Janji
Tiga Jari
Seluruh siswa
Sekolah Menengah Atas hari ini akan menerima pengumuman hasil Ujian Nasional
mereka yang dilaksanakan beberapa minggu yang lalu. Semua siswa hatinya tidak karuan dan takut apabila kertas
yang beramplop putih itu bertuliskan kata buruk “Tidak Lulus”.
Berbeda dengan
siswa yang lainnya, Anisa justru santai dan tenang-tenang saja menunggu
kepulangan Mamanya yang berada didalam kelasnya. Anisa duduk santai ditaman
sekolahnya sembari bermain game yang ada di Ipad hadiah dari Ayahnya semester
yang lalu karena menjadi bintang disekolahnya.
“Nisa, mana
Ayah kamu? Apa sudah datang kesini?” Tanya Kezia yang Nampak takut kalau orang
tuanya tidak datang.
“Bukan Ayah
yang datang, tapi Mama”. Tak menoleh sedikitpun ke Kezia karena asik bermain
game kesukaannya.
“Memangnya Ayah
kamu kemana? Untung Mama kamu datang. Sedang aku? Papa dan Mamaku tidak tau
akan datang atau tidak”. Duduk mendekati Anisa.
“Aku juga tidak
mengharap Mama datang. Lebih baik hasil kelulusanku tidak diambil dari pada
disentuh Mama”. Tetap asik memainkan Ipad nya.
“Nis, rubah
donk sikap kamu sama Mama kamu. Kamu beruntung masih punya Mama yang sangat
perhatian sama kamu”.
“Aku tidak
minta kehadiran Mama dihadapanku”. Berdiri menatap Kezia dengan marahnya, lalu
meninggalkan Keizha.
“Nis… Kok marah
sich!”
“Nisaaa!”
Berpapasan dan menghentikan langkah Anisa.
“Alan?”
memandang wajah Alan yang lebih tinggi dirinya.
“Kamu sudah
menerima hasilnya?”
“Belum, Al”.
Melanjutkan langkahnya.
“Loh, semua
orang tua murid kan sudah pulang”. Mengikuti langkah Anisa.
“Mungkin Mamaku
juga sudah pulang tanpa memberitauku”.
“Pasti Mama
kamu ingin memberi kejutan buat kamu”.
“Lohh, Papaku
kan belum datang kok sudah pada pulang sich? Lalu hasil punya aku gimana?”
Sambung Kezia.
Tanpa
menghiraukan Kezia Alan dan Anisa pergi meninggalkannya sendiri dibawah pohon
rindang yang amat sangat sejuk bila duduk dibawahnya. Mereka menuju rumah
Anisa.
“Nisaa, ini
hasil ujian kamu sayang”. Menyodorkan amplop putih yang ukuranya tidak terlalu
besar.
“Aku mau Ayah
yang ngambilin Ma, bukan Mama”. Mehempas tangan Mamanya hingga amplop itu
terjatuh dan melangkahkan kakinya menjauh dari hadapan Mamanya.
“Tante, sabar
ya? Mungkin Anisa belum bisa menerima kehadiran tante untuk menggantikan posisi
Bundanya dalam hatinya”.
“Tante tau Al,
tante memang tidak bisa menggantikan Bundanya tapi tante Cuma mau Anisaa sayang
dan tidak kasar sama Tante”.
“Alan ngerti
kok Tan, sabar ya?”
“Ya sudah kamu
susul Anisa sana!”
“Emmm Alan ada
janji sama Mama Alan tante, Alan permisi dulu tante”.
“Iya Alan, terimakasih
ya sudah mengantarkan Anisa sampai rumah”.
“Sama-sama
Tante, ini sudah kewajiban Alan kok”.
“Alan? Mau
pulang?” Tanya Gigi yang baru pulang dari rumah temannya.
“Iya Gi, duluan
ya?”
“Ohh, Iya..
hati-hati ya?”
“Okey!”
“Mama kenapa?
Mama nangis?” Menegakkan wajah Mamanya.
“Emmm tidak,
tadi hanya kelilipan waktu duduk didepan rumah”. Membersihkan air mata yang
belum sempat terjatuh sampai dipipinya.
“Mama jangan
bohong sama Gigi”.
“Mama gak
bohong”.
“Pasti
gara-gara Anisa kan?” Nampak ingin melabrak Anisa yang sekarang sedang ada
dikamar.
“Tidak Gi,
tidak”. Mencoba menghalangi Gigi.
“Biar Gigi
kasih pelajaran sama dia, Ma”.
“Jangan!”
Melarang namun tak bisa menghentikan niat Gigi.
“Brak brak
brak”. Dengan kasar Gigi menggebrak-gebrak pintu kamar Anisa.
“Buka Nis!”
“Apaan sich Gi,
aku capek mau istirahat”. Membukakan pintu.
“Kapan sich kamu
akan bisa menghargai Mama?”
“Sepertinya
tidak akan pernah”. Kembali menutup pintu kamar dan menguncinya.
“Nis, Buka!”
menggedor-gedor pintu dengan keras.
“Apa lagi sich,
Gi. Aku kan udah bilang aku mau istirahat”. Membuka pintu.
“Sini!” menarik
Anisa keluar dari kamar yang tadi berada dibalik dipintu kamar yang sedikit
terbuka.
“Lepas. Sakit
tau’, kenceng banget sich pegangnya”. Menghempaskan tangannya yang dipegang
erat oleh Gigi.
