Bukan
Cinta Permanen
Pagi ini siswa kelas XII IPA a
SMA PUTRA PUTRI Bangsa mengadakan ulangan lisan mendadak untuk melatih
menghadapi Ujian Nasional mendatang, semua siswa kaget dan bingung. Mereka
membuka-buka buku MAPEL yang akan diujikan sembari menunggu giliran. Christy
dan Willy malah asik bermain lempar kertas yang diremas-remas menyerupai bola
kecil. Mereka terlihat santai dan cuek maklumlah Christy dan Willy terkenal
sebagai anak yang cerdas dan memiliki daya ingat yang luar biasa makanya mereka
tidak peduli mau ada ulangan mendadak ataupun tidak.
“Willy…” Ibu guru yang terlihat
masih berumur sekitar 25 tahunan itu memanggil Willy untuk maju kedepan
menghadapi pertanyaan pertanyaan darinya.
“Sukses ya Will!” Menepuk
pundak Willy.
“Pasti…” Dengan
santainya melangkahkan kaki yang bersepatu warna biru menuju meja guru.
10
pertanyaan mampu Willy jawab dengan benar dan sekarang giliran Christy.
Wajahnya tidak menampakkan rasa takut sama sekali. Yaa.. Karena ulangan seperti
ini Christy tidak pernah mendapatkan nilai dibawah 100.
“Kamu siap
Christy?” Tanya Ibu guru sembari membolak balik buku mencari soal untuk
Christy.
“Siap!”
Dengan tegas Christy menjawabnya.
“9
Pertanyaan sudah kamu jawab dengan tepat, sekarang pertanyaan terakhir, dan ini
sangat mudah. Disini siapa yang berperan sebagai Konsumen III?” Memperlihatkan
gambar rumput, belalang, katak, ular dan jamur.
Mendengar
pertanyaan itu Christy nampaknya bisa menjawab dengan mudah, namun apa yang
terjadi?
“Belalaaaaaaang”. Willy dengan sengaja melempar Belalang mainannya dari plastic tepat mengenai tangan Christy. Alhasil Christy berteriak.
“Belalaaaaaaang”. Willy dengan sengaja melempar Belalang mainannya dari plastic tepat mengenai tangan Christy. Alhasil Christy berteriak.
“Belalang????”
Ibu guru yang mendengar jawaban Christy langsung kaget dan mempersilakan
Christy untuk duduk kembali.
Alhasil
Christy hanya bisa menjawab 9 pertanyaan dan Willy cengengesan menertawakan
Christy, wajah Christy nampaknya sangat kesal dengan ulah Willy.
“Jail
banget!!!” Geregetan dan hampir menonjok muka Willy.
“Eiits….”
Willy terus menertawakan Christy.
“Baik
anak-anak, sekarang kalian boleh istirahat”.
Para siswa
berlari menuju kantin dengan sigap.
“Kali ini
yang harus nraktir kayaknya Christy si cewek jutek”. Meledek Christy.
“Gak mau”.
Cemberut.
“Kok gak
mau? Ini kan sudah perjanjian, Chris”.
“Tapi kan
loe curang”. Melototi Willy.
“Gak papa
kali, Chriiiiis”. Mengusap muka Christy dengan telapak tangannya.
“Iwwhhh
bau’…” Menyingkirkan tangan Willy.
“Ahhh enggak”.
Mencium tangannya sendiri.
“Gue mau pulang!” Menarik Tasnya
yang ada diatas meja.
“Lohh, kok
pulang sich, jangan donk!”
“Mau ikut
apa gak?” Memandangi Willy kesal.
“Ikut
ikut”. Membopong Tasnya dan mengikuti Christy.
Begitulah
ulah mereka setiap hari, mengikuti pelajaran hanya sampai ditengah-tengah.
Kecerdasan mereka mungkin kelewat batas jadinya guru yang menegurnya pun selalu
kalah dengan kata-kata cerdas dari mulut mereka, badung sich tapi tidak pernah
mendapat nilai jelek sama sekali.
SKIP………………………………………………..
“Loe mau
ketemu siapa disini, Chris?” Memburu pemandangan sekitar.
“Pacar?”
Santai.
“BhEEpb
ebbbh,, hahaha pacar?” Menertawakan
Christy meledek.
“Kok ketawa
sich!” Kesal.
“Sejak
kapan loe pacar baru sejak si Chrisjon
yang plaboy itu mutusin loe?”
“Namanya
Christian buat Chrisjon”. Tambah kesal.
“Ya
terserah gue donk! Ehh ehh ngomong-ngomong siapa sich pacar baru loe itu?”
Berjalan sedikit tertinggal oleh langkah Christy.
“Liat aja
ntar!” Terus melangkah mencari keberadaan pacarnya.
“Chris,
Chris, kenapa loe bengong?”
Tanpa
berkata-kata lagi Christy berlari meninggalkan tempat itu.
“Wahhh
pasti gara-gara cowok itu tu”. Menunjuk ketua genk motor yang sedang bermesraan
dengan cewek.
“DUaaagh,,,
loe jangan mainin Christy ya?!!!” Willy lalu menghampiri cowok itu dan
memukulnya.
“Stop-stop!!!
Willy apa-apaan ini?” Kak Dinda yang tak sengaja lewat langsung menghentikan
perkelahian itu.
Cowok yang
dipukuli Willy langsung berlari bersama ceweknya menjauh dari tempat itu.
“Seharusnya
kakak tidak menghentikannya tadi”.
“Willy,,
terjadi apa lagi dengan Christy? Apa itu cowok yang ke 5 yang loe pukul
gara-gara menyakiti Christy? Kalau emang itu benar kakak berterima kasih sama
loe, tapi ini bahaya buat loe, Will”.
“Willy gak
peduli kak, Willy Cuma mau ngasih pelajaran buat semua cowok yang sudah
nyakitin Christy, biar mereka tau kalau Christy tidak sepantasnya dibuat
mainan”.
“Kalau
mereka semua akhirnya balas dendam sama loe gimana coba? Loe kan bisa babak
belur dikroyok sama semua mantan-mantan Christy”.
“Willy gak
takut kak”.
“Ya sudah
sekarang kita cari Christy terus pulang”.
“Hmmmm
Hmmm”. Willy mengangguk.
SKIP……………………………………………………..
“Berapa
kali kakak bilang, gak usah gampang percaya sama sembarang cowok, akhirnya gini
kan? Loe sakit hati lagi”.
“Christy
Cuma mau punya pacar aja kak, biar gak diremehin sama Willy”.
“Emang
Willy ngremehin gimana?”
“Katanya
Christy itu cewek jutek yang gak mungkin punya cowok, tapi nyatanya mantan
Christy banyak kan kak? ganteng-ganteng pula walau yang bertahan lama Cuma satu
bulan”.
“Hmmm,,
mungkin dia bercanda kali”.
“Mungkin”. Menganggukan
kepalanya.
“Ya sudah…
tidur sana. Besok kan harus berangkat kesekolah”.
“Iya kak”.
“Selamat
malam Christy”. Mengecup kening Christy.
“Selamat
malam juga kakak”. Memperhatikan Kakaknya yang mulai tak keliatan melewati
pintu kamarnya.
Keesokkan
harinya pagi-pagi sekali Willy mengahampiri Christy seperti biasa numpang
sarapan, karena masakan Kak Dinda sangat enak dan lezat untuk mengisi semangat
dipagi hari.
“Kak dinda
masak apa sekarang?” Dengan PeDenya duduk dimeja makan.
“Cuma nasi
goreng, kebetulan tadi kakak telat bangun jadi gak sempet bikin sarapan yang
macem-macem”.
“Walaupun
Cuma nasi goreng, kalau yang buat kak Dinda tu rasanya ISTIMEWA banget dech!
Coba aja kalau Christy bisa masak seenak kak Dinda, pasti aku mau nikah sama
dia”. Menyantap makanan yang disajikan kak Dinda didepannya.
“Yeee siapa
juga yang mau nikah sama loe”. Juteknya berlebihan.
“Emangnya
loe kira gue mau apa”. Jawab Willy
dengan mulut penuh nasi goreng buatan kak Dinda.
“Sudahh
sudahh, pagi-pagi sudah ribut. Habisin dulu sarapannya ntar telat”.
“Kak dinda
gak ikut sarapan?”
“Kakak
sarapannya ntar siang aja, lagian hari ini kakak libur kok”. Duduk menemani
mereka.
“Ya jelas
kak Dinda gak ikut makan lah, jatah makan kak Dinda dihabisin sama loe kan?”
Willy
memasang wajah bengong sembari melepas sendok dan membiarkan sendoknya nyangkut
dimulutnya.
“Hmmm,,,
Christy…” Mengusap-usap rambut Christy.
Selesai
sarapan mereka langsung berangkat sekolah, biasa jalan kaki niatnya sich agar
telat gitu biar seru katanya, Emang badung banget mereka.
Ditengah
jalan Christy melihat Robbi teman SMPnya dulu.
“Christy
ya???”
“Loe siapa
ya?” Christy sedikit lupa dengan wajah teman SMPnya itu.
“Gue Robbi,
temen SMP loe dulu. Ingat kan?”
“Robbi??? Loe
jadi secakep ini? Emang sich loe dulu cakep tapi gak secakep sekarang, sekolah
dimana loe?”
“Gue? Kebetulan
gue sekolah di Inggris, yaahh Papa Mama gue kan udah menetap disana, gue
sekarang lagi liburan aja dirumah nenek gue disini, loe makin cantik aja”.
“Maaciiyyhhh”.
“Ayo Chris,
ntar kita telat loh!” Menarik Christy yang nampaknya keliatan cemburrruu.
“Sejak
kapan loe peduli telat atau gak? Biasanya juga kita gak pernah mikirin itu kan?”
Jawab Christy.
“Udah ayooo!!!”
Menarik Christy yang nampaknya tak mau buru-buru meninggalkan Robbi.
“Duluan ya
Robbi, nanti kita ngobrol lagi”.
“Okey, bay”.
“Siapa sich
dia?” Nada Kesal.
“Dia itu
temen SMP gue, Will, yahh dulu gue naksir sich sama dia, tapi karena gue kalah
cantik sama Sarah yang statusnya idola si SMP gue, jadi gue gagal buat dapetin
dia”.
“Terus
sekarang loe mau pacarin dia gitu?” Semakin kesal.
“Yaa kalau
bisa sich!”
“Loe itu
gak ada kapoknya ya pacaran? Padahal yang loe pilih tu ya satupun gak ada cowok
yang bener ”.
“Ya biarin
lah, dari pada loe? Gak pernah punya cewek satupun”.
“Gue
seperti ini karena gue cinta sama loe Chris, dan gue gak mau punya cewek selain
loe”. Gumamnya dalam hati.
“Yeee malah
bengong ayo jalan!”
SKIP……………………………………….
“Kak Dinda,
Christynya ada?” Dengan sopan.
“Baru aja
pergi”. Sembari membaca majalahnya.
“Malam-malam
kok baca majalah kak? Ohya Christy Sama siapa kak?”
“Ya nich,
lagi hobi ajha! Sama??? Siapa ya tadi… Robbi kayaknya Will”.
“Robbi??? Kakak
gak cegah?”
“Buat apa
kakak cegah Will? Kan mereka sudah pacaran”.
“Pacaran? Baru
2 hari ketemu udah pacaran?”
“Hmmm,,
setau kakak sich gitu?”
“Ya sudah
kak, Willy permisi dulu?”
“Iya Will”.
Belum
sempat melewati gerbang rumah Christy, Robbi dan Christy sudah kembali, Willy
yang melihat itu langsung melemparkan tubuhnya ke semak-semak dekat gerbang
rumah. Setelah Robbi keluar dari halaman rumah Christy, Willy mengikutinya. Mungkin
karena rasa curiga yang mendalam yang merasuki hati Willy. Dilihat dari
penamplannya Willy menilai kalau Robbi bukan cowok baik-baik.
Ya memang
betul adanya, Robbi adalah segerombolan remaja yang berada dilingkungan para
pecandu obat-obatan terlarang, Robbi juga termasuk pengedarnya. Mengetahui hal tersebut,
Willy akan bertindak tegas kepada cowok yang bernama Robbi itu.
“Chris,
Robbi itu cowok gak bener, loe putusin aja dia”.
“Loe iri
kan sama gue, Will?”
“Iri?? Ya gak
lah Chris, loe itu sahabat gue, gue gak mau sahabat gue salah pilih”.
“Kali ini
loe gak usah ikut campur urusan gue, atau capek-capek nyuruh gue buat putusin
Robbi, karena itu gak akan pernah mungkin”.
Keesokkan
harinya Willy menemui Robbi.
“Gue minta loe
putusin Christy sekarang juga dan jangan pernah ganggu dia!”
“Loe
siapanya Christy berani nyuruh gue buat mutusin dia?”
“Gue
sahabatnya, kalau loe gak mutusin Christy nasib loe bakalan sama, sama
mantan-mantanya Christy”. Sekejab tangannya berubah menjadi pukulan yang siap
diluncurkan.
“Willy????”
“Christy?” Belum
sempat mendaratkan pukulannya Christy sudah menghalanginya.
“Jadi? Semua
mantan-mantan gue itu loe yang bikin mereka mutusin gue? Loe tega ya Will
nyakitin hati gue, loe boleh jailin gue, loe boleh bersaing sama gue, tapi
tidak dengan mainin perasaan gue”.
“Chris, Semuanya
gak seperti yang loe lihat, loe salah paham Chris, gue bisa kok jelasin
semuanya”.
“Gak perlu,
ayo Robbi. KITA PERGI dari SINI”.
“Chris,
Tunggu! Ach!!!” Menendang kaleng yang berada dibawahnya.
Sejak
kejadian itu Christy tidak lagi mau menemui Willy, Willy selalu berusaha
mendekat dan menjelaskan semuanya tapi Christy tidak memberikan kesempatan
berbicara sama sekali kepada Willy.
“Willy
kenapa akhir-akhir ini dia tidak pernah sarapan disini lagi?” Menyiapkan
sarapan pagi dimeja makan.
“Tau diri
kali dia kak”.
“Maksud loe
apa, Chris?”
“Ternyata
yang bikin mantan-mantan gue mutusin gue itu Willy kak, ini semua ulah dia”.
“Willy? Loe
gak salah?”
“Gak kak”.
“Setahu
kakak Willy itu baik dan sangat peduli sama perasaan loe”.
“Gue kira
juga gitu kak, tapi apa yang gue lihat dan gue denger Willy lah yang bikin
semuanya mutusin gue, kemaren dia nyuruh Robbi buat mutusin gue kak”.
“Masak
sich? Pasti Willy punya alasan melakukan itu semua”. Menyodorkan piring
mendekati Christy.
“Christy!”
Willy tiba-tiba datang.
“Ya udah
kak, Christy berangkat dulu”.
“Loeehh
habisin dulu sarapanya, belum juga dimakan”.
“Christy
buru-buru kak!” Berdiri meninggalkan kursi yang semula dia duduki.
“Chris,
Christy!” Mengejar Christy.
“Willy
tunggu! Gue tau semuanya itu salah paham. Apa yang Christy katakan tentang loe ke
gue itu salah”. Menghentikan langkah Willy.
“Iya kak,
tapi Christy tidak pernah mau memberikan sedikit waktu buat gue jelasin
semuanya”. Mendekati Dinda.
“Kenapa loe
nyuruh Robbi mutusin Christy?”
“Robbi
pecandu dan pengedar narkoba dikalangan pelajar kak, gue melihatnya sendiri”.
“Will, Loe
cinta kan sama Christy? Gue bisa ngerasain betapa besar cinta loe sama Christy,
setelah apa yang loe lakuin ke Christy selama ini. Semuanya udah buktiin kalau
kepedulian loe ke Christy itu lebih dari sahabat”.
“Willy
emang cinta kak sama Christy, tapi Christy hanya menganggap Willy sebagai
seorang sahabat. Bukannya gue gak berani ngungkapin kak, tapi karena gue
menghargai persahabatan kita, gue gak mau persahabat kita jadi hancur kalau
Christy tau gue mencintainya”.
“Jangan
pernah takut ngungkapin perasaan loe,, apapun yang terjadi nanti yang penting
loe udah jujur sama perasaan loe, gue yakin kalaupun Christy akan menolak loe
dia pasti akan menghargai perasaan loe, tapi kakak tau betul apa yang akan
terlontar dari mulut Christy kalau loe bilang cinta ke dia”.
“Apa kak?”
“Dia akan
bilang kalau dia juga mencintai loe”.
“Sungguh
itu kak?”
“Hmm hMmm…
Matanya gak pernah bisa bohong, dan gue ini kakak kandungnya gue tau apa yang
ada dalam hatinya”.
“Kalau gitu
Willy kejar Christy, kak”.
“Good Luck!”
“Makasih
kak!!!”
“…..” Kak
Dinda tersenyum.
Ditengah
perjalanan langkah Willy dihentikan oleh segerombolan cowok-cowok yang tak lain
adalah mantan-mantan Christy yang diketuai oleh Robbi. Mereka membalas pukulan
Willy yang mendarat dimuka mereka. Willy akhirnya babak belur dan tidak
sadarkan diri. Willy dibuang ke sungai yang airnya sudah nampak kering, hanya
bebatuan yang ada disana.
SKIP…………………………….
Pulang
sekolah Christy Nampak sedih dan memeluk Dinda dengan wajah basah yang tak lain
adalah air matanya sendiri.
“Kakak….”
“Christy,
loe kenapa sayang?”
“Ternyata
Robbi pecandu dan mengedar obat-obatan terlarang kak, Christy mutusin dia tadi”.
