Papa dan Mama kandungku sendiri.” Mengelus kepala Felly.
“Sabar ya?” Anisa dan Gigi serempak mengelus
pundak mereka berdua.
Tristan hanya terdiam melihat keharuan
suasana yang diciptakan cewek-cewek cantik itu.
“Semua gara-gara kamu. Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaa”.
Melepas pelukkannya dan mendorong Christy.
“Felly tenang Fell.” Memegangi Felly yang
sesekali tanganya disingkirkan oleh Felly.
Anisa, Gigi dan Tristan juga
menenangkan Felly.
Sore ini Papa dan Mama Felly
dimakamkan, tampak suasana haru menyelimuti pemakaman orang tuanya. Hal yang
sangat menyedihkan buat Felly karena dihari pertunangannya dia dihadiahi
kematian orang tuanya. Setelah pemakaman selesai semua orang yang ikut melayat
pun sudah pada meninggalkan makam. Namun Felly, Christy, Gigi, Anisa dan
Tristan masih tampak menunggui makam.
“Pa, Ma…. Felly sama siapa
disini. Kenapa mama dan papa tinggalkan Felly.?” Menangis sambil memeluk nisan
Papa yang sesekali pindah memeluk nisan Mamanya.
“Fell, bibi menitipkan ini
padaku setelah satu hari Papa dan Mama berangkat ke Paris. Bibi bilang ini
untuk kamu dari Mama dan Papa. Kalau Papa dan Mama tidak sempat mengatakanya
secara langsung”. Menyodorkan selembar Kertas.
……………………………………………
Untuk Anak Mama dan Papa Felly dan Christy….
Sayang, maafkan Papa dan
Mama apabila tidak sempat menyampaikan hal ini pada kalian, Mungkin Papa dan
Mama tak sempat untuk mengatakannya langsung.
Felly, sebenarnya kamu bukan anak
kandung Papa dan Mama. Kamu anak sahabat Papa, Mereka menitipkan kamu pada Papa
dan Mama saat kamu masih berumur 3 tahun Mereka sudah meninggal karena
kecelakaan mobil bersama kami. Saat itu Papa, Mama, Papa dan Mama kandung
Felly, Felly dan Christy kalian masih berumur 3 tahun, berencana liburan
bareng. Tapi kenyataannya mobil yang Papa bawa masuk kejurang karena rem blong.
Papa, Mama dan Felly selamat, Mama dan Papa kandung Felly meninggal ditempat,
sedangkan Christy entah kemana, kami tidak tau keadaannya.
Sampai akhirnya sekian lama
kita mencari, Christy kami temukan.
Christy, kamu anak kandung
Papa dan Mama, maafkan kami yang tidak bisa mememanimu lagi, Papa dan Mama akan
selalu menyayangi kalian.
Pesan Papa dan Mama untuk
Christy : Jaga Felly seperti adik kandung kamu sendiri, dan untuk Felly :
Terima Christy sebagai Kakakmu. Papa dan Mama ingin kalian saling menyayangi.
With
Love,
Papa dan Mama
…………………………………………………………………
Mengetahui isi surat itu Felly
marah dan merasa sangat terpukul, dia selalu menyalahkan Christy. Sesekali dia
bingung ntah dia harus marah sama siapa mengetahui kalau Papa dan Mama yang
selama ini merawatnya bukanlah Papa dan Mama kandungnya.
“Aku tidak punya siapa-siapa
lagi”. Tangisnya memeluk nisan kedua orang tuanya.
“Masih ada kita, Fell”. Christy menenangkan
walau hatinya juga sedang menangis.
Christy mencoba terus menerus menenangkan
Felly namun dihempasnya tubuh Christy hingga terpental, untung ada Anisa dan
Gigi yang tak sengaja menopang tubuh Christy. Tristan kemudian memeluk Felly
dan mengatakan kalau dia tidak sendiri.
SKIP………………………………….
“Kata Christy kamu sudah
kembali ke Bandung?” Membawa es berwarna merah muda dalam plastik berbentuk
gelas cantik bergambar tokoh kartun.
“Rencana pulang besok, Nis.
Sepertinya masih ada yang tertinggal kalau aku belum bilang sesuatu tentang
Tristan dan Felly kepada kalian.
“Maksud kamu, ohya kamu sudah
tau kematian orang tua Christy dan Felly?”
“Sudah, maaf aku tidak sempat
ada disana waktu itu. Karena aku harus membeli tiket ke Bandung. Ohya Ada hal
penting yang ingin aku sampaikan sama Christy, Aku mencintai dia. Tapi cintanya
hanya buat Tristan. Aku harus tau diri soal itu”.