“Kamu boleh
benci sama aku dan tidak menerima aku disini, tapi tolong! Jangan sakiti Mama”.
“Gi, asal kamu
tau! Gara-gara kamu dan Mama kamu yang tidak tau diri itu Bunda jadi pergi. Aku
harus baik sama kalian? Tidak akan pernah”. Kembali masuk kamar dan mengunci
pintu.
“Nis Anisaaa…
buka! Uuuchh..” menendang pintu kamar karena kesal tidak dibukakan.
Mama mereka
hanya melihat pertengkaran kedua anaknya itu dari bawah. Sembari mengelus-elus
dadanya.
SKIP…………………………………………
“Nis, aku mau
ngomong sama kamu”. Berdiri didepan pintu rumah Anisa.
“Mau ngomong
disini atau diluar?” Saut Anisa yang baru saja keluar dari rumah mewahnya.
“Kita ngomong
ditaman saja ya?”
“Oke, tapi aku
ganti baju dulu ya?” Melangkahkan kaki jenjangnya kedalam rumah.
“Okee”. Aku tunggu
disini ya?” Duduk dikursi yang berada diteras.
Anisa kelihatan
cantik malam itu, rambutnya panjang hitam terurai dan memakai gaun warna merah
muda yang membuatnya menjadi lebih istimewa dihadapan Alan. Mereka pun jalan
menuju taman dengan mobil Alan yang cukup mewah. Belinya saja diluar negeri dan
harganya pun pasti sangat mahal.
“Kamu Lulus
kan?” Tanya Alan setelah duduk ditempat yang mereka anggap special.
“Iya donk,
masak gak sich!” Sembari memakan donat yang diatasnya terhiasi oleh seres
berwarna warni dan parutan keju yang nampaknya sangat lezat ia santap.
“Kemana kamu akan melanjutkan
sekolah?” Menyodorkan jus sirsak karena melihat Anisa yang Nampak kualahan
menelan donatnya.
“Aku??? Sepertinya
aku akan focus sama usaha Bundaku”. Mendekatkan gelas berisi jus ke mulutnya
dan meminumnya pelan-pelan.
“Kamu tidak
akan melanjutkan ke Universitas impian kamu?”
“Tidak Al, dulu
aku sangat bermimpi bisa menjadi dokter seperti Ayah, tapi aku mengurungkan
niatku”. Memungut satu persatu seres dan memasukkan kedalam mulutnya.
“Kenapa?”
Menyodorkan tisu ke Anisa yang sedang asik memakan donat sampai tak sadar kalau
mulutnya belepotan.
“Eiii Thanks, Emm
Pekerjaan Ayah memang mulia tapi Ayah melupakan kewajibanya sebagai seorang
Ayah untuk anaknya. Itu yang membuat aku benci dengan pekerjaan itu”. Sembari
membersihkan sisa seres yang mengotori mulutnya.
“Semoga kamu
tidak sungguh-sungguh mengatakan itu Nis”.
“Hmmm, aku
sungguh-sungguh”. Menghentikan gerak tangannya dan menatap Alan.
“Bukanya resto
bunda kamu sudah diurus sama Mama kamu?”
“Aku tidak mau
usaha Bunda dikotori sama Mama, lalu kamu sendiri akan meneruskan kemana?”
Pandangannya kembali terpaku ke seres yang berada diatas donatnya.
“Itu yang ingin
aku bicarakan sekarang, Nis”.
“Bicara saja”. Tetap
asik berburu seres yang menempel erat diatas donat berukuran sedang.
“Orang tuaku
akan mengirim aku ke Canada”.
“Canada? Sejauh
itu?” sejenak menghentikan perburuannya diatas donat lalu kembali memakan seres
yang ia dapat ditangannya.
“Iya Nis”.
“Kenapa tidak
di Indonesia saja? Kampus disini kan tidak kalah sama kampus-kampus diluar
negeri”. Kali ini donatnya habis, Anisa focus memandang wajah Alan.
“Ya itulah Nis
yang membuat aku berat mengatakannya padamu. Papa dan Mama juga akan pindah kesana,
kebetulan perusahaan mereka juga banyak disana yang belum mereka urus”.
“Lalu kamu akan
meninggalkanku?” Menatap mata Alan yang nampaknya sedang tidak main-main.
“Aku pasti akan
kembali kesini dan menjemputmu, Nis”. Mendekap kedua pipi Anisa dengan tangan
hangatnya.
“Apakah akan
berakhir disini cinta kita Al?” Matanya mulai berkaca-kaca.
“Tidak Nis, aku
berjanji padamu aku akan kembali untuk menyambung cinta kita yang nampaknya
akan lama kita abaikan”. Menghapus air mata Anisa yang mengalir dari lubang
matanya.
“Janji? Jangan
bohong padaku Al?” Menyentuh erat tangan Alan yang masih bersandar dipipinya.
“Aku takkan
bohong Nis, karena aku sangat mencintaimu”.
“Aku berjanji
akan menunggumu Al, dan menutup hatiku untuk cowok selain kamu, aku juga sangat
mencintaimu”.
“Jaga diri
baik-baik ya sayang selama tidak ada aku disini”. Memeluk Anisa.
“Kamu juga”.
Membalas pelukkan Alan.