“Bagus donk
kalau kamu sudah tau”.
“Tapi yang
Christy sesali tu Christy udah salah sangka sama Willy kak”.
“Sudah-sudah,
sekarang kamu duduk dulu kakak ambilin minum”.
“Kak, Apa
Willy akan memaafkan Christy kalau Christy minta maaf sama dia kak?”
“Daahhh,
minum dulu ya?” Menyodorkan segelas air putih.
“ Willy sekarang sedang dirawat
dirumah sakit”.
“Apa???”
“Iyaaa, tadi pagi setelah dari
sini dia ingin nyatain perasaannya ke loe, Chris. Dan ditengah jalan dia
digebukin sama Robbi dan Mantan-mantan loe yang lainnya. Hehh… Ini yang kakak
takutin,, Willy dikroyok sama semua orang yang sudah pernah dia pukul karena
nyakitin loe”. Mendekap wajah Christy dengan kedua tangannya.
“Willy
ngelakuin itu kak?”
“Hmmm Hmmmm”.
Mengangguk.
“Antar
Christy ke Rumah sakit sekarang kak!”
“Hmmm…”
Mengangguk.
Sampai
dirumah sakit Christy hanya bisa melihat Willy dari balik kaca jendela, Tubuh
Willy penuh dengan balutan perban yang berhiaskan darahnya sendiri. Christy
yang melihatnya Nampak tak tega dan terus meneteskan air matanya yang tak
habis-habis.
“Kata
dokter kalau Willy sadar dia tidak akan ingat apa-apa”.
“Benarkah
itu tante?” Air matanya kian deras.
“Iya,
Chris. Tante juga sedih mendengarnya”.
“………”
Menjatuhkan tubuhnya kedekapan Dinda.
“Sabar…”
Memeluk erat Christy.
Setelah
Willy sadar semuanya berada disamping Willy. Namun Willy tak mengenali semua
yang ada disitu, satu persatu Mama Willy memperkenalkan anggota keluargannya,
mengenalkan Dinda dan tak ketinggalan cewek jutek yang selalu menemaninya
setiap waktu yaitu Christy.
Tapi Willy
tak bisa mengingat mereka sama sekali. Christy memang tak sanggup menerima
semua itu apalagi ternyata Christy juga mencintai Willy. Namun kak Dinda selalu
membuat Christy kuat menghadapi semua itu.
“Tante,
Christy boleh kan mengajak Willy jalan-jalan?”
“Boleehhh,
silakan”.
Willy duduk
lemas bersandar dikursi rodanya, Christy dengan penuh semangat mendorong Willy
menikmati indahnya pemandangan disekitar mereka. Walau kadang Christy tak bisa
membendung air matanya tapi dia selalu berusaha terlihat tegar dihadapan Willy
yang sekarang tak mengenal siapa-siapa.
“Dulu kita
sering bercanda disini, bolos sekolah bareng dan yang pasti kita selalu
menghabiskan waktu bersama-sama disini”.
“…….” Willy
hanya terdiam tak ingat apa-apa.
“Ya Tuhan,
Willy tak ingat sama sekali tentang siapa gue dan siapa kita, apa lagi
perasaannya ke gue?” Gumamnya dalam hati sembari terus meneteskan airmatanya.
“Christy? Jangan
menangis, gue tau loe adalah sahabat yang terbaik yang pernah hadir dalam hidup
gue, dan gue tau loe pasti sosok sahabat yang luar biasa. Walaupun sekarang gue
gak ingat siapa loe”.
“……..”
Christy memeluk Willy dari belakang kursi rodanya sembari mengalirkan air
matanya yang Nampak terharu mendengar kata-kata Willy.
………………………………………
“Yaaaa,,,, Itulah kesalahan terbesar
gue yang pernah berburuk sangka dengan orang
yang sangat mencintai gue, gue memang menyesal tapi penyesalan gue tidak akan
pernah merubah takdir yang TUHAN berikan sama gue dan Willy, sekarang apa yang
terjadi pada Willy gak mungkin gue ubah, dia lupa sama gue dan dia juga lupa
dengan cintanya ke gue. Tapi It’s Okey…. Meski cintanya bukan cinta permanen
tapi gue bahagia pernah dicintai olehnya dan gue lebih bahagia karena kita
akhirnya tetap bersahabat yaaaa BERSAHABAT itu yang membuat hari itu lebih Istimewa”.
The End……………………..
"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"
penulis
: Isthie Olivia Offiziellen (@Istyii_Bvorzugt)

