Sabtu, 17 Agustus 2013

Janji Tiga Jari



          Seluruh siswa Sekolah Menengah Atas hari ini akan menerima pengumuman hasil Ujian Nasional mereka yang dilaksanakan beberapa minggu yang lalu. Semua siswa  hatinya tidak karuan dan takut apabila kertas yang beramplop putih itu bertuliskan kata buruk “Tidak Lulus”.
          Berbeda dengan siswa yang lainnya, Anisa justru santai dan tenang-tenang saja menunggu kepulangan Mamanya yang berada didalam kelasnya. Anisa duduk santai ditaman sekolahnya sembari bermain game yang ada di Ipad hadiah dari Ayahnya semester yang lalu karena menjadi bintang disekolahnya.
          “Nisa, mana Ayah kamu? Apa sudah datang kesini?” Tanya Kezia yang Nampak takut kalau orang tuanya tidak datang.
          “Bukan Ayah yang datang, tapi Mama”. Tak menoleh sedikitpun ke Kezia karena asik bermain game kesukaannya.
          “Memangnya Ayah kamu kemana? Untung Mama kamu datang. Sedang aku? Papa dan Mamaku tidak tau akan datang atau tidak”. Duduk mendekati Anisa.
          “Aku juga tidak mengharap Mama datang. Lebih baik hasil kelulusanku tidak diambil dari pada disentuh Mama”. Tetap asik memainkan Ipad nya.
          “Nis, rubah donk sikap kamu sama Mama kamu. Kamu beruntung masih punya Mama yang sangat perhatian sama kamu”.
          “Aku tidak minta kehadiran Mama dihadapanku”. Berdiri menatap Kezia dengan marahnya, lalu meninggalkan Keizha.
          “Nis… Kok marah sich!”
          “Nisaaa!” Berpapasan dan menghentikan langkah Anisa.
          “Alan?” memandang wajah Alan yang lebih tinggi dirinya.
          “Kamu sudah menerima hasilnya?”
          “Belum, Al”. Melanjutkan langkahnya.
          “Loh, semua orang tua murid kan sudah pulang”. Mengikuti langkah Anisa.
          “Mungkin Mamaku juga sudah pulang tanpa memberitauku”.
          “Pasti Mama kamu ingin memberi kejutan buat kamu”.
          “Lohh, Papaku kan belum datang kok sudah pada pulang sich? Lalu hasil punya aku gimana?” Sambung Kezia.
          Tanpa menghiraukan Kezia Alan dan Anisa pergi meninggalkannya sendiri dibawah pohon rindang yang amat sangat sejuk bila duduk dibawahnya. Mereka menuju rumah Anisa.
          “Nisaa, ini hasil ujian kamu sayang”. Menyodorkan amplop putih yang ukuranya tidak terlalu besar.
          “Aku mau Ayah yang ngambilin Ma, bukan Mama”. Mehempas tangan Mamanya hingga amplop itu terjatuh dan melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Mamanya.
          “Tante, sabar ya? Mungkin Anisa belum bisa menerima kehadiran tante untuk menggantikan posisi Bundanya dalam hatinya”.
          “Tante tau Al, tante memang tidak bisa menggantikan Bundanya tapi tante Cuma mau Anisaa sayang dan tidak kasar sama Tante”.
          “Alan ngerti kok Tan, sabar ya?”
          “Ya sudah kamu susul Anisa sana!”
          “Emmm Alan ada janji sama Mama Alan tante, Alan permisi dulu tante”.
          “Iya Alan, terimakasih ya sudah mengantarkan Anisa sampai rumah”.
          “Sama-sama Tante, ini sudah kewajiban Alan kok”.
          “Alan? Mau pulang?” Tanya Gigi yang baru pulang dari rumah temannya.
          “Iya Gi, duluan ya?”
          “Ohh, Iya.. hati-hati ya?”
          “Okey!”
          “Mama kenapa? Mama nangis?” Menegakkan wajah Mamanya.
          “Emmm tidak, tadi hanya kelilipan waktu duduk didepan rumah”. Membersihkan air mata yang belum sempat terjatuh sampai dipipinya.
          “Mama jangan bohong sama Gigi”.
          “Mama gak bohong”.
          “Pasti gara-gara Anisa kan?” Nampak ingin melabrak Anisa yang sekarang sedang ada dikamar.
          “Tidak Gi, tidak”. Mencoba menghalangi Gigi.
          “Biar Gigi kasih pelajaran sama dia, Ma”.
          “Jangan!” Melarang namun tak bisa menghentikan niat Gigi.
          “Brak brak brak”. Dengan kasar Gigi menggebrak-gebrak pintu kamar Anisa.
          “Buka Nis!”
          “Apaan sich Gi, aku capek mau istirahat”. Membukakan pintu.
          “Kapan sich kamu akan bisa menghargai Mama?”
          “Sepertinya tidak akan pernah”. Kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.
          “Nis, Buka!” menggedor-gedor pintu dengan keras.
          “Apa lagi sich, Gi. Aku kan udah bilang aku mau istirahat”. Membuka pintu.
          “Sini!” menarik Anisa keluar dari kamar yang tadi berada dibalik dipintu kamar yang sedikit terbuka.
          “Lepas. Sakit tau’, kenceng banget sich pegangnya”. Menghempaskan tangannya yang dipegang erat oleh Gigi.
          “Kamu boleh benci sama aku dan tidak menerima aku disini, tapi tolong! Jangan sakiti Mama”.
          “Gi, asal kamu tau! Gara-gara kamu dan Mama kamu yang tidak tau diri itu Bunda jadi pergi. Aku harus baik sama kalian? Tidak akan pernah”. Kembali masuk kamar dan mengunci pintu.
          “Nis Anisaaa… buka! Uuuchh..” menendang pintu kamar karena kesal tidak dibukakan.
          Mama mereka hanya melihat pertengkaran kedua anaknya itu dari bawah. Sembari mengelus-elus dadanya.