Alan meneruskan
kuliahnya jauh dari Negara kita, sedangkan Anisa bekerja meneruskan usaha
Restoran yang tak lain adalah peninggalan Bundanya. Mereka sudah berpisah 5
tahun lamanya, tak satu kalipun Alan menengok dan menanyakan keadaan Anisa.
“Nisa, besok
bantu Ayah kebetulan daftar pasien Ayah meningkat pesat”. Sembari menyiapkan
alat-alat kedokteran kedalam tasnya.
“Itu karena
penyakit yang akhir-akhir ini mewabah dikota kita ya Yah?” Memakaikan jas putih
Ayahnya.
“Sepertinya
begitu, Nis”. Menatap Anisa sejenak.
“Lalu Restoran
Nisa gimana Yah?” Merapikan Jas yang sudah terpasang ditubuh Ayahnya.
“Biar Mama yang
ngurus untuk minggu-minggu ini”.
“Baiklah, Yah”.
“Tumben mau nerima Mama”. Ledek Gigi yang sedang asik memainkan remot TVnya.
“Tumben mau nerima Mama”. Ledek Gigi yang sedang asik memainkan remot TVnya.
“Sudah!” Sahut
Ayah.
SKIP…………………………………………………
“Nisa tolong
ambilkan tas ayah diruangan Ayah”. Sibuk memeriksa pasien.
“Ini Yah, Yah
Nisa capek. Nisa mau cari makan dulu ya?”
“Kamu kembali
saja ke restoran, Nis, Papa sudah selesai kok. Sekalian makan disana”.
“Okey Yah”.
Sembari memberikan tas milik ayahnya.
Anisa yang
terlihat kelelahan berjalan keluar tiba-tiba menabrak seorang cewek, yang
tingginya tak lebih tinggi dari Anisa.
“Aaaauuuu”.
“Maaf… maaf”.
Membereskan lembaran-lembaran kertas yang berserakan.
“Anisa?” Memperhatikan Anisa yang Nampak sibuk membereskan apa yang telah dia jatuhkan.
“Anisa?” Memperhatikan Anisa yang Nampak sibuk membereskan apa yang telah dia jatuhkan.
“Christy?”
Menoleh dan menghentikan gerak tangannya.
“Apa kabar,
Nis?”
“Kabar aku
Istimewa Chris, kamu sendiri?” Memberikan apa yang sudah dia rapikan.
“Aku juga
Istimewa donk!”
“Kamu kerja
disini?”
“Iya, aku baru
sampai. Dan sepertinya aku mulai bekerja besok”.
“Kalau begitu
kita makan siank yuk! Aku traktir dech!”
“Dengan senang
hati”.
SKIP…………………………………………………………………
“Kezia, keluarkan
menu yang paling enak disini”.
“Siap Boz
Nisa”.
“Hahaha, Lebay
kamu Ke”.
“Ini restoran
kamu Nis?”
“Ya Ini
peninggalan Bunda aku, Chris. Ohya kenalin ini Kezia teman SMA aku dan kita
masih berteman sampai saat ini”. Memperkenalkan Kezia kepada Christy.
“Bagus donk!
Kalau punya teman yang sampai sejauh ini masih bareng”.
“Dan Kezia ini
Christy sahabat kecil aku”.
“Ohhh Christy
yang sering diceritain sama kamu itu ya, Nis?” berjabat tangan dengan Christy.
“Loh, Nisa
sering cerita tentang aku ya? wahhhhh”
“Iwh jadi Ge Er
kan”. Tersenyum.
“Hahaha…” Mereka tertawa serempak.
“Hahaha…” Mereka tertawa serempak.
“Ehhhh,
berjabat tangan terus, makanan pesenan kita mana Ke?”
“Ya Ampuunn,
sampai lupa kan, tunggu-tunggu”.
Sembari Kezia
menyiapkan makanan, Anisa dan Christy mengobrolkan masa kecil mereka. Asik
mengobrol tiba-tiba Hanphone Christy berbunyi.
“Aku angkat
dulu ya, Nis”.
“Ohh iyaa”.
“Ini makananya,
Nis?” Merapikan makanan dimeja.
“Makasih ya Ke”.
“Iya aku
kembali ke dapur dulu ya?”
“Hallow?
Sayang!”
“Sayang kamu
sekarang dimana?” Tanya seseorang yang menelfon Christy.
“Aku ada direstoran Bunda Desy yang diseberang rumah sakit aku bekerja”.
“Aku ada direstoran Bunda Desy yang diseberang rumah sakit aku bekerja”.
“Baik aku
kesana ya?”
“Iya sayang,
aku tunggu. Hati-hati ya?” Menutup telfonya.
“Siapa Chris?”
Tanya Anisa yang mendengar percakapan mereka.
“Cowok aku”.
“Hmmmm…
mentang-mentang udah punya cowok pantes aja gak pernah kabarin aku”.
“Hee, bukan
begitu Nis, aku gak kabarin kamu kan karena sibuk kuliah bukan karena cowok”.
“Hmmmmm bisa
aja ngelesnya, ya sudah ini makanannya udah dateng dimakan ya? Dijamin enakkk”.
Memperlihatkan jempolnya yang mungil dihadapan Christy.
“Okeey… emmm ntar aku kenalin dech! Dia mau kesini
kok, bentar lagi sampai”. Mencicipi makanan yang tertata rapi dimeja.
“Enak kan?”
“HhEmmmm enak-enak”.
“Sayang!” Melambaikan tangan dari kejauhan.
“Itu dia, hy sini sayang!”
Saat Christy dan cowoknya saling cipika cipiki, Anisa
memperhatikannya, nampaknya Anisa mengenal siapa cowok yang sedang bersama
Christy itu.
“Kenalin sayang ini Anisa sahabat kecil aku dulu”.
“Alan…” Memperkenalkan diri dan memperhatikan Anisa dengan
penuh rasa rindu.
“Anisa..” Menatap
Alan dan matanya mulai berkaca-kaca.
Mereka berdua pura-pura tidak saling mengenal, mungkin
karena Alan yang sudah memiliki kekasih yang tak lain sahabat Anisa sendiri.
Anisa Nampak sakit hati dan Alan merasa dirinya amat sangat bersalah.
“Aaa.. aAaaku ketoilet bentar ya, Chris?” Dengan
tergesa-gesa takut airmatanya jatuh dihadapan mereka berdua.
“Jangan lama-lama, Nis. Alan, kamu mau pesan apa?”
“Emmm,,, aaaku sudah makan tadi Chris”. Nampak gugup.
“Kenapa sich Al? kok aneh gitu?” memperhatikan gerak gerik
Alan yang tak seperti biasanya.
“Emmmmm….. gaak papa Chris. Kita pulang aja yuk? Nanti sore
kan kita mau beli perlengkapan kamu selama disini?”
“Tapiiii….” Menunjuk kearah Anisa berlari.
“Sudah Ayuk!” menarik Christy.
Mereka meninggalkan restoran, sementara Anisa sedang menangis
tersedu-sedu. Hatinya sakit dia merasa dikhianati oleh cowok yang sangat dia
cintai. Sekian lama Anisa menunggu dan menutup hatinya untuk orang lain,
terbalaskan pengkhianatan yang membuatnya begitu kecewa.
SKIP…………………………
Hari ini Christy sudah mulai bekerja di Rumah sakit milik
Ayah Anisa. Anisa melihat Christy yang turun dari mobil Alaan dan melihat
mereka mesra sebelum berpisah. Hati Anisa hancur sangat-sangat hancur namun dia
cukup pandai menyembunyikannya.
“Hy Nis”.
“Hy Chris”. Cium pipi kanan Cium pipi kiri.
“Ohya ntar sore aku sama Alan mau pergi, kamu ikut ya?”
Sejenak Anisa terdiam, sanggupkah Anisa melihat orang yang
dia cintai bersama orang lain? Rasa-rasanya tidak.
“Looh kok bengong”.
“Emmm kalian berdua aja ya? Aku harus membantu Ayah kan?”
“Alah… soal Om dedy mah gampang! Tenang aja biar aku yang
minta ijin”.
Jam kerja Christy selesai dan Christy menuju ruang Ayah
Anisa, bertujuan ingin meminta ijin agar Anisa diperbolehkan ikut dengannya.
Yahhh Ayah Anisa kan sudah cukup akrab dengan Christy. Jadi Anisa diperbolehkan
untuk pulang terlebih dahulu.
“Tukan apa aku bilang, diijinin kan?”
“Tapi Chris. Nanti aku ganggu kalian lagi”.
“Eiiitss. Ya tentu tidak lahh, Nis. Itu Alan sudah menunggu”.
“Chris, aku gak ikut ya?”
“Ayoooo!” menarik paksa Anisa
Alan membukakan pintu mobil untuk Christy sementara Anisa
membuka sendiri, Christy duduk didepan dengan Alan, sementara Anisa sendirian
dibelakang. Alan Nampak takut karena merasa dirinya salah.
“Nis, kita ke minimarket dulu ya? Aku mau beli pesanan Mama
sama keperluan aku”. Menoleh kebelakang.
“Iya Chris”. Jawab Anisa singkat.
“Nanti jalan-jalannya setelah dari situ, sayang kok diem
aja sich?”
“Iya sayang, nanti kita jalan-jalan ya?” sedikit kaget
karena telah focus melamun mikirin Anisa.
Melihat kemesraan mereka Anisa seperti ingin menangis,
untung air matanya mampu iya bendung walau nyaris menetes melewati bulu bawah
matanya. Sampai ditempat perbelanjaan Anisa memilih untuk tetap dimobil karena
takut hatinya akan semakin perih. Alan tau betul bagaimana perasaan Anisa,
namun dia tidak bisa berbuat apa-apa disitu. Selesai berbelanja mereka menuju
pantai yang lumayan dekat dengan rumah Alan.
“Nis, aku cari minum dulu ya?”
“Iya Chris”.
“Kalian disini saja jangan kemana-mana”. Meninggalkan Anisa
berdua dengan Alan.
“Kenapa kamu tega khianati aku?” tanya Anisa lirih.
“Aku tidak bermaksud mengkhianati kamu Nis, aku hanya tidak
mampu membendung rasa cintaku pada Christy”.
“Tapi kamu sudah janji kan sama aku akan menutup hati kamu
untuk cewek lain?”
“Iya Nis, tapi aku benar-benar tidak bisa. Aakuu akuu
sayang sama Christy, dia baik dan perhatian sama aku”.
“Aku tidak bisa menyalahkan kamu apalagi Christy, cinta
memang munculnya tiba-tiba, aku hanya bisa berdoa semoga kalian bahagia, meski
aku tidak akan pernah rela ”.
“Nis, jujur aaku masih aku masiih cinta sama kamu”.
“Tapi sekarang kamu milik Christy kan?”
“Iii iiiyaa, tapiii aku aaku”.
“Lagi ngmongin apaan sich serius amat, ni minum dulu! Ini
buat Alan dan ini buat Anisa”. Memberikan minuman dingin kepada mereka berdua.
SKIP……………………………………………………….
“Alan? Itu kan Alan? Kok sama Christy?” Kezia melihat Alan
dan Christy yang keluar dari rumah sakit.
“Ada apa, Ke?” Tanya Anisa menghampiri Kezia yang
clingak-clinguk memperhatikan Alan dan Christy.
“Itu Alan kan, Nis? Kapan dia kembali? Lalu kenapa dia
bersama Christy?”
“Mereka sekarang pacaran”.
“Apa???”
“Iya, Ke”.
“Sabar ya, Nis?” Menyandarkan telapak tangannya dipundak
Anisa, menenangkan.
“Aku pulang dulu ya, Ke. Badanku tiba-tiba gak enak”.
“Iya, Nis. Apa perlu aku antar?”
“Jangan, jangan. Aku bisa sendiri kok”.
Sampai dirumah Anisa jatuh pinsan tepat saat Mamanya
mendekatinya.
“Anisa,,, Ya Tuhan”. Mendekap tubuh Anisa yang terjatuh
dipelukan Mamanya.
“Gi, Gigi… bantuin Mama. Anisa pinsan”. Berteriak minta
tolong.
“Ada apa Ma? Anisaa!….” Membantu mamanya menidurkan Anisa
disofa.
“Ambil minyak putih, Gi. Cepat!” Panik.
“Iya Ma”. Berlari terburu-buru mencari pesanan Mamanya itu.
Setelah Mama Anisa berhasil menyadarkan Anisa. Anisa
disuruh untuk istirahat dikamar dibantu oleh Gigi.
“Makasih ya, Gi?” Berbaring ditempat tidur.
“Kamu itu kecapean. Pagi siang malem kerja terus. Waktu istirahat
saja nyaris tidak ada. Ya sudah kamu istirahat dulu!” Menutup tubuh Anisa
dengan selimut tebal.
“Anisa… kok bisa sampai pinsan sich?” Christy berlari dan
mendarat dikasur Anisa.
“Aku gak papa kok, Chris”.
“Kamu kesini sama siapa?”
“Aku kesini sama Alan, tapi dia langsung pulang. Katanya
sich ada urusan yang penting”.
“Sepenting itu kah urusan itu? Hingga tidak kesini untuk
sekedar melihat keadaanku”. Gumamnya dalam hati.
“Ya sudah kamu istirahat dulu ya? Aku janji nanti kalau
kamu udah sehat aku mau ajak kamu jalan-jalan. Tapi sekarang Aku harus kembali
ke Rumah sakit, cepet sembuh Nisa”.
“Makasih ya Chris”.
Selang beberapa menit Alan datang.
“Tante, gimana keadaan Anisa?”
“Alan… kapan kamu kembali? Anisa baik-baik saja hanya butuh
istirahat”
“sekitar satu bulan yang lalu tante, Alan boleh
menengoknya?”
“Tentu, silakan!”
“Terimakasih tante”. Melangkahkan kaki Menuju kamar Anisa.
“Anisa? Kamu tidak apa-apa?”
“Alan? Aku baik-baik saja kok”. Membuka matanya.
“Aku khawatir mendengar kabar kamu dari Christy”.
“Kamu tidak datang kesini sama Christy?”
“Tidak Nis, aku ingin lebih leluasa bicara padamu”.
“Memangnya kamu mau bicara apa?”
“Aku mau minta maaf sama kamu Nis, soal Christy. Tapi
sungguh aku tidak bisa meninggalkannya”.
“Apa kamu mencintainya lebih dari kamu mencintaiku?”
“Nisa? Separuh hatiku masih berada dimasa lalu dan
separuhnya lagi berisi cinta untuk Christy. Christy kehilangan tunangannya,
Nis. Dan dia sahabatku dia meninggal karena kecelakaan dan Hatinya? Hatinya
berada dihatiku, Nis. Dia mendonorkan hatinya untukku. Dan aku berjanji padanya
akan mencintai Christy seperti dia mencintai Christy”. Menatap Christy.
“Jadi???” Mata Anisa mulai berkaca-kaca.
“Iya Nis, aku tidak bisa memberitau Christy tentang
hubungan kita, aku tidak mau dia terluka untuk yang ke dua kalinya”.
Anisa memeluk erat Alan dan meneteskan air mata dipundak
Alan. Hatinya begitu sakit bagai diiris-iris pisau yang sangat tajam. Beberapa
hari kemudian Christy mengajak Anisa jalan-jalan tanpa Alan.
“Kita mau kemana, Chris?”
“Seperti janjiku kemarin kalau kamu sudah sehat aku mau
mengajak kamu jalan-jalan”.
“Kalau gitu kali ini biar aku yang nyetir ya?”
“Eiiiitss jangan kan kamu baru aja sembuh, bahaya”.
“Yeee tenang aja aku udah sehat kok”.
“Bener ya?”
“Udah tenang aja”.
“Oke, yuk jalan”.
“Siiiiaapph”.
Ditengah jalan mobil mereka oleng karena menghindari laju
motor yang ugal-ugalan. Tak disangka dari arah berlawanan ada sebuah Truk yang
melaju kencang. Alhasil mobil mereka beradu dengan mobil Truk itu.
“Awas Niiiisssss….” Teriak Christy dari dalam mobil.
“Aaaaaaaa” anisa kaget dan tiba-tiba mereka tidak sadarkan
diri.
Mereka dibawa kerumah sakit terdekat oleh warga sekitar nampak
darah merah memenuhi sekujur tubuh mereka.
“Bagaimana keadaan Christy dan Anisa Tante?” Tanyanya
kepada Mama Anisa yang sudah dulu sampai dirumah sakit”.
“Tante belum tau Al”. Sedih.
“Ya Tuhan, selamatkan mereka”.
“Mama, bagaimana keadaan Anisa Ma?”
“Mama tidak tau Yah”.
“Kita doakan saja Anisa sama Christy Yah. Mama sabar ya?
Alan, kamu sudah telfon orang tua Christy?”
“Sudah, mereka sedang menuju kesini”.
“Bagaimana Christy Alan?” Tanya Papa Christy yang baru saja
sampai.
“Alan belum tau Om”.
Dokter yang memeriksa sudah keluar dari ruang dimana
Christy dan Anisa dirawat.
“Bagaimana keadaan anak kami, Dok?” tanya ayah Anisa.
“Dokter Dady. Anak anda baik-baik saja”.
“Syukurlah”. Serempak.
“Tapi Pasien yang bernama Christy kakinya mengalami patah
tulang. Sehingga dia dinyatakan lumpuh”.
“Apa, Dok? Lumpuh???” Tanya Alan kaget.
“Anakku lumpuh? Tapi bisa sembuh kan, Dok?”
“Kemungkinan sembuh sangat tipis pak,ya sudah saya permisi
dulu”.
“SAbar ya”. Ayah Anisa menguatkan Papa Christy.
Mereka menengok Anisa dan Christy yang masih tertidur.
Sementara Papa Christy menyelesaikan administrasi.
“Alan, Om sama tante pulang dulu ya? Kami titip Anisa”
“Baik Om, tante”.
“Aku juga pulang, jaga Anisa ya Al?” meninggalkan ruangan.
“Iya Gi”. Mengangguk.
“Anisa? Kamu sudah sadar?”
“Aku dimana Al?” memegangi kepalanya yang terasa pusing.
“Kalian kecelakaan”.
“Christy… Christy mana Al?” mencoba membangunkan tubuhnya
yang masih lemah.
“Ssssst, jangan banyak gerak dulu”. Memegangi Anisa dan
menidurkannya kembali.
“Aku ingin melihat Christy, Al”.
“Baiklah, aku bantu Nis”. Membantu Anisa berdiri dan
berjalan mendekati Christy yang berada disampingnya dengan dibatasi korden
warna biru.
“Christy gak apa-apa kan Al?”
“Alan hanya diam tanpa kata”.
“Jawab Al?”
“Christy lumpuh Nis”.
“Apa?????” meneteskan cairan putih bening memeluk Christy
yang masih terpejam.
Beberapa jam kemudian Christy sadarkan diri. Papa Christy,
Anisa dan Alan telah siap sedia berada disamping Christy.
“Papa, Anisa, Alan? Ada apa ini? Aku dimana?” Wajahnya
Nampak bingung.
“Kamu dirumah sakit, nak”.
“Christy kenapa pa?”
“Kamu kecelakaan”. Tak kuasa menahan airmata.
“Papa kenapa menangis? Anisa??? Kamu baik-baik saja kan?”
“Aku baik-baik saja, Chris”.
“Kakiku… kenapa kakiku Pa?” Mencoba menggerakkan kakinya
namun tidak bisa bergerak.
“Sabar Chris”. Anisa memeluk Christy yang terus berusaha
menggerakkan kakinya.
“Kaki kamu lumpuh, Nak”. Terus menangis.
“Kakiiikuuu…. Kakiikuu lumpuh, Kakikuu tidak berguna lagi.
Kaak kaakkiikuuuuu”. Berteriak sembari menangis.
“Christy… Christy.. dengarin aku! Christy…” memeluk erat
Christy.
“Kakiiikiiii tidak bergunaaa, aku lumpuuhhh”. Memukul-mukul
kakinya yang tidak bisa merasakan apa-apa.
“Chris…. Dengerin aku Chris”.
“Aku lumpuuhhh”. Terus meneteskan air mata kesedihan.
“Christy… denger! Kamu masih punya kaki Chris”. Memeluk
Christy lebih erat.
“Tapi kakiku sudah tidak berguna, Nis”.
“Kamu masih punya kaki, aku siap menjadi kakimu, Chris”.
Saut Alan yang duduk didekat Christy.
“Aku juga Chris, kami janji akan menemanimu kemanapun kamu
mau”.
Keesokkan harinya Christy dan Anisa sudah boleh
meninggalkan Rumah Sakit. Alan terus menemani mereka. Untuk menghilangkan rasa
sedih Christy, Anisa berniat mengajaknya berlibur Ke Villa milik Ayahnya.
Mereka berangkat tepat saat mereka menginjakkan kaki keluar Rumah Sakit.
“Bagaimana tempatnya Chris? Kamu suka?” tanya Anisa yang baru
saja sampai di tempat tujuan.
“Bagus”. Jawabnya singkat.
“Alan kamu temani Christy jalan-jalan ya? Aku mau
menyiapkan kamar untuk kalian!”
“Iya Nis”.