“Al, Tristan itu sudah
menyakiti Christy. Buat apa kamu takut nyatain perasaan kamu ke Christy.
Mungkin kehadiran kamu bisa membuat Christy melupakan Tristan”.
“Kamu salah, Nis. Tristan
hanya mencintai Christy”.
“Lalu kenapa Tristan
meninggalkan Christy? Dan memilih tunangan sama Felly?”
“Itu yang ingin aku sampaikan
sebelum aku pulang ke Bandung. Tapi sepertinya Christy tidak boleh tau soal
ini. Aku takut Felly tidak akan berhenti menyakiti Christy”.
“Maksud kamu?” Melontarkan
pertanyaan penuh rasa penasaran.
“Kamu ingat sewaktu Christy
masuk ruang ICU? Disitulah semua sandiwara dimulai. Sebenarnya Christy tidak
hanya kelelahan atau stress. Tapi Christy mempunyai penyakit gagal ginjal yang
membutuhkan pencakokan ginjal”.
“Kamu tau dari mana?” Sesekali
meminum es yang dibawanya.
“Aku tidak sengaja mendengar
percakapan Tristan dan Felly setelah kamu dan Gigi meninggalkan Rumah sakit. Christy
harus segera dioperasi. Felly lah yang mendonorkan ginjalnya untuk Christy.
Tristan memohon kepada Felly karena ginjal Tristan tidak cocok untuk Christy dan
Felly akhirnya mau dengan syarat Tristan mau bertunangan dengan Felly dan
bersedia meninggalkan Christy. Disitu aku mulai mengerti arti cinta. Tristan
benar-benar mencintai Christy, Nis. Aku tidak mungkin merusak hubungan mereka”.
“Aku tau perasaan kamu, Al.
Sebaiknya kita katakan ini semua sama Christy, Kita harus menyatukan mereka
kembali”.
“Jangan, aku takut ini akan
membuat Felly semakin menyakiti Christy!”
“Aku sudah mendengarnya, Do”.
Muncul dari belakang yang nampaknya mendengar semua apa yang mereka bicarakan.
“Christy!” Serempak kaget.
“Kita berdua sudah ada disini
sejak tadi, dan kita mendengar semua apa yang kalian bicarakan”. Lanjut Gigi
yang berdiri sejajar dengan Christy.
“Kalau seorang saudara rela
memberikan anggota tubuhnya kepada kita? Kenapa kita tidak rela dan merasa
berat untuk berbagi CINTA demi kebahagiaan saudaraanya? Apa yang Felly lakukan
buat aku itu adalah CINTA. Dan aku tidak akan pernah merusak kebahagiaan Felly.
Aku memang bukan saudara kandungnya. Tapi apa yang Felly lakukan buat aku itu
lebih dari saudara kandung”.
“Christy…..?” Felly tidak
sengaja mendengar kata-kata yang membuat hatinya luluh dan bersegera memeluk
Christy.
“Felly…” Memeluk balik Felly
dengan erat.
“Maafkan aku, Chris. Selama
ini selalu berfikir buruk tentang kamu, aku tidak pernah menerima kamu sebagai
saudaraku. Aku selalu menyakiti hati kamu, Chris. Bahkan aku sudah tega merebut
CINTA kamu”.
“Sssstttt…… apa yang kamu
lakukan tidak salah. Akunya saja yang tidak pernah berterimakasih kepada kamu,
Mama dan Papa, Fell. Tega membuat kamu menangis. Kamu, Papa dan Mama itu
bagaikan malaikat yang merubah hidupku jadi lebih indah”. Meneteskan air mata
memeluk Felly lebih erat.
Aldo, Anisa dan Gigi terharu
melihat mereka berdua. Dan Tristan akhirnya datang ditengah-tengah mereka.
“Tristan itu buat kamu Chris,
bukan buat aku. Maafkan aku yang telah membuat Tristan menamparmu waktu itu dan
telah membuat Tristan meninggalkanmu, Hmmmm”. Mempersilakan Christy menghampiri
Tristan.
Daaaaaaaaaaaaaaaaaaan,
akhirnya Christy kembali dipelukan Tristan.
“Yeeee….” Anisa, Gigi, Aldo
dan Felly Bersorak untuk Christy dan Tristan.
Bahagiaaaanyaaaa………
The End………………………………………………..
"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"
Penulis :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar