Rabu, 21 Agustus 2013

Bukan Cinta Permanen

Pagi ini siswa kelas XII IPA a SMA PUTRA PUTRI Bangsa mengadakan ulangan lisan mendadak untuk melatih menghadapi Ujian Nasional mendatang, semua siswa kaget dan bingung. Mereka membuka-buka buku MAPEL yang akan diujikan sembari menunggu giliran. Christy dan Willy malah asik bermain lempar kertas yang diremas-remas menyerupai bola kecil. Mereka terlihat santai dan cuek maklumlah Christy dan Willy terkenal sebagai anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang luar biasa makanya mereka tidak peduli mau ada ulangan mendadak ataupun tidak.
“Willy…” Ibu guru yang terlihat masih berumur sekitar 25 tahunan itu memanggil Willy untuk maju kedepan menghadapi pertanyaan pertanyaan darinya.
“Sukses ya Will!” Menepuk pundak Willy.
            “Pasti…” Dengan santainya melangkahkan kaki yang bersepatu warna biru menuju meja guru.
            10 pertanyaan mampu Willy jawab dengan benar dan sekarang giliran Christy. Wajahnya tidak menampakkan rasa takut sama sekali. Yaa.. Karena ulangan seperti ini Christy tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 100.
            “Kamu siap Christy?” Tanya Ibu guru sembari membolak balik buku mencari soal untuk Christy.
            “Siap!” Dengan tegas Christy menjawabnya.
            “9 Pertanyaan sudah kamu jawab dengan tepat, sekarang pertanyaan terakhir, dan ini sangat mudah. Disini siapa yang berperan sebagai Konsumen III?” Memperlihatkan gambar rumput, belalang, katak, ular dan jamur.
            Mendengar pertanyaan itu Christy nampaknya bisa menjawab dengan mudah, namun apa yang terjadi?
            “Belalaaaaaaang”. Willy dengan sengaja melempar Belalang mainannya dari plastic tepat mengenai tangan Christy. Alhasil Christy berteriak.
            “Belalang????” Ibu guru yang mendengar jawaban Christy langsung kaget dan mempersilakan Christy untuk duduk kembali.
            Alhasil Christy hanya bisa menjawab 9 pertanyaan dan Willy cengengesan menertawakan Christy, wajah Christy nampaknya sangat kesal dengan ulah Willy.
            “Jail banget!!!” Geregetan dan hampir menonjok muka Willy.
            “Eiits….” Willy terus menertawakan Christy.
            “Baik anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat”.
            Para siswa berlari menuju kantin dengan sigap.
            “Kali ini yang harus nraktir kayaknya Christy si cewek jutek”. Meledek Christy.
            “Gak mau”. Cemberut.
            “Kok gak mau? Ini kan sudah perjanjian, Chris”.
            “Tapi kan loe curang”. Melototi Willy.
            “Gak papa kali, Chriiiiis”. Mengusap muka Christy dengan telapak tangannya.
            “Iwwhhh bau’…” Menyingkirkan tangan Willy.
            “Ahhh enggak”. Mencium tangannya sendiri.
            “Gue mau pulang!” Menarik Tasnya yang ada diatas meja.                                               
            “Lohh, kok pulang sich, jangan donk!”
            “Mau ikut apa gak?” Memandangi Willy kesal.
            “Ikut ikut”. Membopong Tasnya dan mengikuti Christy.
            Begitulah ulah mereka setiap hari, mengikuti pelajaran hanya sampai ditengah-tengah. Kecerdasan mereka mungkin kelewat batas jadinya guru yang menegurnya pun selalu kalah dengan kata-kata cerdas dari mulut mereka, badung sich tapi tidak pernah mendapat nilai jelek sama sekali.

SKIP………………………………………………..

            “Loe mau ketemu siapa disini, Chris?” Memburu pemandangan sekitar.
            “Pacar?” Santai.
            “BhEEpb ebbbh,, hahaha pacar?” Menertawakan  Christy meledek.
            “Kok ketawa sich!” Kesal.
            “Sejak kapan  loe pacar baru sejak si Chrisjon yang plaboy itu mutusin loe?”
            “Namanya Christian buat Chrisjon”. Tambah kesal.
            “Ya terserah gue donk! Ehh ehh ngomong-ngomong siapa sich pacar baru loe itu?” Berjalan sedikit tertinggal oleh langkah Christy.
            “Liat aja ntar!” Terus melangkah mencari keberadaan pacarnya.
            “Chris, Chris, kenapa loe bengong?”
            Tanpa berkata-kata lagi Christy berlari meninggalkan tempat itu.
            “Wahhh pasti gara-gara cowok itu tu”. Menunjuk ketua genk motor yang sedang bermesraan dengan cewek.
            “DUaaagh,,, loe jangan mainin Christy ya?!!!” Willy lalu menghampiri cowok itu dan memukulnya.
            “Stop-stop!!! Willy apa-apaan ini?” Kak Dinda yang tak sengaja lewat langsung menghentikan perkelahian itu.
            Cowok yang dipukuli Willy langsung berlari bersama ceweknya menjauh dari tempat itu.
            “Seharusnya kakak tidak menghentikannya tadi”.
            “Willy,, terjadi apa lagi dengan Christy? Apa itu cowok yang ke 5 yang loe pukul gara-gara menyakiti Christy? Kalau emang itu benar kakak berterima kasih sama loe, tapi ini bahaya buat loe, Will”.
            “Willy gak peduli kak, Willy Cuma mau ngasih pelajaran buat semua cowok yang sudah nyakitin Christy, biar mereka tau kalau Christy tidak sepantasnya dibuat mainan”.
            “Kalau mereka semua akhirnya balas dendam sama loe gimana coba? Loe kan bisa babak belur dikroyok sama semua mantan-mantan Christy”.
            “Willy gak takut kak”.
            “Ya sudah sekarang kita cari Christy terus pulang”.
            “Hmmmm Hmmm”. Willy mengangguk.

SKIP……………………………………………………..

            “Berapa kali kakak bilang, gak usah gampang percaya sama sembarang cowok, akhirnya gini kan? Loe sakit hati lagi”.
            “Christy Cuma mau punya pacar aja kak, biar gak diremehin sama Willy”.
            “Emang Willy ngremehin gimana?”
            “Katanya Christy itu cewek jutek yang gak mungkin punya cowok, tapi nyatanya mantan Christy banyak kan kak? ganteng-ganteng pula walau yang bertahan lama Cuma satu bulan”.
            “Hmmm,, mungkin dia bercanda kali”.
            “Mungkin”. Menganggukan kepalanya.
            “Ya sudah… tidur sana. Besok kan harus berangkat kesekolah”.
            “Iya kak”.
            “Selamat malam Christy”. Mengecup kening Christy.
            “Selamat malam juga kakak”. Memperhatikan Kakaknya yang mulai tak keliatan melewati pintu kamarnya.
            Keesokkan harinya pagi-pagi sekali Willy mengahampiri Christy seperti biasa numpang sarapan, karena masakan Kak Dinda sangat enak dan lezat untuk mengisi semangat dipagi hari.
            “Kak dinda masak apa sekarang?” Dengan PeDenya duduk dimeja makan.
            “Cuma nasi goreng, kebetulan tadi kakak telat bangun jadi gak sempet bikin sarapan yang macem-macem”.
            “Walaupun Cuma nasi goreng, kalau yang buat kak Dinda tu rasanya ISTIMEWA banget dech! Coba aja kalau Christy bisa masak seenak kak Dinda, pasti aku mau nikah sama dia”. Menyantap makanan yang disajikan kak Dinda didepannya.
            “Yeee siapa juga yang mau nikah sama loe”. Juteknya berlebihan.
            “Emangnya loe kira gue mau apa”. Jawab Willy  dengan mulut penuh nasi goreng buatan kak Dinda.
            “Sudahh sudahh, pagi-pagi sudah ribut. Habisin dulu sarapannya ntar telat”.
            “Kak dinda gak ikut sarapan?”
            “Kakak sarapannya ntar siang aja, lagian hari ini kakak libur kok”. Duduk menemani mereka.
            “Ya jelas kak Dinda gak ikut makan lah, jatah makan kak Dinda dihabisin sama loe kan?”
            Willy memasang wajah bengong sembari melepas sendok dan membiarkan sendoknya nyangkut dimulutnya.
            “Hmmm,,, Christy…” Mengusap-usap rambut Christy.
            Selesai sarapan mereka langsung berangkat sekolah, biasa jalan kaki niatnya sich agar telat gitu biar seru katanya, Emang badung banget mereka.
            Ditengah jalan Christy melihat Robbi teman SMPnya dulu.
            “Christy ya???”
            “Loe siapa ya?” Christy sedikit lupa dengan wajah teman SMPnya itu.
            “Gue Robbi, temen SMP loe dulu. Ingat kan?”
            “Robbi??? Loe jadi secakep ini? Emang sich loe dulu cakep tapi gak secakep sekarang, sekolah dimana loe?”
            “Gue? Kebetulan gue sekolah di Inggris, yaahh Papa Mama gue kan udah menetap disana, gue sekarang lagi liburan aja dirumah nenek gue disini, loe makin cantik aja”.
            “Maaciiyyhhh”.
            “Ayo Chris, ntar kita telat loh!” Menarik Christy yang nampaknya keliatan cemburrruu.
            “Sejak kapan loe peduli telat atau gak? Biasanya juga kita gak pernah mikirin itu kan?” Jawab Christy.
            “Udah ayooo!!!” Menarik Christy yang nampaknya tak mau buru-buru meninggalkan Robbi.
            “Duluan ya Robbi, nanti kita ngobrol lagi”.
            “Okey, bay”.
            “Siapa sich dia?” Nada Kesal.
            “Dia itu temen SMP gue, Will, yahh dulu gue naksir sich sama dia, tapi karena gue kalah cantik sama Sarah yang statusnya idola si SMP gue, jadi gue gagal buat dapetin dia”.
            “Terus sekarang loe mau pacarin dia gitu?” Semakin kesal.
            “Yaa kalau bisa sich!”
            “Loe itu gak ada kapoknya ya pacaran? Padahal yang loe pilih tu ya satupun gak ada cowok yang bener ”.
            “Ya biarin lah, dari pada loe? Gak pernah punya cewek satupun”.
            “Gue seperti ini karena gue cinta sama loe Chris, dan gue gak mau punya cewek selain loe”. Gumamnya dalam hati.
            “Yeee malah bengong ayo jalan!”

SKIP……………………………………….

            “Kak Dinda, Christynya ada?” Dengan sopan.
            “Baru aja pergi”. Sembari membaca majalahnya.
            “Malam-malam kok baca majalah kak? Ohya Christy Sama siapa kak?”
            “Ya nich, lagi hobi ajha! Sama??? Siapa ya tadi… Robbi kayaknya Will”.
            “Robbi??? Kakak gak cegah?”
            “Buat apa kakak cegah Will? Kan mereka sudah pacaran”.
            “Pacaran? Baru 2 hari ketemu udah pacaran?”
            “Hmmm,, setau kakak sich gitu?”
            “Ya sudah kak, Willy permisi dulu?”
            “Iya Will”.
            Belum sempat melewati gerbang rumah Christy, Robbi dan Christy sudah kembali, Willy yang melihat itu langsung melemparkan tubuhnya ke semak-semak dekat gerbang rumah. Setelah Robbi keluar dari halaman rumah Christy, Willy mengikutinya. Mungkin karena rasa curiga yang mendalam yang merasuki hati Willy. Dilihat dari penamplannya Willy menilai kalau Robbi bukan cowok baik-baik.
            Ya memang betul adanya, Robbi adalah segerombolan remaja yang berada dilingkungan para pecandu obat-obatan terlarang, Robbi juga termasuk pengedarnya. Mengetahui hal tersebut, Willy akan bertindak tegas kepada cowok yang bernama Robbi itu.
            “Chris, Robbi itu cowok gak bener, loe putusin aja dia”.
            “Loe iri kan sama gue, Will?”
            “Iri?? Ya gak lah Chris, loe itu sahabat gue, gue gak mau sahabat gue salah pilih”.
            “Kali ini loe gak usah ikut campur urusan gue, atau capek-capek nyuruh gue buat putusin Robbi, karena itu gak akan pernah mungkin”.
            Keesokkan harinya Willy menemui Robbi.
            “Gue minta loe putusin Christy sekarang juga dan jangan pernah ganggu dia!”
            “Loe siapanya Christy berani nyuruh gue buat mutusin dia?”
            “Gue sahabatnya, kalau loe gak mutusin Christy nasib loe bakalan sama, sama mantan-mantanya Christy”. Sekejab tangannya berubah menjadi pukulan yang siap diluncurkan.
            “Willy????”
            “Christy?” Belum sempat mendaratkan pukulannya Christy sudah menghalanginya.
            “Jadi? Semua mantan-mantan gue itu loe yang bikin mereka mutusin gue? Loe tega ya Will nyakitin hati gue, loe boleh jailin gue, loe boleh bersaing sama gue, tapi tidak dengan mainin perasaan gue”.
            “Chris, Semuanya gak seperti yang loe lihat, loe salah paham Chris, gue bisa kok jelasin semuanya”.
            “Gak perlu, ayo Robbi. KITA PERGI dari SINI”.
            “Chris, Tunggu! Ach!!!” Menendang kaleng yang berada dibawahnya.
            Sejak kejadian itu Christy tidak lagi mau menemui Willy, Willy selalu berusaha mendekat dan menjelaskan semuanya tapi Christy tidak memberikan kesempatan berbicara sama sekali kepada Willy.
            “Willy kenapa akhir-akhir ini dia tidak pernah sarapan disini lagi?” Menyiapkan sarapan pagi dimeja makan.
            “Tau diri kali dia kak”.
            “Maksud loe apa, Chris?”
            “Ternyata yang bikin mantan-mantan gue mutusin gue itu Willy kak, ini semua ulah dia”.
            “Willy? Loe gak salah?”
            “Gak kak”.
            “Setahu kakak Willy itu baik dan sangat peduli sama perasaan loe”.
            “Gue kira juga gitu kak, tapi apa yang gue lihat dan gue denger Willy lah yang bikin semuanya mutusin gue, kemaren dia nyuruh Robbi buat mutusin gue kak”.
            “Masak sich? Pasti Willy punya alasan melakukan itu semua”. Menyodorkan piring mendekati Christy.
            “Christy!” Willy tiba-tiba datang.
            “Ya udah kak, Christy berangkat dulu”.
            “Loeehh habisin dulu sarapanya, belum juga dimakan”.
            “Christy buru-buru kak!” Berdiri meninggalkan kursi yang semula dia duduki.
            “Chris, Christy!” Mengejar Christy.
            “Willy tunggu! Gue tau semuanya itu salah paham. Apa yang Christy katakan tentang loe ke gue itu salah”. Menghentikan langkah Willy.
            “Iya kak, tapi Christy tidak pernah mau memberikan sedikit waktu buat gue jelasin semuanya”. Mendekati Dinda.
            “Kenapa loe nyuruh Robbi mutusin Christy?”
            “Robbi pecandu dan pengedar narkoba dikalangan pelajar kak, gue melihatnya sendiri”.
            “Will, Loe cinta kan sama Christy? Gue bisa ngerasain betapa besar cinta loe sama Christy, setelah apa yang loe lakuin ke Christy selama ini. Semuanya udah buktiin kalau kepedulian loe ke Christy itu lebih dari sahabat”.
            “Willy emang cinta kak sama Christy, tapi Christy hanya menganggap Willy sebagai seorang sahabat. Bukannya gue gak berani ngungkapin kak, tapi karena gue menghargai persahabatan kita, gue gak mau persahabat kita jadi hancur kalau Christy tau gue mencintainya”.
            “Jangan pernah takut ngungkapin perasaan loe,, apapun yang terjadi nanti yang penting loe udah jujur sama perasaan loe, gue yakin kalaupun Christy akan menolak loe dia pasti akan menghargai perasaan loe, tapi kakak tau betul apa yang akan terlontar dari mulut Christy kalau loe bilang cinta ke dia”.
            “Apa kak?”
            “Dia akan bilang kalau dia juga mencintai loe”.
            “Sungguh itu kak?”
            “Hmm hMmm… Matanya gak pernah bisa bohong, dan gue ini kakak kandungnya gue tau apa yang ada dalam hatinya”.
            “Kalau gitu Willy kejar Christy, kak”.
            “Good Luck!”
            “Makasih kak!!!”
            “…..” Kak Dinda tersenyum.
            Ditengah perjalanan langkah Willy dihentikan oleh segerombolan cowok-cowok yang tak lain adalah mantan-mantan Christy yang diketuai oleh Robbi. Mereka membalas pukulan Willy yang mendarat dimuka mereka. Willy akhirnya babak belur dan tidak sadarkan diri. Willy dibuang ke sungai yang airnya sudah nampak kering, hanya bebatuan yang ada disana.
           
SKIP…………………………….
           
            Pulang sekolah Christy Nampak sedih dan memeluk Dinda dengan wajah basah yang tak lain adalah air matanya sendiri.
            “Kakak….”
            “Christy, loe kenapa sayang?”
            “Ternyata Robbi pecandu dan mengedar obat-obatan terlarang kak, Christy mutusin dia tadi”.
            “Bagus donk kalau kamu sudah tau”.
            “Tapi yang Christy sesali tu Christy udah salah sangka sama Willy kak”.
            “Sudah-sudah, sekarang kamu duduk dulu kakak ambilin minum”.
            “Kak, Apa Willy akan memaafkan Christy kalau Christy minta maaf sama dia kak?”
            “Daahhh, minum dulu ya?” Menyodorkan segelas air putih.
“ Willy sekarang sedang dirawat dirumah sakit”.
“Apa???”
“Iyaaa, tadi pagi setelah dari sini dia ingin nyatain perasaannya ke loe, Chris. Dan ditengah jalan dia digebukin sama Robbi dan Mantan-mantan loe yang lainnya. Hehh… Ini yang kakak takutin,, Willy dikroyok sama semua orang yang sudah pernah dia pukul karena nyakitin loe”. Mendekap wajah Christy dengan kedua tangannya.
            “Willy ngelakuin itu kak?”
            “Hmmm Hmmmm”. Mengangguk.
            “Antar Christy ke Rumah sakit sekarang kak!”
            “Hmmm…” Mengangguk.
            Sampai dirumah sakit Christy hanya bisa melihat Willy dari balik kaca jendela, Tubuh Willy penuh dengan balutan perban yang berhiaskan darahnya sendiri. Christy yang melihatnya Nampak tak tega dan terus meneteskan air matanya yang tak habis-habis.
            “Kata dokter kalau Willy sadar dia tidak akan ingat apa-apa”.
            “Benarkah itu tante?” Air matanya kian deras.
            “Iya, Chris. Tante juga sedih mendengarnya”.
            “………” Menjatuhkan tubuhnya kedekapan Dinda.
            “Sabar…” Memeluk erat Christy.
            Setelah Willy sadar semuanya berada disamping Willy. Namun Willy tak mengenali semua yang ada disitu, satu persatu Mama Willy memperkenalkan anggota keluargannya, mengenalkan Dinda dan tak ketinggalan cewek jutek yang selalu menemaninya setiap waktu yaitu Christy.
            Tapi Willy tak bisa mengingat mereka sama sekali. Christy memang tak sanggup menerima semua itu apalagi ternyata Christy juga mencintai Willy. Namun kak Dinda selalu membuat Christy kuat menghadapi semua itu.
            “Tante, Christy boleh kan mengajak Willy jalan-jalan?”
            “Boleehhh, silakan”.
            Willy duduk lemas bersandar dikursi rodanya, Christy dengan penuh semangat mendorong Willy menikmati indahnya pemandangan disekitar mereka. Walau kadang Christy tak bisa membendung air matanya tapi dia selalu berusaha terlihat tegar dihadapan Willy yang sekarang tak mengenal siapa-siapa.
            “Dulu kita sering bercanda disini, bolos sekolah bareng dan yang pasti kita selalu menghabiskan waktu bersama-sama disini”.
            “…….” Willy hanya terdiam tak ingat apa-apa.
            “Ya Tuhan, Willy tak ingat sama sekali tentang siapa gue dan siapa kita, apa lagi perasaannya ke gue?” Gumamnya dalam hati sembari terus meneteskan airmatanya.
            “Christy? Jangan menangis, gue tau loe adalah sahabat yang terbaik yang pernah hadir dalam hidup gue, dan gue tau loe pasti sosok sahabat yang luar biasa. Walaupun sekarang gue gak ingat siapa loe”.
            “……..” Christy memeluk Willy dari belakang kursi rodanya sembari mengalirkan air matanya yang Nampak terharu mendengar kata-kata Willy.
………………………………………
                “Yaaaa,,,, Itulah kesalahan terbesar gue yang  pernah berburuk sangka dengan orang yang sangat mencintai gue, gue memang menyesal tapi penyesalan gue tidak akan pernah merubah takdir yang TUHAN berikan sama gue dan Willy, sekarang apa yang terjadi pada Willy gak mungkin gue ubah, dia lupa sama gue dan dia juga lupa dengan cintanya ke gue. Tapi It’s Okey…. Meski cintanya bukan cinta permanen tapi gue bahagia pernah dicintai olehnya dan gue lebih bahagia karena kita akhirnya tetap bersahabat yaaaa BERSAHABAT itu yang membuat hari itu  lebih Istimewa”.

The End……………………..

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"





Tidak ada komentar:

Posting Komentar