Lalu Alan mengajak Christy melihat pemandangan yang ada
disekitar Villa. Christy yang awalnya bersedih sedikit mau tersenyum. Larut
dalam candaan mereka akhirnya Christy melupakan sejenak tentang kakinya yang
kini berwujud namun tak bisa dirasakannya.
“Aku berjanji akan selalu ada untukmu”.
Christy terdiam dari tawa kecilnya menatap mata Alan yang
nampaknya sangat tulus mengatakan itu padanya.
“Walaupun kini aku cacat?” Matanya yang indah mulai
tertutup embun yang lahir dari matanya.
“Itu tidak akan menyurutkan cintaku padamu Chris”.
Christy yang terharu, tanpa kata-kata lagi langsung memeluk
Alan yang duduk didepannya sembari merubah embun menjadi air mata yang mengalir
deras dipipinya bak hujan yang turun dari langit.
“Sepertinya cinta Alan memang buat Christy, aku hanya
sebagian dari masa lalunya”. Guman Anisa yang memperhatikan mereka berdua dari
balik pintu Villanya.
Setiap hari Alan selalu melatih Christy berjalan, kadang
Christy putus asa dan tak jarang mengeluarkan air matanya, namun semangat yang
diberikan Alan membuat dia terus berlatih agar kakinya dapat pulih kembali.
Kali ini Anisa mengerti keadaan dan dia selalu mencoba menahan rasa cemburunya
walau hatinya tak bisa berbohong dengan perasaannya sendiri.
Sudah Seminggu lebih jatuh bangun Christy berlatih, tidak
ada hasil untuk latihannya kali ini, wajahnya Nampak pucat kelihatan kalau dia
sedang lelah dengan semua ini.
“Alan? Mungkin kakiku memang harus seperti ini seumur
hidupku”.
“Ssstttt, kamu tidak boleh bilang seperti itu. Takdir kali
ini bisa kita ubah dengan semangat yang berkibar dari diri kamu sendiri, jangan
pernah patah semangat, sayang”. Memeluk Christy membuat Christy merasakan
nyaman saat dia mulai lelah.
“Aku haus Alan”. Melepaskan pelukan Alan.
“Ya sudah aku buatkan minum ya?”
Alan masuk kedalam untuk membuatkan minum buat Christy,
didapatinya Anisa yang namapak sedih memperhatikan dirinya dengan Christy tadi.
Anisa yang melihat Alan melagkah mendekatinya langsung terburu-buru masuk
kedalam rumah.
“Anisa tunggu! Menarik tangan kanan Anisa, dan langsung
mendekapnya erat”.
“Aku mengerti apa yang kamu lakukan, aku paham apa yang
terjadi saat ini”. Memeluk erat Alan yang nampaknya tidak mau melepaskanya.
“Nisa, aku tau bagaimana perasaanmu. Tapi hanya ini yang
bisa aku lakukan untukkmu”.
“Apa kamu sudah lupa dengan janji kita dulu?”
“Aku tidak akan pernah lupa, Nis. Tapi janjiku pada Christy
juga tidak mungkin aku ingkari”.
Merasa Alan terlalu lama mengambil minum, akhirnya Christy
menyusulnya walau dia sangat kualahan menggerakkan roda besar yang berada
dikanan kiri tangannya itu. Dengan susah payah Christy berhasil sampai didalam
Villa. Christy melihat mereka berdua dan mendengar sedikit pembicaraannya.
Hatinya mulai kaku, Air matanya tak bisa dibendung lagi.
Anisa yang melihat Christy langsung melepaskan pelukkannya, Alan yang tadinya
tak melihat langsung membalikkan tubunnya kearah dimana Christy terduduk sedih
diatas kursi rodanya. Tanpa berfikir panjang Christy langsung memutar balik
kursi rodanya dan meninggalkan Villa. Christy berhenti ditaman yang biasa dia
kunjungi saat dia akan berlatih berjalan bersama Alan.
Anisa melihat Christy yang menangis dan penuh semangat
bercampur emosi menggerakkan kakinya hingga terjatuh namun dia mampu bangun
kembali dan terus berlatih dihiasi air mata kekecewaannya. Christy menangis
tersedu-sedu saat dia terjatuh dirumput hijau Karena tak mampu berdiri dan
menggerakkan kakinya. Christy berfikir Alan akan meninggalkannya kalau dia
masih cacat seperti itu.
“AYOOO… ayooo kakiiii jaaaalannnnn”. Tangannya Nampak
berpegang erat dikursi rodanya airmatanya terus mengalir.
Anisa berniat untuk menyusul Christy namun Alan
menghalanginya.
“Dia sedang emosi, biarkan dia luapkan dengan sesuka
hatinya”.
“Tapi Al? aku tidak tega melihatnya terjatuh”.
“Dia wanita yang kuat aku yakin dia pasti bisa”.
Anisa dan Alan terus memperhatikan Christy yang emosinya
sudah mencapai ubun-ubun.
SKIP………………………………………………….
Nampak Christy yang duduk terdiam sendiri dibukit melihat
pemandangan dibawahnya yang sangat indah namun menyeramkan apabila tergelincir
kebawahnya. Emosinya tak kunjung reda dia mencoba menggerakkan kursi rodanya
meluncur dari bukit ke jurang yang sangat terjal itu.
“Chriss, apa yang mau kamu lakukan?”
“Jangan halangi aku”.
“Jangan Chris!”