SKIP…………………………………………

          “Nis, aku mau ngomong sama kamu”. Berdiri didepan pintu rumah Anisa.
          “Mau ngomong disini atau diluar?” Saut Anisa yang baru saja keluar dari rumah mewahnya.
          “Kita ngomong ditaman saja ya?”
          “Oke, tapi aku ganti baju dulu ya?” Melangkahkan kaki jenjangnya kedalam rumah.
          “Okee”. Aku tunggu disini ya?” Duduk dikursi yang berada diteras.
          Anisa kelihatan cantik malam itu, rambutnya panjang hitam terurai dan memakai gaun warna merah muda yang membuatnya menjadi lebih istimewa dihadapan Alan. Mereka pun jalan menuju taman dengan mobil Alan yang cukup mewah. Belinya saja diluar negeri dan harganya pun pasti sangat mahal.
          “Kamu Lulus kan?” Tanya Alan setelah duduk ditempat yang mereka anggap special.
          “Iya donk, masak gak sich!” Sembari memakan donat yang diatasnya terhiasi oleh seres berwarna warni dan parutan keju yang nampaknya sangat lezat ia santap.
“Kemana kamu akan melanjutkan sekolah?” Menyodorkan jus sirsak karena melihat Anisa yang Nampak kualahan menelan donatnya.
          “Aku??? Sepertinya aku akan focus sama usaha Bundaku”. Mendekatkan gelas berisi jus ke mulutnya dan meminumnya pelan-pelan.
          “Kamu tidak akan melanjutkan ke Universitas impian kamu?”
          “Tidak Al, dulu aku sangat bermimpi bisa menjadi dokter seperti Ayah, tapi aku mengurungkan niatku”. Memungut satu persatu seres dan memasukkan kedalam mulutnya.
          “Kenapa?” Menyodorkan tisu ke Anisa yang sedang asik memakan donat sampai tak sadar kalau mulutnya belepotan.
          “Eiii Thanks, Emm Pekerjaan Ayah memang mulia tapi Ayah melupakan kewajibanya sebagai seorang Ayah untuk anaknya. Itu yang membuat aku benci dengan pekerjaan itu”. Sembari membersihkan sisa seres yang mengotori mulutnya.
          “Semoga kamu tidak sungguh-sungguh mengatakan itu Nis”.
          “Hmmm, aku sungguh-sungguh”. Menghentikan gerak tangannya dan menatap Alan.
          “Bukanya resto bunda kamu sudah diurus sama Mama kamu?”
          “Aku tidak mau usaha Bunda dikotori sama Mama, lalu kamu sendiri akan meneruskan kemana?” Pandangannya kembali terpaku ke seres yang berada diatas donatnya.
          “Itu yang ingin aku bicarakan sekarang, Nis”.
          “Bicara saja”. Tetap asik berburu seres yang menempel erat diatas donat berukuran sedang.
          “Orang tuaku akan mengirim aku ke Canada”.
          “Canada? Sejauh itu?” sejenak menghentikan perburuannya diatas donat lalu kembali memakan seres yang ia dapat ditangannya.
          “Iya Nis”.
          “Kenapa tidak di Indonesia saja? Kampus disini kan tidak kalah sama kampus-kampus diluar negeri”. Kali ini donatnya habis, Anisa focus memandang wajah Alan.
          “Ya itulah Nis yang membuat aku berat mengatakannya padamu. Papa dan Mama juga akan pindah kesana, kebetulan perusahaan mereka juga banyak disana yang belum mereka urus”.
          “Lalu kamu akan meninggalkanku?” Menatap mata Alan yang nampaknya sedang tidak main-main.
          “Aku pasti akan kembali kesini dan menjemputmu, Nis”. Mendekap kedua pipi Anisa dengan tangan hangatnya.
          “Apakah akan berakhir disini cinta kita Al?” Matanya mulai berkaca-kaca.
          “Tidak Nis, aku berjanji padamu aku akan kembali untuk menyambung cinta kita yang nampaknya akan lama kita abaikan”. Menghapus air mata Anisa yang mengalir dari lubang matanya.
          “Janji? Jangan bohong padaku Al?” Menyentuh erat tangan Alan yang masih bersandar dipipinya.
          “Aku takkan bohong Nis, karena aku sangat mencintaimu”.
          “Aku berjanji akan menunggumu Al, dan menutup hatiku untuk cowok selain kamu, aku juga sangat mencintaimu”.
          “Jaga diri baik-baik ya sayang selama tidak ada aku disini”. Memeluk Anisa.
          “Kamu juga”. Membalas pelukkan Alan.
          Alan meneruskan kuliahnya jauh dari Negara kita, sedangkan Anisa bekerja meneruskan usaha Restoran yang tak lain adalah peninggalan Bundanya. Mereka sudah berpisah 5 tahun lamanya, tak satu kalipun Alan menengok dan menanyakan keadaan Anisa.
          “Nisa, besok bantu Ayah kebetulan daftar pasien Ayah meningkat pesat”. Sembari menyiapkan alat-alat kedokteran kedalam tasnya.
          “Itu karena penyakit yang akhir-akhir ini mewabah dikota kita ya Yah?” Memakaikan jas putih Ayahnya.
          “Sepertinya begitu, Nis”. Menatap Anisa sejenak.
          “Lalu Restoran Nisa gimana Yah?” Merapikan Jas yang sudah terpasang ditubuh Ayahnya.
          “Biar Mama yang ngurus untuk minggu-minggu ini”.
          “Baiklah, Yah”.
          “Tumben mau nerima Mama”. Ledek Gigi yang sedang asik memainkan remot TVnya.
          “Sudah!” Sahut Ayah.

SKIP…………………………………………………
         
          “Nisa tolong ambilkan tas ayah diruangan Ayah”. Sibuk memeriksa pasien.
          “Ini Yah, Yah Nisa capek. Nisa mau cari makan dulu ya?”
          “Kamu kembali saja ke restoran, Nis, Papa sudah selesai kok. Sekalian makan disana”.
          “Okey Yah”. Sembari memberikan tas milik ayahnya.
          Anisa yang terlihat kelelahan berjalan keluar tiba-tiba menabrak seorang cewek, yang tingginya tak lebih tinggi dari Anisa.
          “Aaaauuuu”.
          “Maaf… maaf”. Membereskan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.
          “Anisa?” Memperhatikan Anisa yang Nampak sibuk membereskan apa yang telah dia jatuhkan.
          “Christy?” Menoleh dan menghentikan gerak tangannya.
          “Apa kabar, Nis?”
          “Kabar aku Istimewa Chris, kamu sendiri?” Memberikan apa yang sudah dia rapikan.
          “Aku juga Istimewa donk!”
          “Kamu kerja disini?”
          “Iya, aku baru sampai. Dan sepertinya aku mulai bekerja besok”.
          “Kalau begitu kita makan siank yuk! Aku traktir dech!”
          “Dengan senang hati”.

SKIP…………………………………………………………………

          “Kezia, keluarkan menu yang paling enak disini”.
          “Siap Boz Nisa”.
          “Hahaha, Lebay kamu Ke”.
          “Ini restoran kamu Nis?”
          “Ya Ini peninggalan Bunda aku, Chris. Ohya kenalin ini Kezia teman SMA aku dan kita masih berteman sampai saat ini”. Memperkenalkan Kezia kepada Christy.
          “Bagus donk! Kalau punya teman yang sampai sejauh ini masih bareng”.
          “Dan Kezia ini Christy sahabat  kecil aku”.
          “Ohhh Christy yang sering diceritain sama kamu itu ya, Nis?” berjabat tangan dengan Christy.
          “Loh, Nisa sering cerita tentang aku ya? wahhhhh”
          “Iwh jadi Ge Er kan”. Tersenyum.
          “Hahaha…” Mereka tertawa serempak.
          “Ehhhh, berjabat tangan terus, makanan pesenan kita mana Ke?”
          “Ya Ampuunn, sampai lupa kan, tunggu-tunggu”.
          Sembari Kezia menyiapkan makanan, Anisa dan Christy mengobrolkan masa kecil mereka. Asik mengobrol tiba-tiba Hanphone Christy berbunyi.
          “Aku angkat dulu ya, Nis”.
          “Ohh iyaa”.
          “Ini makananya, Nis?” Merapikan makanan dimeja.
          “Makasih ya Ke”.
          “Iya aku kembali ke dapur dulu ya?”
          “Hallow? Sayang!”
          “Sayang kamu sekarang dimana?” Tanya seseorang yang menelfon Christy.
          “Aku ada direstoran Bunda Desy yang diseberang rumah sakit aku bekerja”.
          “Baik aku kesana ya?”
          “Iya sayang, aku tunggu. Hati-hati ya?” Menutup telfonya.
          “Siapa Chris?” Tanya Anisa yang mendengar percakapan mereka.
          “Cowok aku”.
          “Hmmmm… mentang-mentang udah punya cowok pantes aja gak pernah kabarin aku”.
          “Hee, bukan begitu Nis, aku gak kabarin kamu kan karena sibuk kuliah bukan karena cowok”.
          “Hmmmmm bisa aja ngelesnya, ya sudah ini makanannya udah dateng dimakan ya? Dijamin enakkk”. Memperlihatkan jempolnya yang mungil dihadapan Christy.
          “Okeey…  emmm ntar aku kenalin dech! Dia mau kesini kok, bentar lagi sampai”. Mencicipi makanan yang tertata rapi dimeja.
          “Enak kan?”
          “HhEmmmm enak-enak”.
          “Sayang!” Melambaikan tangan dari kejauhan.
          “Itu dia, hy sini sayang!”
          Saat Christy dan cowoknya saling cipika cipiki, Anisa memperhatikannya, nampaknya Anisa mengenal siapa cowok yang sedang bersama Christy itu.
          “Kenalin sayang ini Anisa sahabat kecil aku dulu”.
          “Alan…” Memperkenalkan diri dan memperhatikan Anisa dengan penuh rasa rindu.
          “Anisa..”  Menatap Alan dan matanya mulai berkaca-kaca.
          Mereka berdua pura-pura tidak saling mengenal, mungkin karena Alan yang sudah memiliki kekasih yang tak lain sahabat Anisa sendiri. Anisa Nampak sakit hati dan Alan merasa dirinya amat sangat bersalah.
          “Aaa.. aAaaku ketoilet bentar ya, Chris?” Dengan tergesa-gesa takut airmatanya jatuh dihadapan mereka berdua.
          “Jangan lama-lama, Nis. Alan, kamu mau pesan apa?”
          “Emmm,,, aaaku sudah makan tadi Chris”. Nampak gugup.
          “Kenapa sich Al? kok aneh gitu?” memperhatikan gerak gerik Alan yang tak seperti biasanya.
          “Emmmmm….. gaak papa Chris. Kita pulang aja yuk? Nanti sore kan kita mau beli perlengkapan kamu selama disini?”
          “Tapiiii….” Menunjuk kearah Anisa berlari.
          “Sudah Ayuk!” menarik Christy.
          Mereka meninggalkan restoran, sementara Anisa sedang menangis tersedu-sedu. Hatinya sakit dia merasa dikhianati oleh cowok yang sangat dia cintai. Sekian lama Anisa menunggu dan menutup hatinya untuk orang lain, terbalaskan pengkhianatan yang membuatnya begitu kecewa.

SKIP…………………………

          Hari ini Christy sudah mulai bekerja di Rumah sakit milik Ayah Anisa. Anisa melihat Christy yang turun dari mobil Alaan dan melihat mereka mesra sebelum berpisah. Hati Anisa hancur sangat-sangat hancur namun dia cukup pandai menyembunyikannya.
          “Hy Nis”.
          “Hy Chris”. Cium pipi kanan Cium pipi kiri.
          “Ohya ntar sore aku sama Alan mau pergi, kamu ikut ya?”
          Sejenak Anisa terdiam, sanggupkah Anisa melihat orang yang dia cintai bersama orang lain? Rasa-rasanya tidak.
          “Looh kok bengong”.
          “Emmm kalian berdua aja ya? Aku harus membantu Ayah kan?”
          “Alah… soal Om dedy mah gampang! Tenang aja biar aku yang minta ijin”.
          Jam kerja Christy selesai dan Christy menuju ruang Ayah Anisa, bertujuan ingin meminta ijin agar Anisa diperbolehkan ikut dengannya. Yahhh Ayah Anisa kan sudah cukup akrab dengan Christy. Jadi Anisa diperbolehkan untuk pulang terlebih dahulu.
          “Tukan apa aku bilang, diijinin kan?”
          “Tapi Chris. Nanti aku ganggu kalian lagi”.
          “Eiiitss. Ya tentu tidak lahh, Nis. Itu Alan sudah menunggu”.
          “Chris, aku gak ikut ya?”
          “Ayoooo!” menarik paksa Anisa
          Alan membukakan pintu mobil untuk Christy sementara Anisa membuka sendiri, Christy duduk didepan dengan Alan, sementara Anisa sendirian dibelakang. Alan Nampak takut karena merasa dirinya salah.
          “Nis, kita ke minimarket dulu ya? Aku mau beli pesanan Mama sama keperluan aku”. Menoleh kebelakang.
          “Iya Chris”. Jawab Anisa singkat.
          “Nanti jalan-jalannya setelah dari situ, sayang kok diem aja sich?”
          “Iya sayang, nanti kita jalan-jalan ya?” sedikit kaget karena telah focus melamun mikirin Anisa.
          Melihat kemesraan mereka Anisa seperti ingin menangis, untung air matanya mampu iya bendung walau nyaris menetes melewati bulu bawah matanya. Sampai ditempat perbelanjaan Anisa memilih untuk tetap dimobil karena takut hatinya akan semakin perih. Alan tau betul bagaimana perasaan Anisa, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa disitu. Selesai berbelanja mereka menuju pantai yang lumayan dekat dengan rumah Alan.
          “Nis, aku cari minum dulu ya?”
          “Iya Chris”.
          “Kalian disini saja jangan kemana-mana”. Meninggalkan Anisa berdua dengan Alan.
          “Kenapa kamu tega khianati aku?” tanya Anisa lirih.
          “Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu Nis, aku hanya tidak mampu membendung rasa cintaku pada Christy”.
          “Tapi kamu sudah janji kan sama aku akan menutup hati kamu untuk cewek lain?”
          “Iya Nis, tapi aku benar-benar tidak bisa. Aakuu akuu sayang sama Christy, dia baik dan perhatian sama aku”.
          “Aku tidak bisa menyalahkan kamu apalagi Christy, cinta memang munculnya tiba-tiba, aku hanya bisa berdoa semoga kalian bahagia, meski aku tidak akan pernah rela ”.
          “Nis, jujur aaku masih aku masiih cinta sama kamu”.
          “Tapi sekarang kamu milik Christy kan?”
          “Iii iiiyaa, tapiii aku aaku”.
          “Lagi ngmongin apaan sich serius amat, ni minum dulu! Ini buat Alan dan ini buat Anisa”. Memberikan minuman dingin kepada mereka berdua.

SKIP……………………………………………………….

          “Alan? Itu kan Alan? Kok sama Christy?” Kezia melihat Alan dan Christy yang keluar dari rumah sakit.
          “Ada apa, Ke?” Tanya Anisa menghampiri Kezia yang clingak-clinguk memperhatikan Alan dan Christy.
          “Itu Alan kan, Nis? Kapan dia kembali? Lalu kenapa dia bersama Christy?”
          “Mereka sekarang pacaran”.
          “Apa???”
          “Iya, Ke”.
          “Sabar ya, Nis?” Menyandarkan telapak tangannya dipundak Anisa, menenangkan.
          “Aku pulang dulu ya, Ke. Badanku tiba-tiba gak enak”.
          “Iya, Nis. Apa perlu aku antar?”
          “Jangan, jangan. Aku bisa sendiri kok”.
          Sampai dirumah Anisa jatuh pinsan tepat saat Mamanya mendekatinya.
          “Anisa,,, Ya Tuhan”. Mendekap tubuh Anisa yang terjatuh dipelukan Mamanya.
          “Gi, Gigi… bantuin Mama. Anisa pinsan”. Berteriak minta tolong.
          “Ada apa Ma? Anisaa!….” Membantu mamanya menidurkan Anisa disofa.
          “Ambil minyak putih, Gi. Cepat!” Panik.
          “Iya Ma”. Berlari terburu-buru mencari pesanan Mamanya itu.
          Setelah Mama Anisa berhasil menyadarkan Anisa. Anisa disuruh untuk istirahat dikamar dibantu oleh Gigi.
          “Makasih ya, Gi?” Berbaring ditempat tidur.
          “Kamu itu kecapean. Pagi siang malem kerja terus. Waktu istirahat saja nyaris tidak ada. Ya sudah kamu istirahat dulu!” Menutup tubuh Anisa dengan selimut tebal.
          “Anisa… kok bisa sampai pinsan sich?” Christy berlari dan mendarat dikasur Anisa.
          “Aku gak papa kok, Chris”.
          “Kamu kesini sama siapa?”
          “Aku kesini sama Alan, tapi dia langsung pulang. Katanya sich ada urusan yang penting”.
          “Sepenting itu kah urusan itu? Hingga tidak kesini untuk sekedar melihat keadaanku”. Gumamnya dalam hati.
          “Ya sudah kamu istirahat dulu ya? Aku janji nanti kalau kamu udah sehat aku mau ajak kamu jalan-jalan. Tapi sekarang Aku harus kembali ke Rumah sakit, cepet sembuh Nisa”.
          “Makasih ya Chris”.
          Selang beberapa menit Alan datang.
          “Tante, gimana keadaan Anisa?”
          “Alan… kapan kamu kembali? Anisa baik-baik saja hanya butuh istirahat”
          “sekitar satu bulan yang lalu tante, Alan boleh menengoknya?”
          “Tentu, silakan!”
          “Terimakasih tante”. Melangkahkan kaki Menuju kamar Anisa.
          “Anisa? Kamu tidak apa-apa?”
          “Alan? Aku baik-baik saja kok”. Membuka matanya.
          “Aku khawatir mendengar kabar kamu dari Christy”.
          “Kamu tidak datang kesini sama Christy?”
          “Tidak Nis, aku ingin lebih leluasa bicara padamu”.
          “Memangnya kamu mau bicara apa?”
          “Aku mau minta maaf sama kamu Nis, soal Christy. Tapi sungguh aku tidak bisa meninggalkannya”.
          “Apa kamu mencintainya lebih dari kamu mencintaiku?”
          “Nisa? Separuh hatiku masih berada dimasa lalu dan separuhnya lagi berisi cinta untuk Christy. Christy kehilangan tunangannya, Nis. Dan dia sahabatku dia meninggal karena kecelakaan dan Hatinya? Hatinya berada dihatiku, Nis. Dia mendonorkan hatinya untukku. Dan aku berjanji padanya akan mencintai Christy seperti dia mencintai Christy”. Menatap Christy.
          “Jadi???” Mata Anisa mulai berkaca-kaca.
          “Iya Nis, aku tidak bisa memberitau Christy tentang hubungan kita, aku tidak mau dia terluka untuk yang ke dua kalinya”.
          Anisa memeluk erat Alan dan meneteskan air mata dipundak Alan. Hatinya begitu sakit bagai diiris-iris pisau yang sangat tajam. Beberapa hari kemudian Christy mengajak Anisa jalan-jalan tanpa Alan.
          “Kita mau kemana, Chris?”
          “Seperti janjiku kemarin kalau kamu sudah sehat aku mau mengajak kamu jalan-jalan”.
          “Kalau gitu kali ini biar aku yang nyetir ya?”
          “Eiiiitss jangan kan kamu baru aja sembuh, bahaya”.
          “Yeee tenang aja aku udah sehat kok”.
          “Bener ya?”
          “Udah tenang aja”.
          “Oke, yuk jalan”.
          “Siiiiaapph”.
          Ditengah jalan mobil mereka oleng karena menghindari laju motor yang ugal-ugalan. Tak disangka dari arah berlawanan ada sebuah Truk yang melaju kencang. Alhasil mobil mereka beradu dengan mobil Truk itu.
          “Awas Niiiisssss….” Teriak Christy dari dalam mobil.
          “Aaaaaaaa” anisa kaget dan tiba-tiba mereka tidak sadarkan diri.
          Mereka dibawa kerumah sakit terdekat oleh warga sekitar nampak darah merah memenuhi sekujur tubuh mereka.
          “Bagaimana keadaan Christy dan Anisa Tante?” Tanyanya kepada Mama Anisa yang sudah dulu sampai dirumah sakit”.
          “Tante belum tau Al”. Sedih.
          “Ya Tuhan, selamatkan mereka”.
          “Mama, bagaimana keadaan Anisa Ma?”
          “Mama tidak tau Yah”.
          “Kita doakan saja Anisa sama Christy Yah. Mama sabar ya? Alan, kamu sudah telfon orang tua Christy?”
          “Sudah, mereka sedang menuju kesini”.
          “Bagaimana Christy Alan?” Tanya Papa Christy yang baru saja sampai.
          “Alan belum tau Om”.
          Dokter yang memeriksa sudah keluar dari ruang dimana Christy dan Anisa dirawat.
          “Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya ayah Anisa.
          “Dokter Dady. Anak anda baik-baik saja”.
          “Syukurlah”. Serempak.
          “Tapi Pasien yang bernama Christy kakinya mengalami patah tulang. Sehingga dia dinyatakan lumpuh”.
          “Apa, Dok? Lumpuh???” Tanya Alan kaget.
          “Anakku lumpuh? Tapi bisa sembuh kan, Dok?”
          “Kemungkinan sembuh sangat tipis pak,ya sudah saya permisi dulu”.
          “SAbar ya”. Ayah Anisa menguatkan Papa Christy.
          Mereka menengok Anisa dan Christy yang masih tertidur. Sementara Papa Christy menyelesaikan administrasi.
          “Alan, Om sama tante pulang dulu ya? Kami titip Anisa”
          “Baik Om, tante”.
          “Aku juga pulang, jaga Anisa ya Al?” meninggalkan ruangan.
          “Iya Gi”. Mengangguk.
          “Anisa? Kamu sudah sadar?”
          “Aku dimana Al?” memegangi kepalanya yang terasa pusing.
          “Kalian kecelakaan”.
          “Christy… Christy mana Al?” mencoba membangunkan tubuhnya yang masih lemah.
          “Ssssst, jangan banyak gerak dulu”. Memegangi Anisa dan menidurkannya kembali.
          “Aku ingin melihat Christy, Al”.
          “Baiklah, aku bantu Nis”. Membantu Anisa berdiri dan berjalan mendekati Christy yang berada disampingnya dengan dibatasi korden warna biru.
          “Christy gak apa-apa kan Al?”
          “Alan hanya diam tanpa kata”.
          “Jawab Al?”
          “Christy lumpuh Nis”.
          “Apa?????” meneteskan cairan putih bening memeluk Christy yang masih terpejam.
          Beberapa jam kemudian Christy sadarkan diri. Papa Christy, Anisa dan Alan telah siap sedia berada disamping Christy.
          “Papa, Anisa, Alan? Ada apa ini? Aku dimana?” Wajahnya Nampak bingung.
          “Kamu dirumah sakit, nak”.
          “Christy kenapa pa?”
          “Kamu kecelakaan”. Tak kuasa menahan airmata.
          “Papa kenapa menangis? Anisa??? Kamu baik-baik saja kan?”
          “Aku baik-baik saja, Chris”.
          “Kakiku… kenapa kakiku Pa?” Mencoba menggerakkan kakinya namun tidak bisa bergerak.
          “Sabar Chris”. Anisa memeluk Christy yang terus berusaha menggerakkan kakinya.
          “Kaki kamu lumpuh, Nak”. Terus menangis.
          “Kakiiikuuu…. Kakiikuu lumpuh, Kakikuu tidak berguna lagi. Kaak kaakkiikuuuuu”. Berteriak sembari menangis.
          “Christy… Christy.. dengarin aku! Christy…” memeluk erat Christy.
          “Kakiiikiiii tidak bergunaaa, aku lumpuuhhh”. Memukul-mukul kakinya yang tidak bisa merasakan apa-apa.
          “Chris…. Dengerin aku Chris”.
          “Aku lumpuuhhh”. Terus meneteskan air mata kesedihan.
          “Christy… denger! Kamu masih punya kaki Chris”. Memeluk Christy lebih erat.
          “Tapi kakiku sudah tidak berguna, Nis”.
          “Kamu masih punya kaki, aku siap menjadi kakimu, Chris”. Saut Alan yang duduk didekat Christy.
          “Aku juga Chris, kami janji akan menemanimu kemanapun kamu mau”.
          Keesokkan harinya Christy dan Anisa sudah boleh meninggalkan Rumah Sakit. Alan terus menemani mereka. Untuk menghilangkan rasa sedih Christy, Anisa berniat mengajaknya berlibur Ke Villa milik Ayahnya. Mereka berangkat tepat saat mereka menginjakkan kaki keluar Rumah Sakit.
          “Bagaimana tempatnya Chris? Kamu suka?” tanya Anisa yang baru saja sampai di tempat tujuan.
          “Bagus”. Jawabnya singkat.
          “Alan kamu temani Christy jalan-jalan ya? Aku mau menyiapkan kamar untuk kalian!”
          “Iya Nis”.
          Lalu Alan mengajak Christy melihat pemandangan yang ada disekitar Villa. Christy yang awalnya bersedih sedikit mau tersenyum. Larut dalam candaan mereka akhirnya Christy melupakan sejenak tentang kakinya yang kini berwujud namun tak bisa dirasakannya.
          “Aku berjanji akan selalu ada untukmu”.
          Christy terdiam dari tawa kecilnya menatap mata Alan yang nampaknya sangat tulus mengatakan itu padanya.
          “Walaupun kini aku cacat?” Matanya yang indah mulai tertutup embun yang lahir dari matanya.
          “Itu tidak akan menyurutkan cintaku padamu Chris”.
          Christy yang terharu, tanpa kata-kata lagi langsung memeluk Alan yang duduk didepannya sembari merubah embun menjadi air mata yang mengalir deras dipipinya bak hujan yang turun dari langit.
          “Sepertinya cinta Alan memang buat Christy, aku hanya sebagian dari masa lalunya”. Guman Anisa yang memperhatikan mereka berdua dari balik pintu Villanya.
          Setiap hari Alan selalu melatih Christy berjalan, kadang Christy putus asa dan tak jarang mengeluarkan air matanya, namun semangat yang diberikan Alan membuat dia terus berlatih agar kakinya dapat pulih kembali. Kali ini Anisa mengerti keadaan dan dia selalu mencoba menahan rasa cemburunya walau hatinya tak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri.
          Sudah Seminggu lebih jatuh bangun Christy berlatih, tidak ada hasil untuk latihannya kali ini, wajahnya Nampak pucat kelihatan kalau dia sedang lelah dengan semua ini.
          “Alan? Mungkin kakiku memang harus seperti ini seumur hidupku”.
          “Ssstttt, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Takdir kali ini bisa kita ubah dengan semangat yang berkibar dari diri kamu sendiri, jangan pernah patah semangat, sayang”. Memeluk Christy membuat Christy merasakan nyaman saat dia mulai lelah.
          “Aku haus Alan”. Melepaskan pelukan Alan.
          “Ya sudah aku buatkan minum ya?”
          Alan masuk kedalam untuk membuatkan minum buat Christy, didapatinya Anisa yang namapak sedih memperhatikan dirinya dengan Christy tadi. Anisa yang melihat Alan melagkah mendekatinya langsung terburu-buru masuk kedalam rumah.
          “Anisa tunggu! Menarik tangan kanan Anisa, dan langsung mendekapnya erat”.
          “Aku mengerti apa yang kamu lakukan, aku paham apa yang terjadi saat ini”. Memeluk erat Alan yang nampaknya tidak mau melepaskanya.
          “Nisa, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untukkmu”.
          “Apa kamu sudah lupa dengan janji kita dulu?”
          “Aku tidak akan pernah lupa, Nis. Tapi janjiku pada Christy juga tidak mungkin aku ingkari”.
          Merasa Alan terlalu lama mengambil minum, akhirnya Christy menyusulnya walau dia sangat kualahan menggerakkan roda besar yang berada dikanan kiri tangannya itu. Dengan susah payah Christy berhasil sampai didalam Villa. Christy melihat mereka berdua dan mendengar sedikit pembicaraannya.
          Hatinya mulai kaku, Air matanya tak bisa dibendung lagi. Anisa yang melihat Christy langsung melepaskan pelukkannya, Alan yang tadinya tak melihat langsung membalikkan tubunnya kearah dimana Christy terduduk sedih diatas kursi rodanya. Tanpa berfikir panjang Christy langsung memutar balik kursi rodanya dan meninggalkan Villa. Christy berhenti ditaman yang biasa dia kunjungi saat dia akan berlatih berjalan bersama Alan.
          Anisa melihat Christy yang menangis dan penuh semangat bercampur emosi menggerakkan kakinya hingga terjatuh namun dia mampu bangun kembali dan terus berlatih dihiasi air mata kekecewaannya. Christy menangis tersedu-sedu saat dia terjatuh dirumput hijau Karena tak mampu berdiri dan menggerakkan kakinya. Christy berfikir Alan akan meninggalkannya kalau dia masih cacat seperti itu.
          “AYOOO… ayooo kakiiii jaaaalannnnn”. Tangannya Nampak berpegang erat dikursi rodanya airmatanya terus mengalir.
          Anisa berniat untuk menyusul Christy namun Alan menghalanginya.
          “Dia sedang emosi, biarkan dia luapkan dengan sesuka hatinya”.
          “Tapi Al? aku tidak tega melihatnya terjatuh”.
          “Dia wanita yang kuat aku yakin dia pasti bisa”.
          Anisa dan Alan terus memperhatikan Christy yang emosinya sudah mencapai ubun-ubun.

          SKIP………………………………………………….
         
          Nampak Christy yang duduk terdiam sendiri dibukit melihat pemandangan dibawahnya yang sangat indah namun menyeramkan apabila tergelincir kebawahnya. Emosinya tak kunjung reda dia mencoba menggerakkan kursi rodanya meluncur dari bukit ke jurang yang sangat terjal itu.
          “Chriss, apa yang mau kamu lakukan?”
          “Jangan halangi aku”.
          “Jangan Chris!”
          “Kamu sengaja kan, Nis merencanakan kecelakaan itu hingga membuat aku cacat seperti ini agar kamu bisa mengambil Alan dariku?”
          “Aaaakuuuu akuu tidak sepicik itu Chris”.
          “Alaaaahhh, jangan sok baik didepanku kalau dibelakangku saja hatimu sangat busuk”.
          “Kamuuu, kamuuu salah Chris, apa yang kamu lihat tidak seperti apa yang kamu pikirkan sekarang”.
          Tiba-tiba kursi roda Christy tergelincir dan jatuh kebawah, untung Christy masih tersangkut ditangan Anisa yang memeganginya dengan erat.
          “Christy… pegang tanganku, pegang yang erat”.
          “Aku takut, Nis”. Sesekali menoleh kebawah melihat kursi rodanya yang tergelincir hingga remuk.
          “Ayoo naik Chris… Ayoo, kamu pasti bisa!”
          “Kakiku tidak bisa bergerak, Nis. Aku gak kuat”.
          “Kamu pasti bisa Chris, kamu pasti bisa”.
          “Tidak, Nis. Lepasin aku Nis, aku gak kuat, tanganku sakit… lepas Nisa, lepasin”.
          “Enggak Chris, aku gak akan pernah lepasin kamu”.
          “Bukannya kamu ingin aku mati, Nis? Lepasiin aku”.
          “Kamu salah Chris, kamu salah. Ayoo naik kamu pasti bisa”.
           Dengan penuh tenaga  Christy menggerakkan kakinya dan hasilnyaa???? Kakinya bisa bergerak dan akhirnya Christy mampu menopang tubuhnya dengan kakinya hingga sampai diatas. Christy berdiri dan langsung memeluk Anisa.
          “Kamuuu….. lihat Chris, kamu bisa berdiri?”
          “Haaaa,, kakiku.. aku sembuh, Nis aku sembuh”. Memandangi kakinya yang berdiri tegak dan kembali memeluk Anisa yang tadi sempat ia lepas sejenak.
          “Nis, kenapa kamu menolong aku? Bukannya kalau aku mati kamu bisa memiliki Alan?” melepas pelukkannya.
          “Sejahat itukah aku dimata kamu, Chris? Mana mungkin aku membiarkan sahabatku celaka didepan mataku? Aku lebih memilih untuk tidak bisa memiliki Alan dari pada kehilangan sahabat sepertimu”.
          “Maafin aku, aku sudah berprasangka buruk padamu, Nis”. Kembali memeluk Anisa.
          “Chris, kamu sekarang sudah mampu berjalankan? Dan seperti harapanmu selama ini, kamu berjalan untuk tetap bersama Alan. Aku tidak akan menghalangi itu”.
          “Tidaak, Nis. Sebenarnya akulah yang berada diantara kalian, kamu yang pantas buat Alan bukan aku, aku mohon Nis kembali sama Alan”.
          “Aku gak bisa Chris, aku selama ini memang merasakan sakit melihat kalian berdua, tapi aku tidak mau melukaimu, Chris. Aku berharap kalian bisa sama-sama lagi”.
          “Enggak Nis, Enggak, kamu mampu memendam rasa sakitmu demi aku, kenapa aku tidak?! kalau salah satu diantara kita ada yang terluka karena tidak mampu mendapatkan cintanya. Maka satunya lagi akan merasakan hal yang sama. Kita sama-sama mencintai Alan kalaupun harus meninggalkannya, kita juga harus sama-sama, Nis?”
          Anisa memeluk erat Christy, mereka tenggelam dalam haru hingga mengeluarkan air mata cantik dari mata indah mereka.
          “Kalian disini? Aku khawatir. Christy??? Kamu bisa berdiri?” Heran sekaligus bahagia melihat Christy.
          “Iya Al, aku bisa berdiri, ini semua berkat Anisa”. Melompat lompat kegirangan.
          Anisa dan Christy lalu bertatap tatapan dan tiba-tiba memeluk Alan secara bersamaan.
          “Kamu bisa memilih diantara kita, hMmmm?” Tanya Christy tersenyum.
          “Aku atau Christy?” Saut Anisa.
          Alan bingung dengan sikap mereka berdua yang tidak lagi bertengkar malah senyum-senyum tanpa ada rasa sedih sedikitpun.
          “Kaliaannn? Kalian serius mengatakan ini?” Tanya Alan yang masih kebingungan.
          “Yeeee GeEr, kita itu Cuma mau jadi sahabat kamu”. Jawab Christy sembari mencubit perut Alan.
          “AauUuuu,,,”. Alan berteriak.
          “Yaa, Al. aku juga maunya jadi sahabat kamu”. Mencubit Alan dan berlari bergandengan bersama Christy.
          “Aauauuu…. Kaliaaannnn!” mengejar Anisa dan Christy sembari bercanda jikalau berhasil menangkap mereka.
          Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menjadi sahabat dan janji Alan kepada mereka untuk selalu ada buat merekapun dapat ia tepati tanpa melukai satu hati diantara mereka. Senyum canda tawa menghiasi persahabatan Alan, Anisa dan Christy.



The End……

"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"






         




Tidak ada komentar:

Posting Komentar