“Kamu sengaja kan, Nis merencanakan kecelakaan itu hingga
membuat aku cacat seperti ini agar kamu bisa mengambil Alan dariku?”
“Aaaakuuuu akuu tidak sepicik itu Chris”.
“Alaaaahhh, jangan sok baik didepanku kalau dibelakangku
saja hatimu sangat busuk”.
“Kamuuu, kamuuu salah Chris, apa yang kamu lihat tidak
seperti apa yang kamu pikirkan sekarang”.
Tiba-tiba kursi roda Christy tergelincir dan jatuh kebawah,
untung Christy masih tersangkut ditangan Anisa yang memeganginya dengan erat.
“Christy… pegang tanganku, pegang yang erat”.
“Aku takut, Nis”. Sesekali menoleh kebawah melihat kursi rodanya yang tergelincir hingga remuk.
“Aku takut, Nis”. Sesekali menoleh kebawah melihat kursi rodanya yang tergelincir hingga remuk.
“Ayoo naik Chris… Ayoo, kamu pasti bisa!”
“Kakiku tidak bisa bergerak, Nis. Aku gak kuat”.
“Kamu pasti bisa Chris, kamu pasti bisa”.
“Tidak, Nis. Lepasin aku Nis, aku gak kuat, tanganku sakit…
lepas Nisa, lepasin”.
“Enggak Chris, aku gak akan pernah lepasin kamu”.
“Bukannya kamu ingin aku mati, Nis? Lepasiin aku”.
“Kamu salah Chris, kamu salah. Ayoo naik kamu pasti bisa”.
Dengan penuh
tenaga Christy menggerakkan kakinya dan
hasilnyaa???? Kakinya bisa bergerak dan akhirnya Christy mampu menopang
tubuhnya dengan kakinya hingga sampai diatas. Christy berdiri dan langsung
memeluk Anisa.
“Kamuuu….. lihat Chris, kamu bisa berdiri?”
“Haaaa,, kakiku.. aku sembuh, Nis aku sembuh”. Memandangi
kakinya yang berdiri tegak dan kembali memeluk Anisa yang tadi sempat ia lepas
sejenak.
“Nis, kenapa kamu menolong aku? Bukannya kalau aku mati
kamu bisa memiliki Alan?” melepas pelukkannya.
“Sejahat itukah aku dimata kamu, Chris? Mana mungkin aku
membiarkan sahabatku celaka didepan mataku? Aku lebih memilih untuk tidak bisa
memiliki Alan dari pada kehilangan sahabat sepertimu”.
“Maafin aku, aku sudah berprasangka buruk padamu, Nis”. Kembali
memeluk Anisa.
“Chris, kamu sekarang sudah mampu berjalankan? Dan seperti
harapanmu selama ini, kamu berjalan untuk tetap bersama Alan. Aku tidak akan
menghalangi itu”.
“Tidaak, Nis. Sebenarnya akulah yang berada diantara
kalian, kamu yang pantas buat Alan bukan aku, aku mohon Nis kembali sama Alan”.
“Aku gak bisa Chris, aku selama ini memang merasakan sakit
melihat kalian berdua, tapi aku tidak mau melukaimu, Chris. Aku berharap kalian
bisa sama-sama lagi”.
“Enggak Nis, Enggak, kamu mampu memendam rasa sakitmu demi
aku, kenapa aku tidak?! kalau salah satu diantara kita ada yang terluka karena
tidak mampu mendapatkan cintanya. Maka satunya lagi akan merasakan hal yang
sama. Kita sama-sama mencintai Alan kalaupun harus meninggalkannya, kita juga
harus sama-sama, Nis?”
Anisa memeluk erat Christy, mereka tenggelam dalam haru
hingga mengeluarkan air mata cantik dari mata indah mereka.
“Kalian disini? Aku khawatir. Christy??? Kamu bisa berdiri?”
Heran sekaligus bahagia melihat Christy.
“Iya Al, aku bisa berdiri, ini semua berkat Anisa”.
Melompat lompat kegirangan.
Anisa dan Christy lalu bertatap tatapan dan tiba-tiba
memeluk Alan secara bersamaan.
“Kamu bisa memilih diantara kita, hMmmm?” Tanya Christy
tersenyum.
“Aku atau Christy?” Saut Anisa.
Alan bingung dengan sikap mereka berdua yang tidak lagi
bertengkar malah senyum-senyum tanpa ada rasa sedih sedikitpun.
“Kaliaannn? Kalian serius mengatakan ini?” Tanya Alan yang
masih kebingungan.
“Yeeee GeEr, kita itu Cuma mau jadi sahabat kamu”. Jawab
Christy sembari mencubit perut Alan.
“AauUuuu,,,”. Alan berteriak.
“Yaa, Al. aku juga maunya jadi sahabat kamu”. Mencubit Alan
dan berlari bergandengan bersama Christy.
“Aauauuu…. Kaliaaannnn!” mengejar Anisa dan Christy sembari
bercanda jikalau berhasil menangkap mereka.
Akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk menjadi sahabat dan
janji Alan kepada mereka untuk selalu ada buat merekapun dapat ia tepati tanpa
melukai satu hati diantara mereka. Senyum canda tawa menghiasi persahabatan
Alan, Anisa dan Christy.
The End……
"cerita ini hanyalah fiktif belaka, jika ada kesamaan tempat, nama dan juga cerita adalah hanya kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan"
penulis : Isthie-Olivia-Offiziellen (@Istyii_Bvorzugt)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar